Isra Mi’raj dan Shalawat Tarhim

79
Ulama Mesir Shaikh Mahmoud Khalil Al Hussary, pelantun Sholawat Tarhim yang merdu jelang Subuh.

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand

Setiap mendengar shalawat tarhim, ingatan ku melayang pada peristiwa isra – mi’raj. Karena sesungguhnya shalawat yang sering diputar di masjid-masjid di tanah air itu menjelaskan peristiwa spiritual luar biasa. Ijinkan saya berbagi di sini, baik teks shalawat, terjemahannya dan refleksi saya:

Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk – Yâ imâmal mujâhidîn yâ Rasûlallâh
(Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu. Duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulallah)

Untuk mereka yang tengah berjuang menembus batas-batas kemampuan diri, bergabunglah bersama barisan Rasulullah, karena beliau SAW lah pemimpin kita semua

Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk – Yâ nâshiral hudâ yâ khayra khalqillâh
(Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu. Duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik)

Untuk mereka yang tengah mengais-ngais petunjuk ilahi di tumpukan sampah kehinaan diri, sapalah Rasul mu karena dia lah mahkluk terbaik yang akan menggenggam tangan mu menuju petunjuk ilahi

Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk- Yâ nâshiral haqqi yâ Rasûlallâh
(Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu. Duhai penolong kebenaran, ya Rasulallah)

Dan khusus untuk mereka yang tengah menerima berbagai cobaan, fitnah dan tuduhan sehingga kebenaran dijungkirbalikkan, dan kezhaliman malah dielu-elukan, sampaikanlah shalawat dan salam kepada pemimpin kita yang akan mengantarkan kita pada kebenaran hakiki

Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk – Yâ Man asrâ bikal muhayminu laylan nilta mâ nilta wal-anâmu niyâmu
(Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu. Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari. Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur)

Masuklah pada keheningan malam. Di saat gelap, cahaya ilahi itu akan lebih jelas terlihat. Ada yang terbangun, dan bangkit. Ada yang batinnya selalu terjaga meski raganya tengah terlelap. Ada yang memperoleh petunjuk ilahi di saat yang lain tidur setidur-tidurnya. Isra Nabi Muhammad telah dimulai

Wa taqaddamta lish-shalâti fashallâ kulu man fis-samâi wa antal imâmu
(Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu dan engkau menjadi imam)

Siapa yang membaca shalawat, seolah-olah mereka sedang sholat di belakang Nabi Muhammad. Mereka sedang bergabung dalam barisan para ruh suci dan para kekasih Allah. Barisan penduduk langit dan penghuni bumi menghadap Allah dengan Sang Nabi sebagai imam-nya. Bukankah kita bersedia menukar semua yang kita miliki hanya utk bisa ikut sholat bersama Nabi?

Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman wa sami’tan nidâ ‘alaykas salâm
(Engkau diberangkatkan ke Sidratul Muntaha karena kemuliaanmu. Dan engkau mendengar sapaan dari Allah: salam untuk mu)

Sampai di sini, tak ada kata-kata yang bisa menjelaskan Mi’raj sang Nabi. Air mata. Cuma air mata. Ketika Sang Khaliq menyapa Makhluk terbaikNya. Semua atribut keduniawian runtuh. Ketika nafsu dan ego kita lenyap, yang tampil hanyalah Allah. Maka Dia akan menjadi tangan kita, kaki kita, pendengaran dan penglihatan kita. Semua terjadi hanya karena ijinNya, maka tak penting lagi musibah atau anugerah; kemuliaan atau kehinaan diri.

Yâ karîmal akhlâq yâ Rasûlallâh Shallallâhu ‘alayka wa ‘alâ âlika wa ashhâbika ajma’în
(Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah. Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu, pada keluargamu dan sahabatmu)

Rasul menjadi mulia karena ber-akhlak dengan akhlak Allah. Saat kembali ke dunia, yang terlihat adalah ketinggian akhlak beliau. Maka dunia spiritual bukan soal keghaiban apalagi sekedar keajaiban. Ini soal akhlak yang dimulai pada keluarga dan sahabat kita, lantas menyebarlah pesona akhlak ke penjuru dunia. Isra Mi’raj harus mengingatkan kita kembali akan krisis akhlak yang tengah kita alami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here