Jejak Pesantren Tatar Sunda Pra Kemerdekaan : Kabupaten Subang

402
Masjid Pesantren Pagelaran III Subang

Di Kabupaten subang, pesantren yang tergolong tua adalah Pesantren Pagelaran yang didirikan tahun 1920 oleh K. H. Muhyidin. Pada awal pendiriannnya, Pesantren Pagelaran semula atas permintaaan Bupati Sumedang berada  di  daerah  Cimalaka  Sumedang,  namun  dalam  perjalanannnya  seiring dengan perkembangan yang ada, kemudian dengan banyaknya di antara santri- santrinya yang notabene selain berasal dari Sumedang juga banyak yang berasal dari daerah Subang dan Purwakarta maka berkembanglah cabang-cabangnya di sekitar daerah tersebut hingga terdapat Pesantren Pagelaran 1 sampai 8.

Dalam   perjuangannnya   membesarkan   Pesantren   Pagelaran   K.H. Muhyidin banyak dibantu oleh santri-santrinya yang sebenarnya layak disebut kiyai karena sebelum belajar kepada K. H. Muhyidin mereka umumnya pernah mesantren di pesantren lain. Tercatat di antara santri-santrinya itu adalah K. H. Ahmad Zarkasyi, Ajengan Muslim dari Pasanggrahan, Ajengan Bar’i dari Sindanglaya, K. H. Raden Shaleh dari Cisalak, Mualim Toha, Ajengan Fatah dan Ustad Dawam dari Sumedang. Di antara mereka kemudian banyak berperan di dalam menyampaikan dakwah Islam dan mendirikan pesantren di daerah masing- masing.

Kehadiran Pesantren Pagelaran   banyak membawa perubahan terhadap kehidupan   masyarakat.   Sebagai   contoh,   daerah   Cisalak   Subang   sebelum berdirinya Pesantren Pagelaran terkenal sebagai “daerah hitam”. Daerah ini merupakan daerah yang menjadi tempat berkembangnya praktik-praktik kemusyrikan. Selain itu, daerah ini pernah menjadi daerah basis komunis.  Namun dengan  berjalannnya  waktu  setelah  berdirinya  Pesantren  Pagelaran,  daerah Cisalak saat ini telah menjadi salah satu daerah daerah agamis di Kabupaten Subang.

Pada masa revolusi kemerdekaan, K. H. Muhyidin selain aktif membina dan mengelola Pesantren Pagelaran ia pernah aktif dalam ketentaraan Hizbullah sebagai  pimpinan.  Selain  itu,  ia  telah  berperan  dalam  perjuangan menentang agresi militer I dan II yang dilakukan Belanda. Begitu juga pada masa munculnya gerakan Darul Islam ia pernah aktif dalam menyukseskan kegiatan operasi pagar betis  di  Kecamatan  Cisalak.    Setelah  K. H.  Muhyidin  meninggal  dunia, perannya di Pesantren Pagelaran kemudian dilanjutkan oleh K. H. Oom Abdul Qoyim Muhyidin dan K. H. Dandi Sobron Muhyidin.

Previous articlePeran Kiyai dalam Percaturan Politik di Pilgub Jawa Barat
Next articlePelajar NU Perkuat Komitmen Kebangsaan
LTNNU Jawa Barat adalah salah satu lembaga di bawah naungan PWNU Jawa Barat yang membidangi publikasi, informasi dan komunikasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here