19.3 C
Bandung
Friday, May 27, 2022

Sebuah perkumpulan yang tak memiliki media, sama dengan perkumpulan buta tuli - KH Abdul Wahab Chasbullah

Must read

LTN NU Jabar
LTNNU Jawa Barat adalah salah satu lembaga di bawah naungan PWNU Jawa Barat yang membidangi publikasi, informasi dan komunikasi.

Kolaborasi Antargenerasi Kunci Membangun NU

Jakarta, NU Online – Ketua NU Care-LAZISNU Muhammad Wahib Emha mengatakan kunci membangun pelayanan sosial umat yang baik di Nahdlatul Ulama (NU) adalah kolaborasi antara generasi saat ini dengan generasi pendahulu.

“Kolaborasi antara generasi milenial dan kolonial sangat diperlukan dalam membangun layanan sosial yang lebih dekat dengan masyarakat. Karena milenial punya keahlian di teknologi,” jelasnya dalam acara Muktamar Talk Episode 8 dengan tema Membangun ekosistem layanan sosial Mabarrat NU, Selasa (21/12/2021).

Menurutnya, generasi kolonial memiliki rasa peduli dan perhatian sosial yang tinggi. Ketika ada musibah, mereka langsung eksekusi dengan cara tradisional. Sementara itu, generasi milenial dan generasi Z saat ini meskipun sedikit cuek, tapi memiliki kemampuan dalam teknologi. Mereka sangat mudah memahami sistem teknologi, sehingga dalam melakukan pelayanan sosial dan membantu orang lain lebih simpel.

“Jika di daerah perkotaan, kita pakai model generasi milineal yang bisa dengan mudah melakukan sedang dan infaq lewat aplikasi. Semudah mereka main game. Tidak dor to dor,” imbuhnya.

Dikatakan, cara tradisional dibutuhkan di masyarakat yang tidak terlalu paham teknologi. Cara ini masih masif, koin untuk Muktamar ke-34 dan koin untuk NU menggunakan model ini mendapatkan donasi banyak.

Bagi kelompok ini, cara ini lebih mudah dari pada harus belajar memahami teknologi. Sehingga, dalam praktek di lapangan, cara kolonial dan milenial tetap dipakai sesuai sasaran pelayanan sosial.

“NU punya kekuatan yang luar biasa, tidak dimiliki organisasi lain yaitu kekuatan sosial. Cara tradisional yaitu koin untuk NU. Cara ini masih efektif untuk bangun kampus, bantuan bencana dan lainnya,” tambah Wahib

Sementara itu, Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim (LPBI) Ali Yusuf menambahkan NU harus memanfaatkan teknologi sebagai kendaraan untuk melakukan hal baik. Semisal memanfaatkan teknologi untuk memudahkan infaq shadaqah. Rata-rata generasi muda ingin serba mudah dan tidak bertele-tele.

Oleh karenanya, momentum Muktamar ke-34 NU bisa dijadikan titik mengsingkronkan kekuatan antara generasi kolonial, milineal, generasi Z dan alpha.  Generasi kolonial karena empatinya kuat maka langsung eksekusi, generasi milenial mahir di teknologi lalu buat aplikasi atau pelayanan online, sehingga bantuan lebih cepat hadir ke masyarakat. 

“Ingin NU benar-benar hadir di tengah masyarakat. Menghadirkan Jam’iyyah kepada jama’ah. Bonus demografi dan perubahan iklim harus difokuskan. NU harus bisa memadu anak muda untuk estafet kepemimpinan organisasi,” pintanya.

Ia juga meminta NU terbuka dengan hal baru di luar NU yang baik dan mempertahankan tradisi bagus yang sudah berjalan. Terpenting, NU harus memiliki kemauan untuk belajar. Meskipun NU organisasi terbesar, kalau tidak ada inovasi dan kreativitas maka bisa tertinggal. 

“Kita tidak perlu elergi belajar ke pihak lain. Hari ini yang terpenting adalah kolaborasi. Kolaborasi di internal NU, saling mendukung. Kolaborasi dengan luar NU juga. Kita harus belajar mengelola potensi sosial NU. Belajar dari mana saja,” tandasnya.


Kontributor: Syarif Abdurrahman
​​​​​​​Editor: Kendi Setiawan

SourceNU Online

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article