The news is by your side.

Mbah Ud

Mbah Ud | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

KH. Ali Mas’ud atau biasa yang dipanggil mbah Ali Mas’ud atau biasa juga dipanggil gus Ud atau biasa juga dikenal dengan mbah Ud merupakan seorang tokoh agama yang memiliki jasa sangat besar dalam membantu masyarakat yang mengalami masalah atau problem kehidupan.

Pada umumnya, masalah persoalan yang terjadi di kehidupan sehari-hari seperti masalah ekonomi, masalah pribadi, usaha, dan lain sebagainya. Ali Mas’ud dikenal masyarakat karena kelebihan yang beliau miliki yang tidak dimiliki oleh manusia biasa pada umumnya yaitu kelebihan yang diberikan Allah SWT. Beliau sering kali di minta bantuan doa oleh masyarakat untuk mengatasi problem kehidupan. Masyarakat yakin bahwa orang yang memiliki kelebihan doanya mustajab atau terkabul karena dekat dengan Allah SWT.

Nama Ali Mas’ud pada awalnya adalah Mas’ud saja. Nama Ali di
depan nama Mas’ud adalah nama yang ditambahkan setelah beliau
menunaikan rukun Islam yang ke lima yakni haji. Sejak itulah nama beliau menjadi KH. Ali Mas’ud.


Follow Channel LTNNU Jabar di Whatsapp untuk mendapatkan update artikel terbaru. Klik Link ini >> Channel LTNNU Jabar


 

KH. Ali Mas’ud dilahirkan di Pondok Pesantren Sono desa Sidokerto kecamatan Buduran Sidoarjo. Tanggal dan tahun kelahiran beliau tidak diketahui secara pasti. Diperkirakan lahir sekitar tahun 1903.

Mbah Ud | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

Beliau putra kedua dari tiga bersaudara yang terlahir dari pasangan Kiai. Sa’id dan Nyai Hj. Fatimah. Ayahnya berasal dari Desa Sono kecamatan Buduran Sidoarjo. Ayahnya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Sono Sidokerto Kecamatan Buduran Sidoarjo. Sedangkan ibunya berasal dari daerah Kedung Cangkring Sidoarjo. Ali Mas’ud mempunyai dua saudara kandung (1 perempuan dan 1 laki-laki) yaitu:
1. Saudara tertua yang bernama Nyai Masrifah.
2. Saudara termuda yang bernama Gus Mahfudz.

Ali Mas’ud masih memiliki keturunan dengan sunan Syarif Hidayatullah
jika di lihat dari garis keturunan beliau.

Pada saat kecil, Ali Mas’ud berada di Pondok Pesantren Sono Sidokerto Kecamatan Buduran yang didirikan oleh kakeknya yaitu Kiai Muhayyin. Suatu ketika kedua orang tuanya bercerai yang mengakibatkan Ali Mas’ud ikut dengan ibunya tinggal di tempat kakaknya di Desa Pagerwojo Kecamatan Buduran Sidoarjo.

Jika disebut nama Ali Mas’ud atau Gus Ud, orang yang pernah bergaul dengan beliau akan teringat dengan sosok beliau yang bertubuh kecil dan pribadi yang sederhana, namun memiliki sikap yang tegas dan bijaksana.

Beliau tidak pernah berbicara apabila yang dibicarakan itu tidak perlu dibicarakan. Hal ini dikarena beliau selalu dalam keadaan berdzikir dan seluruh tubuh beliau selalu berdzikir kepada Allah SWT. Sehingga pembicaraan yang tidak ada tujuan dan tidak mengandung manfaat, beliau tidak pernah melakukannya. Kegemaran beliau adalah seni hadrah atau yang biasa dikenal dengan banjari.

Ali Mas’ud suka berkumpul dengan masyarakat yang membawa nilai kebaikan dan ibadah kepada Allah SWT serta yang membawa manfaat di dunia mapun di akhirat. Seperti seni hadrah, acara haul, pengajian agama dan lain sebagainya. Beliau tidak pernah ikut dalam perkumpulan yang di dalam perkumpulan tersebut banyak membawa kemudharatan dan tidak memiliki manfaat yang jelas.

Beliau meninggal di Sidoarjo pada hari selasa pahing tanggal 10 Juni 1980 yang bertepatan dengan tanggal 26 Rajab 1401 H dan
dimakamkan pada hari Rabu Pon pada tanggal 11 Juni 1980 yang
bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1401 H di pemakaman umum Desa Pagerwojo Sidoarjo.

Pada proses pemakaman Ali Mas’ud akan dimakamkan, sempat terjadi perebutan tempat persemayaman terakhir beliau yakni antara keluarga Nyai Dewi, Keluarga besar Ali Mas’ud itu sendiri dan keluarga bu Ning yang berasal dari Kedung Cangkring. Karena tidak menemukan kesepakatan, maka disetujui untuk memohon fatwa dari Kiai Hamid Pasuruan dan beliau memutuskan bahwa Ali Mas’ud disemayamkan di sisi makam ibunya yaitu di pemakaman umum Desa Pagerwojo.

Adapun fatwa dari Kiai Hamid pada waktu itu adalah, “Ibu mu, ibu mu, ibu mu”. Sehingga pada akhirnya dimakamkan disamping ibunya di Desa Pagerwojo atas perintah dari kiai Hamid.

Disaat beliau meninggal, para takziah yang hadir pada waktu itu kurang lebih mencapai ratusan ribu orang. Sehingga jalan mulai dari rumah duka di Dalem Sidoarjo hingga di pemakaman Desa Pagerwojo penuh dengan pengunjung yang bertakziah.

Semenjak itulah Desa Pagerwojo yang dulu terbelakang mengalami kemajuan dengan banyaknya peziarah mengunjungi makam Mbah Ud. Mantan presiden Republik Indonesia KH. Abdurahman Wahid, juga penceramah kondang KH. Zainuddin MZ pun pernah singgah dan berziarah ke makam beliau.

Masyarakat Desa Pagerwojo dan masyarakat umum meyakini bahwa beliau adalah salah satu walinya Allah SWT. Beliau sangat dihormati oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya karena ketekunan beliau dalam meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kaum muslim kepada Allah SWT.

Berbagai macam cara beliau lakukan untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa Allah itu maha Esa, dan Maha segalanya. Salah satu cara yang beliau lakukan untuk membuktikannya kepada masyarakat adalah membantu masyarakat yang membutuhkan doa dan pertolongan beliau melalui kelebihan yang beliau miliki.

Kelebihan yang dimiliki Ali Mas’ud merupakan kelebihan yang mutlak datang dari Allah SWT. Dimana karomah beliau meliputi hal-hal yang bersifat musyahadah (nyata) dan tersembunyi. Ali Mas’ud hanyalah sebatas pemberi bantuan kepada masyarakat yang memerlukan beliau melalui doanya.

Dapatkan buku :
Mbah Ud : Riwayat Hayat KH. Ali Mas’ud Pagerwojo
Tebal : 310 halaman
Harga : 75.000
Pemesanan : 0857-3331-1146 (Whatsapp)
Reseller hubungi kontak pemesanan

Leave A Reply

Your email address will not be published.