The news is by your side.

Mengenal Tokoh Utama Akar Geneologis NU Banten

Akhmad Basuni, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah GP. Ansor Prov. Banten – Kehadiran NU sesungguhnya membendung arus pemikiran politik keagaamaan dan politik dunia Islam kala itu. Pada tahun 1924 di Arab Saudi sedang terjadi arus pembaharuan. oleh Syarif Husein, Raja Hijaz (Makkah) yang berpaham Sunni ditaklukan oleh Abdul Aziz bin Saud yang beraliran Wahabi. Pembaharuan ala Wahabi ini kemudian berekspansi kenusantara, dan pada akhirnya bersentuhan dengan pemahaman islam yang berkembang mengakar di Nusantara yaitu pemahaman islam sunni Asyariah-Maturidiyah dalam aqidah, bidang fiqh mengakomodir 4 mazhab mut’abar, dan terakhir bertasauf menganut dasar-dasar ajaran Imam Abu Qosim Al-Junaidi. Pemahaman ala Wahabi di Indoensia d disambut oleh kelompok yang mendaulat dirinya sebagai kaum modernis. Dari itu kelompok ini menuduh dan mencibir kelompok santri sebagai kelompok Islam tradisionalis sealigus ortodok, bahkan Deliar Nur menyebut kaum tradisionalis identik dengan tahlil, tahayul dan kuburan.

Dari gencarnya serangan terhadap tradisi keislaman tradisional tersebut, santri-santri Syeikh Nawawi al-Bantani yang diemong langsung oleh Syeikh Nawawi kala di Mekah, dan Kembali ke Nusantara, mereka mengundang segenap santri alumni tersebut untuk membahas hal-hal urgent diantaranhya akan bermusyawarah bagaimana menyelamatkan kitab – kitab kuning (klasik) khususnya, dan kitab – kitab ahlus sunnah wal jamaah pada umumnya.Dan tradisi keislaman yang berbaur dengan budaya local dan tidak bertentangan dengan ushuluddin.

Pada saat itu dari Banten Hadir antara lain kiyai mas Abdurrahman yang kebetulan saat itu ia mewakili jamaah Mat ‘laul Anwar. KH. Mas Abdurrahman adalah putra kiyai Mas Djamal al – Djanakawi yang lahir pada tahun 1868 M di kampung Janaka, tepatnya di lereng Gunung Haseupan Pandeglang Banten. Ayahnya K. Mas Djamal al – Djanakawi adalah keturunan Mas Jong dan Agus Ju yang pergi meninggalkan istana menuju lereng gunung Haseupan dalam rangka bergerilya menyusun kekuatan melawan penjajah Belanda.

Kiyai Mas Abdurrahman pernah berguru kepada KH. Sahib di kampung Kadu Pinang, KH. Ma ‘mun Serang, Syeikh Asnawi Caringin, syeikh Nawawi al – Bantani dan Syeikh Ahmad Khatib al – Minangkabawi. Ia kembali dari Makkah pada tahun 1910 M. Kiyai Mas Abdurrahman adalah teman seangkatan Syeikh Hasyim Asy’ ari Tebu ireng Jawa Timur, sesama murid syeikh Nawawi Albantani.

Pertemuan tersebut memutuskan diantaranya sebagai berikut, membentuk dan mendirikan Jami’ ah Nahdlatul Ulama (NU), dan bagi yang sudah memiliki nama lembaga ditambahkan linahdlotil ulama, atau Jami ‘ah Nahdlatul Ulama, seperti Jauharotun Naqiyah di Cibeber, al – Khaeriyah Citangkil, dan Nurul Falah di Petir.

Pembentukan NU dan penambahan Nama Math’ ul Anwar linahdlotil ulama dipertanggungjawabkan kepada HB (hoofd Bistir/pengurus Besar) Mat’laul Anwar di Menes.

Di antara ulama Mat ‘laul Anwar saat itu adalah KH. Saiman (Sulaiman) Cibinglu Menes, KH. Ma’ mun Labuan, KH. Muniran Munjul, KH. Abbas Cibaliung, KH. Habri bin KH. Abdurrahman Bahrul Ulum, KH. Ali Husen Mandalawangi, KH. Rd. Sugiri Mandalawangi, KH. Med dan KH Ghozali Petir, dan KH. Halimi Ciherang.

Pada muktamar NU di Malang ke 12 tahun 1937, KH. E. Muhammad Yasin yang diteruskan menantunya, KH. Tb. M. Rusydi bin KH. Tb. Arsyad di tunjuk untuk menyelenggarakan muktamar NU ke 13 tahun 1938 di Menes.

Pada saat NU melaksanakan muktamar di Palembang pada tahun 1952 tiga tokoh ulama Banten yang hadir KH. Amin Djasuta serang, KH. Ayip Muhammad Dzuhri(menantu KH. Tb Ahmad Khotib), dan KH. Uwes Abu Bakar yang saat itu juga menjabat ketua NU Banten.

Salah satu keputusan muktamar Palembang diantaranya NU menyatakan keluar dari Masyumi. Semua urusan Banten menerima dan menyetujuinya kecuali KH. Amin Jasuta yang menolak dan akhirnya ia pindah ke Jami ‘atul Wasliyah yang berpusat di Kota Medan.

Namun, pada perkembangannya KH. Uwes Abu bakar menghapus Linahdlotil Ulama, meskipun demikian para ulama Menes setelah Bahrul Ulum yaitu KH. M. Abdul Latief Nanggorak Menes dan Alumni Al-Azhar KH. Zunaedi bin KH. E. Muhammad Yasin tetap meneruskan Mat ‘laul Anwar linahdlotil Ulama dengan dukungan para ulama dan kiyai tidak kurang dari 80 %.

Sejak saat itu, KH. Uyeh Balukiya Syuja’ I melanjutkan Mat ‘laul Anwar terlepas dari NU. Sedangkan KH. Abdul Latief dan KH. M. Junaedi bin KH. E. Muhammad Yasin melanjutkan Mat’laul Anwar linahdlotil Ulama dengan mengangkat Rais’ Am KH. Tb. Abdul Mu’thi dan KH. Ihya (perintis kemerdekaan yang pernah dibuang ke Digul bersama KH. Tb. Ahmad Khotib).

Para ulama inilah yang terus menyambungkan dan menghubungkan dengan jejaring ulama dan sanad keilmuan aswaja serta menjaga silaturahmi dengan ulama – ulama santri syeikh Nawawi Albantani dan penerusnya khusus di Banten, seperti Abuya Dimyati.

Sumber referensi : Masterpiece Islam Nusantara sanad dan Jejaring Ulama – Santri 1830 – 1945)

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.