Menyoal Pemimpin Ki Sunda “Maung Masagi”

18

Ditinjau dari kuantitasnya etnis sunda merupakan etnis terbesar setelah Jawa, dengan jati diri Ki Sunda yang secara historis berakar dari masa lampau yang bertitik tolak dari masa kerajaan. Jati diri itu ditunjukkan oleh karakter yang tercermin dalam budaya kekuasaan, budaya kepemimpinan, dan budaya hidup pribadi dan bermasyarakat. Jika melihat masa kerajaan di Tatar Sunda berlangsung sangat lama, lebih-kurang 13 abad (pertengahan abad ke-4 sampai dengan akhir abad ke-16), maka tidak aneh jika jati diri Ki Sunda pun mengakar dengan kuat. Akan tetapi dalam perjalanan sejarah Ki Sunda, jati diri itu cenderung berangsur-angsur luntur bahkan sekarang dikhawatirkan jika banyak orang Sunda yang terkesan kehilangan jati diri.

Menarik dicermati jika dalam kehidupan sosial-budaya dimasyarakat sunda saat ini sebagai kritik kepemimpinan dari banyak ahli dan literatur pada dua kalimat yang selalu digunakan, yaitu Mangga ti payun (silahkan didepan), artinya kalimat tersebut mengandung sifat rendah hati (Tawadu). Mangga ti payun bukan berarti tidak mumpuni dalam memimpin, namun ia cukup berilmu luhung, cakap dalam memimpin, dan tidak menyombongkan diri. Maka ada kelemahan dalam kalimat tersebut jika diterapkan dalam kepemimpinan nasional, sehingga dari awal kemerdekaan sampai saat ini, belum ada orang sunda yang menduduki singgasana RI 1, karena dengan filosofi tersebut, orang sunda lebih memberikan kepada orang diluar sunda untuk memimpin negeri ini.

Adapun kalimat yang kedua, Punten ka payunan, ketika dimaknai dengan konotasi yang positifnya adalah berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khoirot) dan yang kedua jika berkonotasi negatif, yakni ambisius. Seiring arus zaman yang makin cepat, maka seyogyanya ki sunda menerapkan kalimat Punten ka payunan dalam konotasi positif, dalam rangka memimpin didalam kandang Jawa Barat atau Gubernur, maupun diluar kandang atau Nasional jadi wakil rakyat ataupun jadi Presiden. Namun acapkali yang nampak adalah Punten ka payunan dalam konotasi negatif (ambisius), sehingga syahwat kekuasaan yang dikedepankan.

Hal aneh justru perkembangannya dalam dunia politik, jika masyarakat Sunda cenderung menunjukkan sikap pesimis terhadap masa depan partisipasi dan kepemimpinan di bidang politik dari masyarakat Sunda. Dengan kata lain, sangat sulit untuk diharapkan tampilnya sosok pemimpin politik dari kalangan masyarakat Sunda yang didukung oleh masyarakatnya itu sendiri. Sebuah optimisme keyakinan yang harus dilakukan oleh orang Sunda sekarang adalah bagaimana menumbuhkan jiwa ksatria pada diri sendiri. Sehingga, berani tampil agresif, menawarkan konsep dan menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Dan memiliki pemahaman ajaran agama dengan interpretasi yang modern, karena sejatinya menjadi pemimpin adalah amanah sehingga ia harus sanggup menjaga, melindungi, dan melestarikan masyarakat dan lingkungannya dengan baik.

Alhasil setiap Ki Sunda pada masa yang berbeda, harus menguasai budaya dan kearifan Sunda. Bukan hanya menguasainya, bahkan menjaga dan melestarikannya. Jika saja dulu kesundaan dijaga dan dilestarikan oleh Raja Sunda di Galuh, yakni Prabu Linggabuana dan Prabu Niskala Wastukencana. Kemudian dilanjutkan oleh Raja Sunda di Pajajaran, yakni Prabu Siliwangi dan kelak oleh puteranya, Prabu Kian Santang. Maka kini kesundaan kembali harus dijaga dan dihidupkan kembali oleh pemimpin Sunda saat ini, namun mencari figur Ki sunda yang cocok saat ini tidaklah mudah.

Representasi Pemimpin Sunda Modern

Pemimpin yang dibutuhkan saat ini adalah karakter orang Sunda dimaksud melekat pada seorang pemimpin sebagai Maung Masagi (manusia unggul dan masagi) ki Sunda yang ulet dan tangguh, yang bisa melahirkan konsepsi ketahanan pribadi,daerah atau nasional. Pemimpin ki Sunda yang memiliki nilai “Panca Jatidiri Insan”, yang meliputi pengkuh agamana (Spiritual Quotient), Luhung elmuna (Intellegence Quotient), Jembar Budayana (Emotional Quotient), Rancage Gawena (Adversity Quotient) (Suryalaga dalam Sudaryat;2014), ditambah tesis penulis dengan Motekar (Creativty Quoetient).

Sejatinya karakter pemimpin itu harus Pengkuh agamana yaitu sosok pemimpin yang memiliki keimanan dan ketakwaan (imtak); Luhung elmuna yaitu sosok pemimpin yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan memiliki daya saing tinggi, Jembar budayana yaitu sosok Pemimpin yang “tidak gagap budaya”, tidak kehilangan jati diri, dan memegang teguh prinsip pribadinya; Rancage gawena yaitu Sosok Pemimpin yang berprestasi, berprilaku aktif, mampu  mengimplementasikan berbagai keadaan dengan baik, ngigelan jeung ngigel keun jaman. Dan Motekar yaitu Pemimpin yang memiliki  kegigihan, kreatif dan banyak akal, keinginan untuk bekerja keras, bermimpi, berkarya, berkreatifitas, dan berusaha terus menerus untuk menjadi pribadi yang produktif sehingga berguna bagi diri dan masyarakat.

Manusia MASAGI adalah filosofi Sunda yang singkat padat dan jelas, tetapi memiliki makna yang mendalam. “Jelema Masagi” (Natawisastra, 1979:14, Hidayat, 2005:219). Yang artinya orang yang memiliki banyak kemampuan dan tidak ada kekurangan. Masagi berasal dari kata pasagi (persegi) yang artinya menyerupai (bentuk) persegi. Seseorang yang masagi adalah pribadi nyata sebagai manusia berbudaya yang memiliki kemampuan untuk belajar merasakan (Surti), belajar memahami (Harti), belajar melakukan (Bukti), dan belajar hidup bersama (Bakti).

Dan wujud sosok MAUNG ki Sunda yang Masagi akan tercapai dalam diri pemimpin yang ditandai oleh sifat-sifat unggul yaitu: Cageur , pemimpin harus sehat fisik dan psikhisnya; Bageur dimana seorang pemimpin yang hidupnya selalu taat hukum, baik hukum agama, hukum positif, maupun hukum adat; Bener dimana seorang pemimpin yang jelas tujuan hidupnya, beriman dan bertakwa, memiliki visi dan misi yang baik dan terukur; Pinter dimana seorang pemimpin yang berilmu, berprestasi, arif, bijaksana, serta mampu mengatasi berbagai masalah dengan baik dan benar; Singer dimana seorang pemimpin yang proaktif, beretos kerja tinggi, terampil dan berprestasi; Teger dimana seorang pemimpin yang kuat hati, teguh, tangguh, dan tidak mudah putus asa; Pangger dimana seorang pemimpin yang teguh dan berpendirian kuat, tidak mudah tergoda; dan pelajar harus Beleger dimana seorang pemimpin yang jujur, adil, amanah, mampu memegang kepercayaan yang diterima dirinya, juga harus harmonis dan kooperatif (Sareundeuk saigel sabobot sapihanéan, sabata sarimbagan).

Kiprah pemimpin dalam kehidupan nyata yang dibutuhkan saat ini adalah memberikan ketauladanan berperilaku dengan memiliki nilai-nilai luhur yang dimiliki Bangsa Indonesia. Hal penting lainnya ki Sunda di mana pun berada harus mampu menunjukkan jati dirinya yang silih asah, silih asih, silih asuh sebagaimana salah satu ajaran mulia Ki Sunda yakni ajaran kasih sayang yang menyebutkan setiap warga itu kudu nulung kanu butuh nalang kanu susah, nganteur kanu sieun, nyaangan kanu poekeun, jeung welasan asihan deudeuhan. Tentunya butuh upaya mengembalikan identitas sekaligus kewibawaan orang Sunda, tak lepas dari kecintaanya terhadap tanah Sunda sekaligus refleksi dari sense of belonging (rasa memiliki) yang sudah di wariskan oleh para leluhur terdahulu.

Sehingga spirit itu dia tempuh walau harus berliku bahkan bertarung dengan derasnya laju modernisasi yang menjadi penunjang kemajuan, sekaligus hambatan peradaban terjaganya budaya Sunda itu sendiri. Artinya sebagai seorang pemimpin dalam kelompok masyarakat Sunda harus bisa menampilkan dua sosok sekaligus yaitu representasi pemimpin sunda di tengah era modern dan didisisi lain adalah seorang pemimpin modern dengan visi yang cukup cerdas tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya sunda tentunya dengan mekanisme kontrol kualitas khas Sunda, yaitu Tong Ngerakeun.

Previous articleTALIBAN, TERORISME DAN PENJAJAHAN AMERIKA
Next articleIDE SATU KHALIFAH YANG MEMBAWA PENGGILANYA MENJADI GILA PERANG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here