Pangestune Sopir

95

Pangestune SopirKyai Mu’adz Thohir jelas tidak gawok saat tamu saya pamit sambil bilang,

“Pangestunipun (mohon restunya), Gus”.

Yah, begitulah… dia minta pangestu saya.

“Jangan tergesa-gesa besar kepala”, kata Kyai Mu’adz, “sampeyan masih kalah jauh dari sopirnya Kyai Sahal”.

“Kok bisa?” saya setengah tak terima.

“Yang minta pangestu sampeyan paling cuma orang-orang kampung macam tadi. Mana pernah ada kyai minta pangestu sampeyan?”

“Memangnya sopirnya Mbah Sahal gimana?”

“Kyai Sahal itu setiap bepergian melewati Tuban, hampir selalu minta sopirnya: PANGESTUNE  yo, Kang…” (Pangestune yang ini adalah sebuah restoran di jalan raya Semarang-Tuban)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here