PERGUNU Indramayu Nyatakan Lima Sikap Terhadap Rencana People Power

25

Menjelang penentuan  hasil akhir Pilpres 2019 oleh KPU Republik Indonesia, terdengar santer  tentang  pernyataan  adanya People Power yang akan dilaksanakan pada tanggal 22 besok,  untuk itu Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kabupaten Indramayu  mendeklarasikan lima sikap terhadap People Power,  yang bertempat di Pondok Pesantren Darul-Ma’arif Legok Kecamatan Lohbener, Senin (20/5).

Ketua Pergunu Kabupaten Indramayu KH. Munaji didampingi seluruh pengurus Pergunu dihadapan media menegaskan  bahwa penyelenggaraan Pemilu 2019 harus dikawal dengan baik dan santun.

“Secara resmi kami menyayangkan adanya isu People Power,  karena isu tersebut sangat berpengaruh negatif bagi kalangan masyarakat yang hanya mendapatkan informasi sepihak, seharusnya jika ada ketidakpuasan terhadap penyelenggara Pemilu, maka harus dibuktikan secara kongkrit serta mengajukannya kepada pihak yang lebih berwenang, dan jika ada kesalahan, maka ditempat Pemungutan suara akan dilakukan pemilihan suara ulang (PSU) sehingga demokrasi akan tetap berjalan sebagaimana mestinya, “Ungkapnya.

Dihadapan masa yang hadir, lima poin Deklarasi pernyataan sikap dari pergunu Kabupaten Indramayu dibacakan oleh  Tasdik Sujami

“1. Pergunu Kabupaten Indramayu berterima kasih kepada segenap penyelenggara pemilu, khususnya KPU dan Bawaslu, serta para pihak pengamanan  negara seperti TNI dan Polri yang telah bekerja secara maksimal melaksanakan berbagai tahapan pemilu hingga mencapai proses rekapitulasi.

  1. Mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga persatuan dan keutuhan NKRI pasca pemilu.
  2. Adanya kelemahan dibeberapa aspek penyelenggara pemilu, merupakan hal yang harus dibenahi bersama secara kolektif kelembagaan dan kebangsaan,  dengan sikap dewasa, jernih, cermat serta bijaksana.
  3. Menjaga bersama kedewasaan berdemokrasi dengan menghargai proses dan menunggu keputusan final dari penyelenggara Pemilu (KPU).
  4. Menolak adanya gerakan-gerakan  kurang produktif yang mengarah pada inkonstitusional (People Power), termasuk gerakan massa yang dibangun atas dasar emòsional dan bukan atas nama kecintaan kepada bangsa dan negara Republik Indonesia, “Tegasnya.

Setelah Deklarasi selesai  dilanjutkan denggan pembacaan doa bersama untuk Indonesia serta ditutup dengan berbuka puasa dan sholat tarowih bersama. Dalam deklarasi tersebut turut dihadiri jajaran guru dan kepala sekolah NU se-Kabupaten Indramayu, Keluarga besar keraton  kasepuhan Cirebon, badan otonom (Banom)  serta lembaga yang berada pada naungan PCNU Kabupaten Indramayu, dan ratusan  masyarakat dari desa sekitar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here