Politik-politik yang Merumitkan Keadaan
Penulis Edi Wahyu*) – Mengapa kini banyak orang yang tega ‘menjual’ dengan harga yang murah?
Di antara pendorong besarnya ialah syahwat kekuasaan. Agama lalu dipolitisasi dan diideologisasi. Seluruh disiplin keilmuan yang telah membuat kita sebegini majunya, menjadi babak belur “diperkosa” hasrat-hasrat politisi tersebut.
Berpolitik jelas hal yang sahih belaka. Politik membantu kita dalam mengelola tata hidup suatu masyarakat bangsa dan negara. Tanpa politik, perkara kemajemukan masyarakat juga akan menuai masalah-masalahnya.
Bagaimana mungkin ada praktisi politik yang hari ini dengan tahun lalu berbeda gerakan politiknya hanya karena ia sedang berada di dalam lingkaran istana atau tidak? Bagaimana mungkin sikap politik yang lahir dari kedalaman rohani dan paradigma untuk menata kelola kehidupan majemuk bangsa ini bisa berubah-ubah begitu terjalnya bergantung pada suatu persis elektoral? Bagaimana mungkin dulu kita mengkritik suatu kelompok atas nama keadilan ekonomis, misal, lalu kini tertawa semeja dalam koalisi politik untuk mengegolkan kepentingan politik yang telah terkompromikan.
Ini jelas panorama yang memilukan hati. Marwah politik kok jadi terkerucut pada adigium begini : tidak ada kawan atau musuh abadi dalam dinamika politik, sebab yang ada hanyalah kepentingan politik.
Pada kalangan aktivis politik yang begitu, kita bisa ajukan pertanyaan memohok : dikemanakan Marwah rohaninya, Pak, Bu? Dikemanakan denyar-denyar Vox populi Vox dei ( Suara Rakyat, Suara Tuhan ) Yang diumbulkan ke khalayak selama ini? Di kemanakan ajaran-ajaran ‘politik’ yang merupakan landasan bagi praktik perpolitikan dan tata kelola kemasyarakatan kita?
Semua nilai esensial, hakiki, dan rohaniah Itu telah ditukar dengan politik dagang sapi
alias bagi-bagi jatah kekuasaan, ekonomi, dan status sosial. Nurani entah tercampak ke mana. Rohani entah tertinggal di mana. Dan narasi-narasi kemanusiaan, keadilan, kemaslahatan hanyalah serpih-serpih pepesan kosong yang aromanya sangat tak sedap.
Tulisan ini dikutip dari buku Tuhan Maha Slow karya Edi Wahyu