Sahabat, “Aku Mau Khusn al-Khotimah”

267

By: M. Mangkoesorga

Sahabat, "Aku Mau Khusn al-Khotimah"Sahabat adalah istilah untuk seseorang yg selalu melekatkan diri satu sama lain, sehingga kedua pihak saling merindukan. Istilah ini digunakan untuk seseorang yg pernah hidup, bertemu dengan Nabi, dan mengaku beriman. Ketiga syarat itu mutlak. Kendati mereka beriman dan hidup sezaman dengan Nabi, namun tidak bertemu secara fisik, maka tidak disebut sahabat.

So, istilah itu sangat sakral. Tidak ada dusta di antaranya, tidak ada kerumitan di antaranya, dan tidak ada persaingan di antaranya, kecuali dalam beribadah. Boleh saling cemburu dalam beribadah, fastabik al-khoyrot, berlomba dalam kebaikan.

Iklan Layanan Masyarakat

Sementara itu, bukan persahabatan, jika mereka merasa dirinya paling unggul dan paling ‘alim serta paling suci, an-Najm (53):32

فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ

… maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلا يُظْلَمُونَ فَتِيلا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun. (An-Nisa 49)

Merasa paling bersih menunjukkan kesombongan, sehingga orang lain dikerdilkan. Hal itu bukan sifat seorang sahabat. Sedangkan Nabi yg ma’shum menerima umat yg memenuhi tiga kriteria tersebut.

Imam Jalaluddin as-Suyuti dalam Jalalayn mengungkap, ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang telah mengatakan, salat kami, shaum kami dan haji.

Sementara Allah-lah yg menciptakan bapak moyang kalian yaitu Adam dari tanah dan ketika kalian masih berupa janin lafal Ajinnatin adalah bentuk jamak dari lafal Jani_n (dalam perut ibu), maka janganlah kalian mengatakan diri kalian suci serta janganlah memuji-muji diri sendiri dengan cara ujub atau takabur, tetapi bila kalian melakukannya dengan cara mengakui nikmat Allah, maka hal ini dianggap baik.

Ibnu Katsir juga memaknai ayat fala_tuzaku_… yaitu memuji diri sendiri dan merasa besar diri serta membanggakan amal sendiri. Juga memuji orang lain secara berlebihan, seperti dikisahkan berdasarkan asbab an-nuzul ayat. Pernah ada seseorang memuji (Musnad lmam Ahmad) seorang lelaki di hadapan Nabi, maka Rasulullah bersabda: Celakalah engkau, engkau telah mematahkan leher temanmu berkali-kali. Apabila seseorang di antara kalian terpaksa memuji temannya, hendaklah ia mengatakan, “Kulihat si Fulan hanya Allah-lah yang mengetahui sebenarnya, aku tidak membersihkan seseorang pun terhadap Allah, kulihat dia adalah seorang yang anu dan anu, “jika memang dia mengetahuinya.”

Kembali pada makna persahabatan yg tidak banyak orang tahu, meski sering mengucapkannya. Sahabat, satu kata dari bahasa Arab الصحابه

Kata itu, kini bukan hanya milik kalangan Muslim,sudah menjadi kosa kata umum. Magis dari kata sahabat adalah sebagai perekat antar-manusia yg mempunyai visi dan misi yg sama, yaitu fitroh. Bagi yg beriman bidikannya adalah fitroh di_n al-lsla_m (baca dinul lslam). Sementara itu, bagi yg bukan lslam fitrohnya bermacam-macam. Ada fitroh kebangsaan, ada pula fitroh persepakolaan.

Bidikan dari makna sahabat adalah “saling membantu atau menolong, jika satu pihak ada yg terancam.”
Teringat seseorang yg bersahabat dalam arti yg sesungguhnya. Fulan adalah ahli ibadah yg bersahabat dengan seseorang yg bukan ahli ibadah. Jangankan sholat berjemaah di mesjid. Saat di rumah pun sering tidak ada waktu untuk sholat. Hidupnya pas-pasan, bahkan sering kekurangan.

Suatu saat fulan yg ahli ibadah bermimpi umroh berdua dengan sahabatnya tersebut. Segera beritahukan ke ulama perihal mimpinya. “Ya sudah ajak dia umroh,” tukas ulama itu kepada Fulan. Sedangkan si Fulan ragu mengutarakan mimpi tadi ke sahabatnya. Hari berikutnya Fulan bermimpi yg sama. Akhirnya diutarakam mimpi itu. “Sahabatku, hayu kita umroh.” Ah bagaimana kau ini. “Ente kan tahu, aku …sholat pun jarang,” ungkap sahabat Fulan. Fulan membujuk terus, meski ia tahu tidak memiliki dana untuk ongkosnya. Akan tetapi, Fulan ini benar-benar sahabat sejati. Meski keperluan dia banyak, hampir tidak punya waktu umroh kembali, karena agenda padat dan jadual sudah tersusun lama. Apa boleh dikata? Panggilan persahabatan ia utamakan, apalagi sudah jarang bertemu. Seolah-olah persahabatan lebih penting daripada kehidupan dirinya. Boleh jadi itulah yg akan antar dia (Fulan) menjadi orang sholih. Kesholihan sosial lebih penting daripada kesholihan lainnya. Pemikiran Fulan tersebut membuat bangkit adrenalinnya untuk ajak sahabatnya pergi umroh dengan biaya pribadi.

Bak kilat di siang bolong Fulan menjadi mentor untuk sahabatnya dalam persoalan ibadah mahdhoh, seperti sholat. “Istatho’a,” pikir Fulan. Persiapan dan perangkat lengkap, berangkatlah Fulan dengan sahabatnya ke tanah duci. Seperti biasa, sebagaimana jemaah umroh lainnya, bebas beribadah dengan kekhusyuan yg full. Fulan berdiri di depan “Allahu akbar!” Pekikan takbir yg sesungguhnya, bukan takbir untuk minta dukungan sebagai imam. Fulan memang sedang menjadi imam sholat, sehingga tidak pantas kalau dirinya disebut lmam Besar. Takbir “Allahu akbar,” bukan pertanda imamnya yg besar, tapi Allah Yang Mahabesar. Setelah rokaat kedua, dalam keadaan sujud, sahabat Fulan ternyata dipanggil llahi robbi. Sahabat Fulan khusn al-khotimah, inna_lilla_hi wa inna ilayhi ro_ji’un.

Telah pulang ke rohmatullah sahabat Fulan, selamat jalan meniti sorga di sisi Allah. Fulan penasaran, apa gerangan yg menjadi sahabatnya khusn al-khotimah?

Melalui penyelidikan yg mendalam, tetnyata sahabat Fulan memiliki kebiasaan bersama memberi makan tetangganya yg renta tiga kali sehari. Janda tua itu hidup sangat susah dan mengkhawatirkan. Suami isteri itulah yg rajin mengirimkan makanan dan setiap kali akan meninggalkan kediaman orang miskin tersebut, terdengar dengan jelas suara nenek sebatang kara berucap: “semoga khusn al-khotimah (baca khusnul khotimah).”

….. Bersambung….

Catatan Redaksi : Husnul dan Khusnul Khatimah

Ketika seseorang menuliskan Khusnul khatimah atau Chusnul Khatimah atau selainnya, maka maksudnya adalah  حسن الخاتمة yang bermakna akhir yang baik. Bukan makna lainnya. Karena itu, tidak usah kita terlalu membebani diri dengan masalah transliterasi yang belum ada bakunya yang disepakati.

Yang menjadi patokan itu adalah maksud dan maknanya, bukan bentuk dan susunannya. Hal yang sama pula dengan tulisan Insya Allah, In Sya Allah, Insyallah, Insha Allah, In Sha Allah, In-Sya Allah, dll. Semuanya pasti merujuk ke  إن شاء الله

Wallâhu a’lam bish showaab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here