The news is by your side.

Ma’unah, Karomah pun Ujian Bagi Para Aulia dan Kita

Ma'unah, Karomah pun Ujian Bagi Para Aulia dan Kita | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

Bambang Melga Suprayogi, M.Sn. Ketua LTN NU Kab. Bandung – Para Aulia, atau wali-wali Allah, mereka itu adalah manusia istimewa yang sudah mencapai maqqom spiritual terbaik dari kalangan manusia biasa umumnya.

Hal ini karena mereka bisa memaksa nafsunya, untuk berada dibawah telapak kakinya, hingga injakan itu, membuat ia bisa lolos dari godaan Iblis, Syaetan, dan sebangsa Jin, yang selalu mencari celah untuk meruntuhkan iman kita, dari pintu masuk mereka lewat celah mengakali Nafsu manusia.

Basyiroh atau dibukanya tirai pintu hijab ke ghaiban, yang ada pada manusia sebagai sekat
indrawi, terhadap alam ghaib, hanya bisa dirasakan manusia tertentu yang taqwa, Juhud, dan memiliki ke istiqomahan laku lampah baik.

Tirai keghaiban merupakan sesuatu yang umum, pemisah alam nyata indrawi, dengan alam asral berlapis lapis sekat, yang Allah terapkan sebagai pemisahnya untuk manusia biasa.

Adapun agar bisa memasuki ke ghaibanNya, hanya manusia yang memang pilihananNya lah yang Allah tarik dengan kecintaanNya untuk bisa sampai di sana.

Yaa, maka manusia seperti itulah yang menjadi manusia terberkahi, istimewa, dan beruntung.

Karena Allah mengenalkan asma dan dzatnya, untuk manusia itu kenali, dengan catatan, akan langgeng, baik Ma’unah atau karomah tersebut, jika si manusia itu, bisa membawa dirinya, lisannya, hatinya, untuk selalu husnudzon, berbaik sangka dengan semua sesamanya, apalagi kepada Allah.

Karena jika tidak…
Semua keghaiban, berupa Ma’unah, atau karomah, akan Allah ambil kembali.

Dan Dia hilangkan dari diri kita semuanya, tak tersisa, hingga kita jadi manusia biasa kembali…jadi manusia normal.

Mengapa terjadi ?
Sebab kitanya telah abai, lengah, dan kembali membesarkan Nafsu dasar manusia di diri kita, hingga ujian Allah itu tak kita sadari.

Yang pada akhirnya, semua ke istimewaan yang kita telah Allah berikan, Dia cabut membali.

Ternyata tak mudah memegang amanah ke istimewaan dari pemberian Allah tersebut.

Itu sulit menjadi kekal.
Itu sulit menjadi bekal.

Untuk di ingat, bisa jadi Allah beri titipan ke istimewaan sementara itu, hanya untuk memperkenakanNya saja (Introductian), tak lebih untuk membuat kita berpikir, bahwa ke ghaiban pun menjadi urusanNya, selain mengurus alam nyata, dunia seisinya yang kita ketahui.

Ternyata, rengkuhan Allah, tidak kesembarangan orang yang Dia kehendaki, dan juga tidak kesetiap ahli agama, para kiai, atau ajengan, Allah membagikan ke Istimewaan itu.

Sebab, karunia Allah terbesar itu bisa manusia dapatkan, hingga Ia memberi kemampuan Maunah, atau karomah, tentunya, dengan terlebih dahulu mengalami ujian, masuk pada proses pengodogan dan penyucian dirinya.

Siapapun manusia yang teruji, maka akan Allah berkahi dan beri petunjukNya.

Tentunya Allah akan menguji seseorang itu, dari ujian sikap mental karakternya dari mulai ia balita, sebelum aqil baligh.
Perhatikan cerita para solihin, yang pada akhirnya menjadi wali.

Atau si orang tersebut, baik kita, maupun orang lain, ia menjalankan amaliyah spiritualnya, dari mulai aqil baligh, dan berlangsung sampai puluhan tahun baru, baru Allah bukakan pintu ke ghoibanNya.

Namun selain itu, bisa lebih cepat juga prosesnya misalkan, kita merasakan Allah sedang menunjukan ke Maha KuasaanNya.

Sehingga bisa jadi karena itu, ada balutan rasa kasih sayang Allah untuk kita, hingga ia tarik ruh, bathiniah kita agar bisa bersamaNya, untuk selalu bersamaNya.

Maka tak aneh bila Ia menjadikan, mata kita sebagai penglihatanNya, telinga kita sebagai pendengaranNya, dan lisan kita sebagai pengantar kata dariNya, lalu, pikiran kitapun menjadi tranmisi pemikiranNya, subhanaalloh.

Semua keluarbiasaan, atau khorikulil adat itu, atau di luar adat kebiasaan, bisa terjadi dan itu di lakukan manusia biasa karena atas seizinNya.

Jika sudah seperti ini, Allah liputi diri kita dengan keberkahan karuniaNya, dan semua akan kaget.

Sebab, ucapan kita telah menjadi ucapanNya, yang kita sendiripun kaget, bengong, terperanjat.

Masa kita yang bodoh ini, tiba-tiba, bisa bicara di luar keilmuan kita, kepahaman kita, bicaranya berbobot dan penuh hikmah yang mengetarkan hati, hingga langsung kena menancap di relung paling dalam hati pendengarnya.

Ingat, itu sesunghuhnya bukan diri kita yang bicara, dan kita merasaknnya sendiri, lidah ko jadi lancar, bicara sangat dalam dan langsung menyentuh hati pendengar, hingga kita yang bodoh ini, seakan jadi pintar, jadi ahli, jadi hebat dalam seketika…dan itulah kemaha besarannya, yang telah memberi kita ma’unah atau karomah.

insyaallah Allah akan terus menilai diri kita.
Setiap hari dalam kehidupan kita, diri ini di uji.

Maka selalu lah berbaik sangka dari kita kepada sang pemilik alam ini.

Mari temukan kesejatian diri kita.
Berkiprahlah hebat buat umat dan warnailah dengan kebermanfaatan diri kita.

Berkiprahlah dengan kiprah luarbiasa yang akan di catat oleh sejarah dengan apa yang bisa kita lakukan.

Dan itu tentunya akan jadi bagian yang bisa jadi kebanggaan anak cucu, turunan kita ke depannya.

Namun jangan sampai terbalik..
Moyang, atau karuhun kita telah melakukan kiprah besar dan luarbiasa bagi umat saat ia masih hidup, hingga Allah karuniakan mereka kedudukan mulia menjadi para kesatriaNya sebagai wali, aulianya Allah.

Tapi kini, anak cucunya hanya jadi pendongeng dari kehebatan para leluhurnya saja, tidak mau berperih malah bermewah-mewah dan mengumbar nafsu lewat lisannya, dengan banyak mencaci.

Sesungguhnya kelas wali itu sangat apik dalam menjaga hati dan lisan, tidak akan sompral dengan ucapannya dan prasangkanya.
Dan Kelas pendongeng bukan tujuan yang kita cari.

Kita harus bisa melakukan hal-hal yang luarbiasa melebihi para buyut-buyut kita, yang hidup di masa lalu, hingga bisa Allah percaya kembali diri kita ini, untuk jadi para penerus dari para wali-wali besar di tatar tanah Jawa, dan Pasundan, insyaallah.
Alhamdulillah.

Semoga bermanfaat.

Bambang Melga
Penulis Nakal
Ketua LTN NU Kab. Bandung

Leave A Reply

Your email address will not be published.