The news is by your side.

Subuh dan Qunutnya

Subuh dan Qunutnya | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

Fariski Adi Guna – Sebagai seorang muslim dalam waktu sehari semalam terdapat kewajiban melaksanakan salat sebanyak lima kali, meliputi subuh, dzuhur, ashar, maghrib dan isya’. Salat subuh merupakan salat wajib yang jumlah rakaatnya paling sedikit dari pada yang lainnya, yakni terdiri dari dua rakaat saja.

Waktu mengerjakan salat subuh adalah mulai terbitnya fajar sampai terbitnya matahari. Berbicara mengenai fajar, saat menjelang subuh terdapat dua fajar yang muncul yakni fajar shadiq dan fajar kadzib. Fajar kadzib adalah fajar yang muncul dan bersinar secara vertikal, sedangkan fajar shadiq adalah fajar yang muncul dan bersinar secara horizontal setelah adanya fajar kadzib, dan inilah yang menjadi awal mula masuknya waktu salat.

Salat subuh memiliki rukun dan kesunahan sama sebagaimana salat lainnya. Hanya saja ada salah satu kesunahan yang identik, yaitu membaca doa qunut. Doa qunut biasanya dibaca pada rakaat kedua setelah i’tidal (berdiri tegak seperti posisi semula setelah melaksanakan ruku’) dan sebelum melakukan sujud.

Dalil kesunahan qunut telah dijelaskan oleh Imam An-Nawawi di kitab Al-Adzkar, sebagai berikut:

اعلم أن القنوت في صلاة الصبح سنة للحديث الصحيح فيه عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يزل يقنت في الصبح حتى فارقا الدنيا. رواه الحاكم أبو عبد الله في كتاب الأربعين وقال حديث صحيح

Artinya: Qunut shalat subuh disunahkan berdasarkan hadits shahih dari Anas, bahwa Rasulullah SAW selalu qunut sampai beliau meninggal. Hadits riwayat Hakim Abu Abdullah dalam kitab Arba’in. Ia mengatakan itu hadits shahih.
Berikut bacaan doa qunut salat subuh:

اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Doa qunut seperti yang ada di atas, sebaiknya dibaca oleh orang yang sedang salat sendirian. Adapun bagi seorang imam, hendaknya mengganti lafad “ihdini” dan seterusnya yang mengandung dhomir menjadi “ihdina”, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Zainuudin Al-Malibari di kitab Fathul Muin bahwa

وكره لإمام تخصيص نفسه بدعاء أي بدعاء القنوت للنهي عن تخصيص نفسه بدعاء، فيقول الإمام: اهدنا

Artinya: bagi imam Makruh berdoa (doa qunut) untuk dirinya sendiri, karena adanya larangan mengenai hal tersebut. Hendaknya imam membaca “ihdina”.

Penulis
Fariski Adi Guna
Leave A Reply

Your email address will not be published.