Suhu Medsos Masih Tinggi, Warganet Perlu Jaga Komunikasi

11

Jakarta, NU Online

Konstelasi sosial politik Indonesia masih terus berkembang. Dunia media sosial (medsos) pun masih ramai pembahasan hal tersebut dengan suhu yang belum menurun signifikan.

Melihat suasana yang masih hangat tersebut, warganet mestinya mengembalikan fungsi medsos sebagaimana semula, yakni sarana silaturahim, menjalin hubungan baik satu sama lain.

“Mengembalikan media sosial sebagai fungsinya, yakni wahana bersosialisasi untuk saling berkomunikasi dengan baik, tanpa saling mencaci,” kata Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), H Ulil Abshar Hadrawi di Kantor NU Online, Gedung PBNU lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Senin (17/6).

Ulil menegaskan bahwa medsos harus benar-benar menjadikan sebagai alat perantara untuk saling memahami yang lain, tidak mereduksi media sebagai alat berbohong. Pasalnya, medsos harus betul-betul mengantarkan informasi yang benar, bukan alat penyebaran hoaks.

“Sebagaimana konduktor yang mengalirkan listrik, tentu informasi dari pengantar dan penerima harus sama. Yang diantar A, ya sampai sana ya harus A,” tegas dosen Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Oleh karena itu, Ulil menyampaikan bahwa Ramadhan yang telah dijalani selama sebulan penuh mestinya dapat memberikan dampak positifnya pada hari ini dan seterusnya ke depan.

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa Ramadhan yang baru saja beberapa waktu lalu dilewati itu harus dimanfaatkan menjadi momentum evaluasi atas perilaku yang telah dilakukan selama ini. “Jangan berlarut-larut tenggelam dalam kubangan lumpur yang sama,” tegas alumnus Pondok Pesantren Kajen, Pati, Jawa Tengah itu.

Hal tersebut, menurutnya, harus dibuktikan dengan unggahan kita di medsos. “Bukti puasa kita memiliki efek dengan realisasi kita di media sosial dengan lebih jujur,” ujarnya.

Selain itu, Ulil juga meminta para pengguna medsos agar saling menerima dan menghargai perbedaan pandangan yang terjadi antara individu dengan mitra komunikasi di medsos. Perbedaan itu, menurutnya, bukan wahana untuk saling menghujat.

“Mencoba membuka hati dan pikiran, mendengarkan pendapat orang lain, menerimanya, sebagaimana diri kita menginginkan orang lain menerima dan mendengarkan pendapat kita,” pungkasnya. (Syakir NF/Muiz)

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here