Tiga Ikan Satu Kepala (bahasa Jawa ꦲꦶꦮꦏ꧀ꦠꦼꦭꦸꦱꦶꦫꦃꦱꦤꦸꦁꦒꦭ꧀ iwak telu sirah sanunggal)
Tarekat di Cirebon
Tidak ada, atau tepatnya belum ditemukan catatan historis yang dapat memastikan kapan dan tarekat mana yang mula-mula berkembang dan menjadi terlembagakan sebagai organisasi spiritual yang hadir di Nusantara. Kendati demikian, Martin van Bruinessen berpandangan bahwa berdasarkan Serat Banten Rante-rante, Sunan Gunung Jati pernah melakukan perjalanan ke tanah Suci dan berjumpa dengan Syaikh Najmuddin Kubra dan Syaikh Abu Hasan Asy- Syadzili.
Dalam bukunya, Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat, Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, Martin menduga, dari kedua tokoh berlainan masa itu sang sunan konon menjadi pengikut Tarekat Kubrawiyyah dan Syadziliyyah sekaligus memperoleh ijazah kemursyidan dari keduanya. Meski jika mengacu pada data kronologi sejarah tentu saja pertemuan fisik antara Sunan Gunung Jati yang hidup di abad 16 dengan Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili yang wafat di abad 13, apalagi dengan Syaikh Najmudin Kubra yang wafat pada tahun 1221 M, secara faktual tidaklah mungkin.
Terlepas dari kebenaran cerita dalam Serat Banten Rante-rante, Agus Sunyoto justru menyuguhkan data yang berbeda, meski tidak terlembagakan, mengacu pada naskah-naskah Wangsakerta, dalam buku Suluk Abdul Jalil, Agus menyebut bahwa tarekat yang awal mula berkembang di Cirebon adalah tarekat Syattariyah yang dibawa oleh Syekh Datuk Kahfi, guru spritualnya Syekh Siti Jenar, pembawa ajaran tarekat Akmaliyah. Mengapa tidak terlembagakan, karena, lanjut Agus, dalam tradisi tarekat pertama kali tidak mengenal konsep jama’ah dalam mujahadah sehingga dilakukan sendiri-sendiri.
Dinamika Syattariyah di Cirebon kemudian mengalami perkembangan seiring dengan kemunculan tokoh-tokoh Syattariyah lokal di Cirebon. Para tokoh tersebut mengembangkan Syattariyah di lingkungan kraton dan pesantren sesuai dengan silsilah wirid dan dzikir dari setiap guru (mursyid). Kiai Muhammad Arjain diduga mengembangkan Syattariyah di Kraton Kacirebonan dan Kanoman melalui jalur Syekh Abd al-Muhyi. Kiai Muqayyim mengembangkan Syattariyah di lingkungan tertentui. Kiai Anwaruddin Kriyan diyakini mengembangkan Syattariyah di Pesantren Buntet dan Pesantren Bendakerep. Pangeran Jatmaningrat Muhammad Safiuddin diyakini mengembangkan Syattariyah di Kraton Keprabonan, Kanoman, Kasepuhan, dan Pesantren Balerante. Yang disebut terakhir inilah silsilah Syattariyah Cirebon memiliki kekhasan simbolisme iwak telu sirah sanunggal yang tidak dapat ditemui dalam silsilah Syattariyah Pamijahan, Minangkabau, Aceh maupun daerah lainnya. Wallahu a’lam. (Abro/NU Online)
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



