Andai Pahala Shalat Diturunkan, Dunia Bisa Kiamat

15

Jakarta, NU Online

Kemuliaan di sisi Allah SWT tidak akan pernah bisa dibayangkan oleh manusia, termasuk kemuliaan pahala shalat. Andai pahala shalat diturunkan ke dunia oleh Allah SWT saat ini, niscaya dunia akan kiamat.

“Andai pahala shalatmu diturunkan saat ini pula oleh Allah SWT, dunia bisa kiamat. Karena kotornya dunia ini tidak akan mampu menampung kemuliaan pahala shalat,” ujar Pakar Tasawuf KH M. Luqman Hakim dikutip NU Online, Jumat (28/6) lewat twitternya.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat ini, hanya akhirat yang agung nan suci dan abadi yang mampu menampung pahala shalat. “Maka shalatlah, jangan mikir pahala,” jelasnya.

Direktur Sufi Center ini menyebut bahwa manusia jangan sampai tertipu untuk menukar akhirat dengan kepentingan-kepentingan duniawi.

“Jangan sampai anda menukar akhirat anda dengan kepentingan-kepentingan duniawi anda. Nanti anda akan kecewa dan putus asa pada Rahmat-Nya,” terang Kiai Luqman.

“Misalnya, saya sudah rajin ibadah, berdoa, tapi materi, duniawi, dan nasib saya tidak berubah. Itu namanya anda menukar kemuliaan dengan kehinaan,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kiai Luqman juga menegaskan bahwa mengenal Allah SWT bukan hanya memahami Asma-Nya, tetapi juga mengerti Sifat-Nya. Asma dan Sifat Allah ini bisa disaksikan manusia. Menurutnya, ujuang segala nikmat ialah menyaksikan Asma dan Sifat-Nya.

“Ujung segala nikmat itu adalah menyaksikan (musyahadah) Asma dan Sifat-Nya di balik segalanya serta kedekatan kepada-Nya,” tegas Kiai Luqman.

Selain menjelaskan ujung segala nikmat, ia juga menguraikan ujung segala azab. Tanda dari hal ini ketika manusia terhijab dari segala sesuatu yang baik. “Sebaliknya ujung segala azab dengan berbagai ragamnya karena kita telah terhijab dari-Nya. Tipisnya beda nikmat dan azab,” ucapnya.

Tentang perkara nikmat, Kiai Luqman menjelaskan ada tiga nikmat, yaitu nikmat dunia, nikmat keagamaan, dan nikmat akhirat. “Ada tiga nikmat. Nikmat dunia, nikmat keagamaan, dan nikmat akhirat,” ujar Kiai Luqman.

Penulis buku Filosofi Dzikir ini menguraikan bahwa nikmat dunia yang melekat pada diri manusia di antaranya nikmat sehat, tercukupinya sandang, pangan, dan papan. “Nikmat dunia ialah sehat, sandang, pangan, dan papan,” jelasnya.

Sedangkan nikmat keagamaan, menurutnya, melingkupi Islam, Iman, Ihsan, taubat, takwa, istiqomah, benar dan ikhlas, tenteram hati, musyahadah, dan ma’rifah. “Adapun nikmat akhirat ialah syafa’at, pahala surga, melihat Allah,” terang penulis buku Psikologi Sufi ini.

Nikmat dunia, nikmat agama dan nikmat di akhirat wajib disyukuri. Karena syukur itu wadah dan pengikat nikmat. Sayangnya, orang awam terpaku nikmat yang berwujud saja. (Fathoni)

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here