The news is by your side.

Berqurbanlah, meskipun Hanya dengan Seekor Ayam

Berqurbanlah, meskipun Hanya dengan Seekor Ayam | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa BaratAli Muthahari – Tahukah kamu bahwa sahabat Rasulullah yang bernama Ibnu Abbas berqurban dengan seekor ayam setiap tahunnya? Hal ini diriwayatkan oleh Imam asy-Syekh Ibrahim Baijuri dalam Hasyiyah asy-Syekh Ibrahim al-Baijuri ‘ala Syarh al-‘Allamah ibn al-Qasim al-Ghuzzy ‘ala Matn asy-Syekh Abi Syuja. Namun, pendapat ini ditekankan agar diikuti khusus oleh orang-orang fakir, yang umumnya sulit membeli hewan ternak untuk dijadikan kurban, sehingga mereka pun bisa menjalankan ibadah qurban.

Salah satu ibadah yang dilakukan umat Muslim saat perayaan Idul Adha adalah udhiyah atau berqurban. Berqurban berbeda dengan berkorban. “Korban” memiliki konotasi negatif, seperti menjadi korban atau tumbal dalam bahasa Jawa. Misalnya, seseorang dikorbankan, yang berarti dia menjadi korban atau tumbal. Konotasinya negatif, fungsinya tidak berarti, dan posisinya buruk.

Sedangkan “qurban” memiliki konotasi positif, fungsinya bermanfaat, dan posisinya baik. Nabi Ismail di-qurbankan, tidak sama dengan dikorbankan. Ismail bukanlah tumbal yang diabaikan, melainkan dia diuji atas kasih sayangnya kepada Allah, kepatuhannya, tanggung jawabnya sebagai makhluk, serta diberi kesempatan untuk mendekat kepada sumber kehidupannya.

Qurban adalah sebuah metode untuk mendapatkan kedekatan dengan Allah. Qurban juga merupakan metodologi sosial untuk memperoleh sesuatu yang awalnya jauh menjadi lebih dekat. Dalam pelaksanaan qurban, sahibul qurban atau orang yang melakukan qurban membagikan daging hewan qurban kepada orang yang membutuhkan. Hal ini akan mempererat hubungan sosial di antara masyarakat, sehingga kekerabatan semakin harmonis.

Qurban Memberantas Ketamakan

Ketika kita menyembelih hewan qurban, pada hakikatnya kita sedang ‘menyembelih’ sifat hewani dalam diri kita. Rakus dan tamak merupakan sifat-sifat hewani pada manusia. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam bukunya “Madarijus Salikin” menjelaskan bahwa memuaskan nafsu adalah perbuatan manusia yang membuat mereka tidak berbeda dengan jenis hewan lainnya. Dalam jiwa manusia terdapat hal yang menyerupai jiwa hewan. Oleh karena itu, Ibnu Abbas menyarankan kaum fakir untuk melaksanakan qurban sebisa mereka, bahkan hanya dengan seekor ayam. Jika tidak mampu berqurban dengan seekor ayam, berqurbanlah dengan hewan lain yang halal.

Meskipun hal ini tidak disahkan oleh para ulama, setidaknya kita melaksanakan sedikit dari perintah yang terkandung dalam perayaan Idul Adha, yaitu berqurban.

Tindakan ini juga sesuai dengan kaidah ushul fiqih “ma la yudraku kulluhu la yutraku kulluhu” (apa yang tidak bisa dilakukan secara keseluruhan, jangan ditinggalkan seluruhnya). Selain itu, terdapat pula kaidah lain yang berbunyi “al-maysur la yasqutu bil ma’sur” (Perbuatan mudah tidak menggugurkan perbuatan sukar). Artinya, perbuatan yang diperintahkan harus dikerjakan sedapat mungkin sesuai dengan kesanggupan seseorang.

Ibadah qurban memberikan hikmah bagi kita. Menyembelih hewan qurban bukan hanya sekadar memotong lehernya. Pelajaran keikhlasan yang diwariskan Ibrahim melalui peristiwa qurban adalah untuk menghilangkan sifat hewani dalam diri kita. Kuncinya adalah keikhlasan dalam melaksanakan syari’at agama. Sifat hewani manusia dapat dikendalikan atau dibatasi melalui syariat agama.

Qurban mengisyaratkan bahwa kita seharusnya tidak merasa memiliki apa pun. Semua yang kita miliki hanyalah milik Allah SWT. Segala yang kita miliki, walaupun sedikit, adalah titipan dari Allah SWT. Jadi, ketika kita menyembelih hewan qurban untuk Allah SWT, tidak sepatutnya merasa kehilangan, karena pada dasarnya kita tidak memiliki apa-apa; innalillahi wa inna ilaihi rajiun, sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali.

Sifat kepemilikan memunculkan rasa tamak dalam hati manusia. Rasa tamak menyebabkan munculnya ‘manusia serigala’. Manusia ini mengejar kekuasaan dengan cara curang, menghalalkan segala cara.

Mereka memanipulasi dan memecah-belah manusia, menjadikan orang miskin sebagai komoditas politik. Begitu memperoleh kekuasaan, mereka menikmati kehidupan mewah bersama kolega dan keluarga mereka. Tidak cukup dengan jabatan yang dipegang, mereka terus mencitrakan diri sebagai pahlawan. Penguasa terlena dengan kemewahan, sementara rakyat menangis karena kelaparan dan kesakitan. Mereka bernyanyi-nyanyi saat rakyat menderita.

Maka tidaklah salah jika kita harus berqurban, walaupun hanya dengan seekor ayam seperti yang dilakukan oleh Ibnu Abbas. Berqurbanlah sebisamu, berqurbanlah meskipun dalam jumlah yang sedikit. Semoga melalui qurban yang dilakukan dengan rasa ikhlas, penuh cinta, dan penghambaan kepada Allah SWT, sifat kehewanan yang ada dalam diri kita, seperti rasa memiliki, tamak, dan rakus, dapat terhapus dengan ikhlas dalam pelaksanaan qurban. Dengan demikian, kita akan mendapatkan kedekatan dengan Allah SWT.

Penulis
Ali Muthahari
Leave A Reply

Your email address will not be published.