The news is by your side.

Bersandar pada Amal sama dengan Mengesampingkan Hak Prerogatif Allah

Bersandar pada Amal sama dengan Mengesampingkan Hak Prerogatif Allah | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

Siti Suroh Holisoh – “Sakit tapi tak berdarah” begitulah kira-kira ungkapan yang pas untuk menggambarkan perasaan saya sesaat setelah selesai mengikuti kajian kitab Hikam karya Syekh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari (w. 1309).

Begitu banyak hikmah yang mengharuskan saya untuk menata ulang orientasi terhadap kehidupan. Bahkan hal ini sudah ditemukan pada hikmah pertama, yang membahas tentang tanda-tanda orang yang bersandar pada amal.

“Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya adalah kurangnya Raja’ (rasa harap terhadap rahmat Allah) di sisi alam yang fana.”

Hikmah tersebut menggiring pada penjelasan bahwa bersandar pada amal merupakan satu sikap tercela. Atau dengan kata lain bahwa bersandar pada amal ini alih-alih memberi keuntungan justru malah membawa kerugian bagi kita yang mengerjakannya.

Jika direnungkan lagi, memang benar kebanyakan kita masih sangat terpaku dan berkeyakinan bahwa semua yang kita dapatkan adalah hasil dari apa yang kita kerjakan. Apabila mengerjakan ibadah, kita cenderung ge-er, berbangga diri, dan merasa sudah aman dari siksa dan ancaman hari akhir. Sedangkan ketika terlanjur berbuat maksiat, kita sering kali menunjukkan sikap menyesal yang berlarut-larut, pesimis bahkan putus asa dan lupa akan rahmat Allah.

Orang tipe ini meyakini bahwa perbuatannya tersebut akan mengundang segala keburukan dan menutup segala pintu kebaikan. Ujung-ujungnya akan memunculkan anggapan bahwa setiap amal yang dikerjakan selalu bernilai sia-sia dan memutuskan untuk berhenti mengerjakannya.

Padahal secara hakikat setiap amal itu hanya akan terjadi ketika Allah sudah menghendakinya. Adapun diri kita hanya sebagai media untuk keberlangsungan ketetapan Allah tersebut. seperti halnya kalimat “Laa Ilaha Illallah” yang dimaknai dengan tidak adanya tempat bersandar, berlindung serta berharap kecuali Allah. Tidak ada yang memberi keburukan juga kebaikan kecuali Allah.

Senada dengan hal di atas, pada kesempatan lain guru saya juga menyebutkan: “segala sesuatu memang terjadi atas kehendak Allah. Adapun kehendak tersebut dibagi menjadi dua, yakni kehendak beserta ridha yang diperuntukkan bagi amal baik dan kehendak berserta murka yang Allah berikan kepada setiap perilaku buruk atau maksiat.” Ini menunjukkan bahwa Allahlah yang memiliki kuasa penuh atas apa-apa yang ada di langit dan bumi. Namun Allah tidak pernah dzolim terhadap hambanya, oleh karena itu Allah titipkan akal agar bisa bebas memilih satu dari dua kehendak tersebut.

Kendati demikian, kehendak Allah maha suci dari pengaruh amal manusia. Allah tetap menjadi Tuhan, baik ketika hambanya beribadah maupun bermaksiat. Allah tidak butuh kepada apapun dan siapapun. Allah tetap memiliki kebebasan atas kehendak serta pelaksanaannya sekalipun tidak disukai dan keluar dari perhitungan hamba. Inilah yang kemudian dinamakan sebagai prerogatif Allah.

Jika kita analogikan, manusia yang berbangga atas amalnya menyangka bahwa setiap amal yang telah dikerjakan otomatis menjadi deposito pahala yang dapat dicairkan kapan saja. Mereka pura-pura lupa bahwa berita tentang upah dan imbalan dari setiap perbuatan merupakan bentuk kasih sayang Allah yang dimaksudkan agar manusia selalu bersemangat untuk meramal. Sedangkan kelayakan amal tersebut atas upah yang baik, sepenuhnya merupakan prerogatif Allah. Maka sungguh tidak elok kita bersikap bangga atas sebuah amal, sedangkan segala sesuatunya sudah disediakan oleh Allah secara gratis.

Terakhir, mari kita berkaca pada Nabi Ibrahim yang terekam pada QS. As-Syu’ara ayat 82 dan disampaikan kembali oleh Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbahnya. Nabi Ibrahim dilukiskan sebagai sosok yang memiliki kelembutan hati serta tata krama yang begitu memukau terhadap Tuhannya. Kedekatannya dengan Allah tidak lantas membuat nabi Ibrahim menjadi jumawa.

Pada salah satu do’anya beliau mengungkapkan harapan besar akan ampunan Allah dengan penuh kehati-hatian serta rasa takut. Beliau memberi penekanan bahwa harapan tersebut semata untuk kebutuhannya, tanpa sedikitpun menyiratkan bahwa Allah memiliki kepentingan serta maslahat di atasnya. Harapan itu tampil dengan wajah yang sempurna, yang digambarkan sebagai keinginan yang sulit terpenuhi dan beliau merasa seakan-akan tidak sedikitpun memiliki sarana untuk meraihnya. Ini tidak lain karena beliau sadar betul bahwa ampunan merupakan prerogatif Allah.

Pertanyaannya jika level seorang Nabi, manusia istimewa yang dekat dengan Allah, dan yang wajar darinya adalah sesuatu yang lebih baik saja menunjukkan sikap yang begitu santun. Lantas apa yang membuat kita begitu percaya diri untuk melampaui sikap mulia tersebut? apa yang membuat kita tidak hormat dan mengesampingkan prerogatif Allah?

Siti Suroh Holisoh, Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Penulis
Siti Suroh Holisoh
Leave A Reply

Your email address will not be published.