Cerita Bis Malam

91

K.H. Abdurrahman Wahid atau orang biasa menyebutnya Gus Dur merupakan tokoh ulama NU yang selalu menarik untuk dibahas. Selain dari pemikiran-pemikirannya yang melampaui zaman, hingga banyak orang yang tak paham arah pemikiranya kerap menjadikan Gus Dur sebagai sosok yang kontroversi, Gus Dur juga terkenal dengan guyonannya yang segar tetapi menggelitik dan mendidik. Bahkan seringkali orang-orang disekitarnyakerap menungguapa guyonan terakhir Gus Dur.

Salahsatu guyonan Gus Dur yang terkenal adalah cerita tentang seorang Kyai dan Pendeta di dalam bis.

Suatu malam seorang kyai hendak pulang ke rumahnya setelah menghadiri beberapa acara dengan menggunakan sebuah bis.

Iklan Layanan Masyarakat

Didalam bis ternyata Kyai itu duduk bersampingan dengan seorang pendeta yang juga hendak pulang setelah menghadiri sebuah acara.

Ketika bis menyalakan mesin yang menandakan akan segera memulai perjalanan, layaknya seorang Kyai yang selalu mengingat Allah dalam keadaan berpergian, Kyai itu pun berucap “bismillah”.

Sang pendeta yang ada di sampingnya melirik sang kyai setelah mendengar apa yang di ucapkan kyai tadi.

Pendeta lalu mencolek kyai dan bilang, “maaf pak, ini bukan bismillah tapi bis malam.” Pendeta lalu tersenyum.

Kyai menatap pendeta. Bingung.

Bis terus berjalan menyusuri malam yang gelap, diakhir pemberhentian bis tiba-tiba cuaca buruk datang, hujan deras turun. Cuaca buruk ini memaksa seluru penumpang berteduh mencari perlindungan di tengah hujan yang deras, begitu pula Kyai dan Pendeta tadi. Mereka berdua lari mencari perlindungan bersama hingga berteduhlah mereka berdua di sebuah halte sambil duduk bersampingan.

Rupanya cuaca semakin buruk. Di tengah hujan yang deras, tiba-tiba petir datang menyambar dengan suara yang keras.

Karena kaget, secara spontanitas pendeta berucap, “Haliluya

Mendengar ucapan pendeta tadi, kyai melirik pendeta lalu mencoleknya sambil bilang: “itu bukan haliluya, tapi halilintar.” Kyai tersenyum bahkan lebih lebar dari pendeta sebelumnya.

Kisah kedua tokoh agama antara kyai dan pendeta dalam guyonan Gus Dur tadi seolah memberikan pelajaran besar bagi kita bahwa perbedaan tak perlu dimaknai dengan begitu serius. Gus Dur menyajikan perbedaan dua tokoh agama tersebut dengan begitu jenaka, tanpa perselisihan bahkan terihat begitu bersahabat dan “mesra”. Itulah ke khasan Gus Dur yang banyak dirindukan oleh orang-orang di sekitarnya. Bahwa pesan moral bisa disampaikan dengan baik dengan cara yang jenaka, dan orang bisa menerimanya semua.

Previous articleRidwan Kamil Siapkan Sepuluh Program untuk Kaum Santri di Jabar
Next articleMakna Bendera HTI Bagi HTI
Santri Pondok Pesantren Mahasiswa Universal al Islami Bandung yang aktif di LTN PWNU Jawa Barat. Mengembangkan website Pesantren yang tergabung dalam Jaringan Media Online Pusat Studi Pesantren. Santri yang terdampar minatnya pada sastra dan konten kreator saat ini sedang mengekspresikan minatnya melalui visual media bernama Kopi Sajak yang sedang di rintisnya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here