Dzikir “HU”

1801
Dzikir "HU"

Oleh Herwin Purnama Jaya

Bismillahir Rahmanir Rahim

Sebagian orang menganggap bahwa dzikir HU, adalah bid’ah dholalah yang tidak ada dalilnya. Mereka melontarkan argumen, yang menurut mereka benar,tanpa mengetengahkan pembandingnya. Suatu hal yang sangat tidak adil.

Baiklah akan kita singgung sedikit tentang dzikir HU. Hu ini berasal dari lafazh Huwa,yang dibaca waqaf menjadi HU. Yang dimana ia adalah isim dhamir ghaib. Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab tafsir mafatihul ghaib pada bab pembagian Asma Alloh Swt yang berasal dari isim dhamir, menyebutkan tiga isim dhamir yang sering disebutkan dalam al-Quran,yang makna arti isim tersebut mewakili Asma Alloh Swt. Tiga isim dhamir tersebut adalah Ana, Anta, dan Huwa.

Lafazh Ana, ia mengisyaratkan pada Zat yang Ahad, tidak ada yang mengetahui Zat tersebut selain dari pada Zat itu sendiri. Lafazh Anta, ia adalah khitob (yang dibicarakan) tanpa diisyaratkan kehadirannya, karena ini berbicara tentang Zat Alloh, dan yang sudah mempunyai maqom musyahadah dzikir ini ia adalah Nabi Yunus as. Orang Adapun ketika berbicara dalam arti isim dhamir ini adalah manusia mukhotob, maka ia harus berwujud ada. Sedangkan Hu, ia adalah isim dhamir lilghoib, karena Zat Alloh Swt itu Ghaib.

Ketiga lafazh isim dhamir ini, kaitannya dengan Asma Allah Swt, semuanya membicarakan tentang ketauhidan. Untuk lafazh Ana, simak surat an-Nahl ayat 2
أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا
“Peringatkanlah (hamba-hamba-Ku), bahwa tidak ada tuhan selain Aku”
juga surat thaha ayat 14
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku

Untuk lafazh Anta, simak doa nabi Yunus dalam surat al-Anbiya ayat 87
فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”.Nabi Yunus mencapai maqom musyahadah

Adapun untuk lafazh Huwa atau HU, maka banyak sekali disebut dalam al-Quran, diantaranya surat al-Baqarah ayat 163
وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ
Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia
Al-Muzammil ayat 9
رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا
(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.

Sekarang mari kita fokus kembali kepada Lafazh HU.Dalam kitab al-Ibriz, Sayyid ‘Abdul Aziz ad-Dibagh berkata lafazh Hu هُ dengan harakat dhammah yang berasal Huwa, dalam bahasa Suryani, ia merupakan salah satu Asma Alloh Swt. Hal ini membantah bahwa Hu ini hanyalah singkatan belaka yg tidak ada faidahnya.

Ketika kita menghilangkan alif dalam lafazh Alloh, maka ia menjadi lafazh lillah (kepunyaan Alloh) semua yang ada di langit dan di bumi, seperti dalam ayat lillahi ma fissamawati wal ardh dan seterusnya. Jika ia dihilangkan lamnya saja, maka menjadi Ilah (Alloh Tuhan yang disembah). Jika dihilangkan alim dan lam nya, maka ia menjadi lahu (milik Allah Swt apa yang dilangit dan di bumi), seperti dalam ayat lahu ma fissamawati wa maa fil ardh dan seterusnya. Jika dihilangkan alif dan lam semuanya, maka tersisalah Hu, hu ini dhamir yg maknanya tetap kepada Alloh swt seperti ketika ia menjadi dhamir muttasil seperti dalam ayat kursyi man dzalladzi yasfa’u ‘indahu illa bi idznih .

Mungkin ada pertanyaan, kemanakah Waunya.Wau disana menurut Imam Ibnul Anbar dalam kitab al-Inshof fi masailil khilaf baina nahwiyyin bashriyin wal kufiyyin, ia adalah zaidah bukan ashliyah. Senada dengan Ibnul Anbar, Imam Abul Hayyan al-Andalusi Imamnya ahli nahwu dizamannya berkata, bahwa Huwa, huruf Ha-nya adalah asliyah, namun wawunya adalah zaidah, dengan dalil ketika menjadi dhamir tasniyah dan jamak, wawu tersebut hilang. Karenanya jika lafazh huwa dibaca wirid menjadi Hu, dengan ada atau tidaknya wau, ia tetap berfaedah.Sekalipun ada yang menganggap bukan bahasa arab, maka ia dalam bahasa suryani mempunyai faedah makna.

Imam Fakruddin ar-Razi dalam kitab tafsir mafatihul ghaibnya, seperti yang dikutip oleh Syekh Usman Khidiq Somalia, berkata “Asma Alloh dan sifat-sifatnya, ia ada yang berbahasa farsi, turki, india, dan bahasa lainnya yang bukan dari al-Quran dan bukan pula hadits atau akhbar, namun kaum muslimin sepakat boleh mengamalkannya, termasuk kaum shufi didalamnya.

Para ulama menyebutkan bahwa lafazh Hu/Huwa ini adalah ismul a’zhom,diantara adalah Imam Ibnu Hajar al-Asqolani dalam fathul bari, al-‘Azizi dalam sirojul munir syarah kitab jami’us shogir,Syekh Ismail Haqqi al-Burusi dalam tafsir ruhul bayan dan Imam Fakhruddin ar-Razi dalam tafsir Mafatihul Ghoibnya, juga banyak ulama lainnya yang tidak akan disebutkan satu persatu, mengingat terlalu banyak, kitab cukupkan hanya sebagian saja yang mewakili. Bahkan Imam ar-Razi menyebutkan secara panjang lebar dua puluh faedah(keutamaan) wirid Hu dengan menukil dari para ahlul kasyaf,diantara faedahnya adalah

  • Seorang hamba jika berdzikir dengan lafazh Hu,maka ia seolah-olah berkata, “Siapakah aku ini, hingga ingin mengenal-Mu. Dan siapakah aku ini, hingga ingin bermunajat kepadamu. Aku hanyalah seorang manusia yang hina, yang diciptakan dari sababiyah nuthfah yang hina, darah, lalu dilahirkan, yang tidak disifati sifat Qadim dan Azali seperti Engkau Ya Alloh.Tapi Engkau adalah Zat yang Maha Suci, Qadim dan Azali, tidak dapat dijangkau oleh akal dan tidak terkait dengan sababiyah seperti pada penciptaan makhluq.”Karena ke Maha Sucian Alloh tersebut, maka seorang hamba bermunajat kepada Alloh hanyalah pantas dengan Hu/Huwa yang mengisyaratkan kepada Zat yang Maha Ghaib, yang tidak dapat dijangkau dengan akal manusia atau apapun.
  • Seorang yang berdzikir dengan Hu, maka ia akan sampai kepada maqom fana dari segala sesuatu selain Alloh. Seperti dalam potongan firman Alloh Swt,Kullu syain halik illa Wajhah (segala sesuatu akan hancur,kecuali Dzat Alloh).Karenanya jika seseorang ingin mencapai maqom fana, maka berdzikirlah dengan ucapan Hu.
  • Seorang hamba ketika berdzikir dengan ucapan yang mengandung sifat-Nya, maka ia tidak akan tenggelam sibuk makrifat-Nya.Seperti ketika mengucap Ya Rahman (Maha Pengasih) , maka dengan sendirinya ia seolah fokus berdzikir dengan mengharap sifat rahmannya Alloh, karena ia dicirikan dengan makna dari asma tersebut. Begitupun jika kita mengucap Ya Karim Ya Muhsin Ya Ghoffar, Ya Wahhab, Ya Fattah, dan sebagainya. Adapun jika ia berdzikir dengan mengucap Hu,maka ia akan makrifat(mengenal) kepada Alloh, bahwa ia adalah Dzat Yang Maha Ghaib yang tidak dapat dimaknai sifatnya seperti pada asma yang lain.Dzikir Hu ini akan menghasilkan cahaya pada hati si pedzikir, ia akan menerangi hati yang gelap, yang pada akhirnya ia akan menjadi sebuah cahaya dan pandangan kasyaf yang sempurna (an-Nurut tamam wal kasyful kamil).

Itulah salah satu dari dua puluh faedah yang disebutkan Imam ar-Razi dalam tafsir mafatihul ghaibnya, sehingga beliau pun ketika menjelaskan surat al-Ikhlas ayat satu,Qul huwallohu ahad, ia menyebutkan ada tiga asma Allah dalam ayat tsb, Huwa , Alloh dan Ahad. Sedangkan Syekh Ismail dalam tafsir ruhul bayannya berkata bahwa Hu ini adalah kinayah ghaib maujud, yaitu perumpamaan untuk sesuatu yang ghaib dari yang maujud (ada). Sedangkan yang ghaib dari panca indera (hawasul maujud) pada azali, hanyalah Alloh Swt. Didalamnya terdapat makna yang sangat indah dan mendalam jika dikaji lebih jauh,sehingga Hu ini adalah kinayah dari Dzat yang Maha Ghaib. Hu ini adalah bagian dari Asma Alloh yang agung, karena seperti yang banyak diungkapkan ulama dalam kitab syarah hadits, bahwa asmaul husna tidak terbatas pada sembilah puluh sembilan nama.Hadits tentang sembilah puluh sembilan nama-nama Alloh swt adalah bukan hadits yang membatasi asmaul husna hanya sembilah puluh sembilan saja.

Para ulama Shufi banyak mengamalkan dzikir Hu ini seperti Ibnu Athaillah dalam kitab lathaiful minan, ketika membicarakan Hizib Abul Hasan asy-Syadzili.Juga dalam kitab dzikir Thoriqoh Qodiriyah yaitu kitab al-Fuyudhot ar-Robbaniyah, serta Syekh Ad-Dardir al-Khalwati, Syekh Soleh al-Ja’fari,Syeikhuna al-‘Arif billahi al-Habib Abah Umar bin Yahya Panguragan Cirebon, juga para ulama thoriqoh lainnya, mengamalkan dzikir Hu. Mereka adalah para ulama ‘Arif billah, mereka bukan ulama yang tidak tahu makna dzikir Hu, hingga menyebutkan ia adalah bid’ah sayyi’ah yang tidak ada dalilnya.

Dzikir Hu dalam urf kebiasaan ahli shufi merupakan salah nama Allah yang paling Agung. Karenanya pengamalan Hu ini adalah pengamalan secara hakikat urfiyah. Yang dimana seperti kita ketahui dalam pandangan ahlul ilmi, hakikat itu ada tiga, yaitu Hakikat lughowiyah, Hakikat Syar’iyah dan Hakikat Urfiyah, lihat kitab Jam’ul jawami.Karenanya pengamalan dzikir hu ini tidak bertentangan dengan syariat.Banyak penjelasan tentang hu ini panjang sekali, tapi disini saya meringkasnya supaya mudah difahami.

Demikianlah tulisan ringkas ini, semoga bermanfa’at bagi kaum muslimin semuanya.Terakhir, saya ingin memberikan nasihat buat para pengingkar ajaran tasawuf dan ahli shufi. Hati-hatilah kalian dengan para ahli shufi, karena mereka adalah Aulia Alloh Swt. Ingatlah daging ulama itu beracun!, takutlah anda, bahwa Alloh swt akan murka jika ada yang memusuhi Wali-nya. Mereka adalah para ulama arif billah yang mematikan hati mereka(mengendalikan nafsu dan sebagainya), sebelum datang hari dimana dimatikannya hati manusia, mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh syariat Quran Hadits Ijma Qiyas , mereka bukanlah orang-orang yang menyalahi perintah Alloh dan Rasul-Nya.

Firman Alloh Swt
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

Hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda , Allâh Swt berfirman :
مَنْ عَادَى ليَ وَلِيّاً ، فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ
Barangsiapa yang memusuhi wali–Ku maka sungguh kata Allâh aku telah mengumumkan perang terhadapnya.

Adapun jika kita mendapati seolah-olah ada prilaku atau ucapan dari para ahli shufi tersebut, seakan akan ia bertentangan dengan syari’at, maka kita wajib mentakwil dan memaknainya ke suatu faedah makna yang baik , bukannya langsung malah menyalahkan mereka. Seperti apa yang diungkapkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Fatawa Haditsiyahnya, bahwa wajib bagi kita mentakwil kalam ulama shufi kemakna yang baik, karena ia terkadang mengandung Syatohat.

Seperti apa yang disebutkan oleh Imam Abu Zakaria an-Nawawi dalam kitab Bustanul ‘Arifin.Beliau Imam Nawawi memberikan contoh dengan hikayat Syeikh Abul Khair yang berasal dari Ibrahim ar-Ruqi. Dikisahkan dari Ibrahim Ar Ruqi, dia berkata: Saya bertujuan untuk belajar kepada Syaikh Abul Khoir dan mengucapkan salam kepadanya, maka tibalah saat Sholat Maghrib dan beliau bertindak sebagai imam shalat, namun sayangnya bacaan Fatihahnya tidak lurus, maka dalam hati saya berucap “Perjalanan yang tersia-siakan”.

Setelah selesai shalat kemudian saya keluar dari musholla untuk bersuci, dan tiba-tiba ada hewan buas yang menghampiriku, sontak saja saya kembali ke Musholla tempat Syaikh Abul Khoir, saya matur pada Beliau bahwa ada macan yang menghampiri ku, lalu Syaikh itu keluar dan meneriaki si Macan : “Bukannya aku telah berkata padamu, jangan coba-coba mengganggu tamu-tamu ku “. Seketika macan itu langsung menyingkir menjauh, dan akupun bisa bersuci dengan tenang.

Dan manakala saya kembali, Beliau Syaikh Abul Khoir berkata: “Yang kalian lakukan cuma meluruskan dzohir-dzohir saja, karena itu kalian takut macan; sedangkan perhatian kami adalah meluruskan hati, maka dari itu macan pun takut kepada kami”. Saya (Imam Nawawi) berkata: Terkadang seorang yang pura-pura alim fiqh padahal dia sama sekali bukan ahlinya beranggapan bahwa Sholat-nya Syaikh Abul Khoir ini rusak karna gagal paham dengan Dawuhnya Syaikh Ar Roqqi “Sayangnya bacaan Fatihah nya tidak lurus”, pemahaman semacam ini jelas timbul dari kebodohan dan kedunguannya karna dia telah mengumbar (tidak mengontrol) persangkaan buruknya dalam menyikapi Amaliyah para Waliyullah, maka seorang yang berakal hendaknya berhati-hati bila membahas hal semacam ini.

Bahkan kewajiban nya bila belum paham hukumnya adalah hendak meminta petunjuk dari seorang yang mengerti hukumnya, dan (yang penting lagi) bila suatu saat kamu menjumpai hal-hal seperti ini -yakni perkara yang kelihatannya menyalahi aturan agama namun sebenarnya tidak menyalahi,kamu harus mentakwil perbuatan para Waliyullah itu. Khusus dalam kasus ini (Sholat nya Syaikh Abul Khoir yang bacaan Fatihah nya tidak lurus), jawabannya memiliki tiga sudut pandang (yang membenarkan):

Pertama: Beliau membaca Surat itu dengan Lahn yang tidak merusak makna, dan yang seperti ini jelas tidak merusak Sholat dengan mufakat Ulama.

Kedua: Beliau memang terkalahkan dengan Lahn itu yang disebabkan oleh kecacatan pada Lidahnya, maka Sholat nya juga dihukumi Sah dengan Mufakat Ulama.

Ketiga: Andaipun tidak ada udzur bagi Beliau, maka membaca Surat Al-fatihah bukanlah merupakan keharusan menurut Imam Abu Hanifah dan sekolompok Ulama lainnya, dan tentu saja Syaikh Abul Khoir ini tidak harus terikat dengan Madzhab Ulama yang mewajibkan membaca alfatihah.” (Bustanul Arifin halaman 72-73).

Semoga kita selalu menjaga lisan kita dari ucapan terlalu gampang menyalahkan orang lain. Tamat al-Hamdulillah


Bandung 28-11-2019
al-Faqir Herwin Purnama Jaya, Khadim majlis taklim Jama’ah Thoriqoh asy-Syahadatain (Umariyah) Bandung.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here