The news is by your side.

Guru Ngaji di Pelosok Desa: Penerang Jalan Pembentuk Karakter Generasi Bangsa

Setiap tanggal 25 November, kita memperingati Hari Guru Nasional sebagai wujud penghargaan terhadap para pendidik yang telah berjasa membentuk karakter dan peradaban bangsa. Di antara para pendidik itu, ada sosok-sosok yang sering luput dari sorotan: guru mengaji di kampung. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi pelita yang menerangi jalan kehidupan masyarakat.

Guru mengaji adalah figur yang mengabdikan diri tanpa pamrih. Banyak di antara mereka yang mengajar di musala, masjid, atau rumah sederhana tanpa mengharapkan balasan materi. Waktu istirahat mereka kerap tersita untuk memastikan anak-anak kampung bisa membaca Al-Qur’an, memahami akhlak mulia, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam sunyi malam atau selepas magrib, suara lembut mereka memandu bacaan demi bacaan, huruf demi huruf, hingga akhirnya menjadi kepandaian yang melekat seumur hidup.

Peran guru mengaji bukan hanya mengajarkan cara melafalkan ayat-ayat suci. Mereka adalah teladan yang menanamkan nilai kesabaran, ketekunan, rasa hormat, dan budi pekerti.

Di tengah pergaulan zaman yang cepat berubah, guru mengaji tetap menjadi penjaga moral di lingkungan kampung. Setiap nasihat yang mereka sampaikan selalu membekas—sederhana, tetapi penuh makna.

Banyak guru mengaji yang tetap mengajar meski usia tak lagi muda. Dengan tongkat kecil atau langkah perlahan, mereka datang ke tempat pengajian, menjaga tradisi pendidikan agama yang diwariskan turun-temurun.

Keikhlasan ini membuat mereka layak dinobatkan sebagai pejuang pendidikan, meski tidak mengenakan seragam atau gelar akademik.

Pengajian di kampung bukan sekadar kegiatan belajar. Ia adalah ruang kebersamaan yang memperkuat ikatan sosial.

Di sana, anak-anak belajar menghormati yang lebih tua, saling membantu, dan berinteraksi dengan santun. Semua itu tercipta berkat bimbingan guru mengaji yang sabar mengarahkan.

Jika dilihat dari keseharian dan budaya transformasi pengetahuan ini, tentu konsep dan implementasi pendidikan karakter menjadi sebuah kenyataan.

Pada peringatan Hari Guru Nasional ini, sudah sepantasnya kita memberikan penghargaan sebesar-besarnya kepada guru mengaji. Mungkin nama mereka tidak pernah masuk ke daftar pahlawan pendidikan nasional, tetapi jasa mereka nyata dan tak tergantikan.

Mereka adalah guru sejati yang mengajar dengan hati, menuntun tanpa batas, dan mengabdikan diri tanpa lelah.

Mari kita sampaikan terima kasih kepada guru mengaji, mereka yang telah menanamkan cahaya dalam kehidupan kita sejak kecil.

Penulis Soleh Hidayat, Ketua Ikatan Alumni STITNU Al Farabi Pangandaran.

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.