Itsar Ali bin Abi Thalib KA, dan Tantangan Historiografi Islam Nusantara

Wahyu Iryana, kader Muda NU, penulis buku Gerakan Syi’ah di Nusantara – Sejarawan di Indonesia masih cenderung menghindari pembahasan tentang Itsar (pengorbanan) Sayidina Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah, karena takut disalahpahami sebagai promosi Syi’ah. Padahal, bagi sejarawan, menulis sejarah berdasarkan data dan fakta adalah keharusan. Ali bin Abi Thalib bukan hanya Khalifah keempat dalam tradisi Sunni, tetapi juga sosok utama dalam Syi’ah yang dimuliakan sebagai pemimpin sejati umat setelah wafatnya Rasulullah. Namun, dalam realitas historis, Ali adalah bintang di antara para sahabat, figur utama yang dihormati oleh Sunni dan Syi’ah. Kiprahnya sebagai penasihat utama para khalifah sebelum dirinya dan setelahnya menjadi bukti bahwa beliau bukanlah milik satu golongan tertentu, melainkan warisan bagi seluruh umat Islam.
Ali bin Abi Thalib KA dalam Tradisi Tabaqat
Tabaqat adalah genre literatur Islam yang berisi biografi ulama dan sahabat Nabi. Kitab-kitab seperti Tabaqat al-Kubra karya Ibn Sa‘d dan Tabaqat al-Fuqaha karya Abu Ishaq al-Syairazi mencatat peran besar Ali bin Abi Thalib. Dalam berbagai kitab tabaqat versi Sunni, Ali digambarkan sebagai sahabat utama dengan keutamaan ilmu, keberanian, dan kebijaksanaan luar biasa. Sementara dalam tabaqat versi Syi’ah, Ali menempati posisi lebih tinggi sebagai Imam yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah.
Namun, baik Sunni maupun Syi’ah sepakat bahwa Ali adalah figur agung dalam sejarah Islam. Ia dikenal dengan itsar—mendahulukan orang lain di atas dirinya sendiri. Misalnya, ketika ia memberikan baju perangnya kepada fakir miskin atau memilih jalan pengorbanan demi umat Islam. Sikap itsar Ali ini tidak hanya menjadi inspirasi bagi Muslim Syi’ah, tetapi juga bagi Muslim Sunni yang menghormatinya sebagai bintang di antara para sahabat.
Jejak Syi’ah di Nusantara
Jejak ajaran Syi’ah di Nusantara tidak lepas dari perjalanan saudagar Persia, Hadramaut, dan Gujarat. Mereka menyebarkan ajaran Ahlul Bait melalui tasawuf dan tarekat. Meskipun dominasi Islam di Nusantara lebih bercorak Sunni, pengaruh Syi’ah masih bisa ditemukan di berbagai daerah.
Di Aceh, pengaruh Syi’ah tampak dalam tradisi Tabuik di Pariaman yang mirip dengan peringatan Asyura di dunia Syi’ah. Kesultanan Aceh juga menggunakan gelar “Syah,” yang mengindikasikan pengaruh Persia. Beberapa ulama Aceh yang mengajarkan penghormatan kepada Ahlul Bait berasal dari jaringan keilmuan Timur Tengah yang dekat dengan ajaran Syi’ah.
Di Bengkulu, pengaruh ajaran Syi’ah dapat ditemukan dalam beberapa komunitas tarekat. Sejumlah makam keramat yang dihormati masyarakat memiliki keterkaitan dengan penyebar Islam keturunan Ahlul Bait.
Di Sulawesi, beberapa kerajaan seperti Kerajaan Gowa-Tallo memiliki hubungan erat dengan Islam yang bercorak tasawuf dan penghormatan kepada dzurriyah Rasulullah. Beberapa komunitas Muslim di Sulawesi masih mempertahankan ritual yang mengandung unsur penghormatan kepada Ahlul Bait, meskipun dalam bingkai Sunni.
Di Jawa Barat, kisah Borosngora, tokoh yang diyakini sebagai penyebar Islam di Galuh, Ciamis, menunjukkan adanya pengaruh ajaran yang dekat dengan Ahlul Bait. Borosngora dikisahkan menerima ajaran Islam langsung dari Mekah dengan corak pemikiran yang menonjolkan penghormatan kepada keluarga Nabi.
Di Jawa Timur dan Madura, jejak penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib tampak dalam beberapa tradisi pesantren dan tarekat. Salah satu contohnya adalah pengaruh ajaran tarekat yang mengajarkan kecintaan kepada dzurriyah Rasulullah dan peringatan khusus terhadap peristiwa Karbala, meskipun dalam kerangka Sunni.
Tabaqat dalam Narasi Syi’ah di Indonesia
Narasi sejarah selalu bergantung pada siapa yang menuliskannya. Dalam kitab-kitab tabaqat yang dipengaruhi oleh perspektif Sunni, keberadaan Syi’ah di Indonesia sering kali disamarkan atau diabaikan. Namun, dalam tradisi lain, jejak Syi’ah tampak jelas dalam beberapa kelompok tarekat seperti Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang memiliki unsur penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib.
Dalam konteks modern, narasi tentang Syi’ah di Indonesia sering kali menjadi bahan polemik. Beberapa pihak melihatnya sebagai bagian dari sejarah Islam Nusantara yang sah, sementara yang lain menganggapnya sebagai pengaruh luar yang mengganggu kemurnian Islam di Indonesia.
Tantangan besar bagi historiografi Islam di Indonesia adalah bagaimana menempatkan jejak Syi’ah secara objektif tanpa harus terjebak dalam perdebatan sektarian. Kita bisa belajar dari tradisi tabaqat, bahwa sejarah Islam bukanlah narasi tunggal, melainkan mozaik besar yang mencakup berbagai perspektif.
Syair: Ali Bintang Para Sahabat
Di jalan sunyi, pedang tak bergetar,
Ali tersenyum, tapi matanya paham,
Di setiap luka, ada cahaya yang berkobar,
Seperti bintang yang tak pernah padam.
Duka Karbala masih terdengar,
Di antara debu dan tanah basah,
Bukan dendam yang ia ajarkan,
Tapi kasih yang tak berbelah.
Sejarah menulis dengan tinta yang bias,
Namun cahaya tak butuh pengakuan,
Ali tetap ada dalam nafas,
Di hati yang tak tertawan.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



