The news is by your side.

Jejak Pesantren Tatar Sunda Pra Kemerdekaan : Kabupaten Karawang dan Cirebon

Jejak Pesantren Tatar Sunda Pra Kemerdekaan : Kabupaten Karawang dan Cirebon | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat
Masjid Agung Buntet Pesantren

Perkembangan dunia pendidikan di Jawa Barat telah berjalan sejak masa prasejarah, walaupun sistem pendidikan yang berlaku pada waktu itu tidak dapat diketahui dengan pasti. Pada masa Kerajaaan Sunda yang eksis dari abad ke-8 hingga abad ke-16, sistem pendidikan yang terdapat di Tatar Sunda dipastikan banyak dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha. Hal ini terbukti dari naskah Sanghyang Siksa Kanda(ng) Karesian yang disusun pada tahun 1518 di mana di dalamnya ada kata-kata pamagahan (nasehat), warah sing darma (didikan pendeta), dan yang lebih jelas lagi telah hidup istilah sisya (siswa atau murid) dan guru, yang menunjukkan sudah dikenalnya suatu sistem pendidikan.

Adapun keberadaan sistem dan kegiatan pendidikan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat muslim di Tatar Sunda itu sendiri, sejalan dengan kemunculan dan perkembangan agama Islam yang terjadi di wilayah tersebut. Menurut  Edi  S  Ekadjati, mengutip  Hageman,  awal  persentuhan  masyarakat Tatar Sunda dengan ajaran Islam bermula dari kedatangan orang Islam pertama di Tatar Sunda yaitu Haji Purwa ke Cirebon Girang dan Galuh pada tahun 1250 J/1337 M yang bermaksud menyebarkan agama Islam. Namun keterangan ini belum   bisa   dipastikan  kebenarannya  karena  Hageman   tidak   menunjukkan referensi yang tergolong sumber primer.

Menurut sebuah informasi pada tahun 1418 M telah datang ke Negeri Singapura, rombongan pedagang dari Campa, di antaranya terdapat Syekh Hasanudin bin Yusuf Sidik seorang ulama yang setelah beberapa saat tinggal di sini,  pergi  menuju Karawang  dan  menetap  di  Karawang  dengan  membuka lembaga pendidikan yang bernama Pesantren Quro.

Pada abad ke-16, kondisi Islam di beberapa daerah di Indonesia sudah mulai  kokoh. Hal  ini  dibuktikan dengan berdirinya kerajaaan-kerajaaan Islam sebagai pusat kekuasaaan politik Islam seperti Kesultanan Cirebon, Banten dan Demak. Walaupun di ketiga kesultanan tersebut tidak disebutkan adanya sebuah pesantren sebagai institusi, namun setidak-tidaknya di ketiga kesultanan tersebut sudah terdapat masjid sebagai pusat kegiatan pendidikan Islam yang menerapkan pola pendidikan seperti pesantren sekarang.

Selanjutnya pada tahun 1420 M seorang ulama yang bernama Syekh Datuk Kahfi datang juga dan menetap di Singapura yaitu di Kampung Pasambangan  dan  mendirikan lembaga  pendidikan  yang  bernama  pesantren Pasambangan. Hingga akhir hayatnya ia menetap di sana dan dimakamkan di Giri Amparan Jati. Berdasarkan informasi tersebut, keberadaan Pesantren Quro di Karawang dan Pesantren Pasambangan di Amparan Jati- Cirebon dapat dikatakan sebagai dua pesantren pertama dan kedua tertua di Jawa Barat yang berdiri hanya selang dua tahun.

Indikasi lain yang menunjukkan bahwa di Jawa Barat terdapat pesantren lain yang berdiri setelah Pesantren Quro dan Pasambangan ialah bahwa pada tahun 1470 M Cirebon telah berkembang sebagai pusat kegiatan penyebaran dan pendidikan dengan hadirnya Syarif Hidayatullah sebagai “pemimpin pesantren” sekaligus menjadi guru agamanya.

Sejak tahun 1528 Syarif Hidayatullah banyak berkeliling untuk menyebarkan agama Islam ke segenap lapisan masyarakat. Ia juga mengirimkan “santri-santrinya” ke daerah-daerah pedalaman seperti Luragung, Kuningan, Sindangkasih,   Talaga,   Ukur,   Cibalagung,  Kluntung   Bantar   (Pagadingan, Indralaya, Batulayang, dan Timbanganten). Untuk menjaga kontinuitas penyebaran  Islam,  di  Cirebon  sendiri,  Syarif  Hidayatullah  telah mengangkat Syekh Bentong  menjadi pimpinan Masjid Agung Ciptarasa dan menjadi imam juga khatib di masjid agung tersebut, sekaligus mengawasi pondok-pondok pesantren di Cirebon dan sekitarnya. Selain Syekh Bentong, di antara tokoh lain yang banyak turut membantu Syarif Hidayatullah di dalam menyebarkan agama Islam sekaligus mengawasi pesantren ialah Maulana Abdurahman (Syarif Abdurahman) dan adiknya, Maulana Abdurrahim di daerah Panjunan.

Sepeninggal Syarif Hidayatullah, pada abad ke-18 kegiatan penyebaran agama Islam ke wilayah Jawa Barat terus berlangsung secara intensif. Pangeran Makhdum dan para mubaligh dari  Cirebon seperti  Pangeran Muhammad dan Pangeran Santri banyak mengislamkan penduduk daerah Pasir Luhur, Galuh, dan Sumedang.

Di antara pesantren tua di Cirebon, yang sampai sekarang masih berpengaruh adalah Pesantren Buntet di Cirebon. Pesantren ini didirikan oleh K. H. Mukoyim, pada abad ke-17. Pada masa K. H. Abdullah Abbas, Pesantren Buntet banyak berperan di dalam melakukan kegiatan yang menentang kebijakan pemerintah kolonial,  bahkan  K.  H.  Abdullah Abbas  dan  K  .H.  Anas  pernah berperan aktif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dengan ikut terlibat pada peristiwa pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Sumber : Hasil Penelitian yang berjudul “SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM
DI JAWA BARAT” Pimpinan Tim Peneliti Prof. Dr. Hj. Nina H. Lubis, M. S.

Leave A Reply

Your email address will not be published.