K.H. Abdul Chalim : Katib Tsani yang Terlupakan

29

Suatu ketika, ia sedang menaiki sepeda, bersantai-santai di jalan. Tanpa tahu dari mana datangnya, tiba-tiba sebuah bus melaju kencang menuju ke arah dirinya. Tidak ada kesempatan menghindar lagi baginya. Sekonyong-konyong mobil itu melindasnya tanpa ampun lagi. Wus..! Orang-orang yang menyaksikannya langsung berjerit-jerit !!!

Namun aneh. Jasadnya tidak diketemukan. Di saat bus itu berhenti, barulah Kiai Chalim berdiri di depannya. Dia baru saja turun dari atap bus. Rupanya di saat bus itu menyantap dirinya dengan cepat, secepat kilat dia langsung bersalto ke atas bus hingga terhindar dari maut. Reflek

Kiai Abdul Chalim lahir tahun 1898 di Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat. Putra seorang Kepala Desa bernama Kedung Wangsagama yang disegani di daerahnya.

Pendidikan: Menamatkan sekolah HIS di Cirebon, lalu melanjutkan pendidikannya ke beberapa pesantren di daerah Cirebon dan sekitarnya. Ia menguasai Bahasa Belanda dan Bahasa Arab dengan baik. Kemudian melanjutkan pendidikannya di Makkah dan bermukim di sana selama tiga tahun. Di Kota Suci itulah dia berkawan baik dengan K.H. A. Wahab Hasbullah, yang kelak menjadi Katib Aam PBNU periode pertama. Kedekatan itu bukan hanya

bekaitan dengan ilmu yang sedang mereka gali, tapi juga sebab keduanya memiliki hobi yang sama: sama-sama pendekar silat!

Pengabdian: Sekitar tahun 1922 ia berangkat ke Surabaya untuk menemui karibnya itu. Dari Leuwimunding ke Surabaya ditempuh jalan kaki selama sebelas hari hanya dengan makan kunir. Di Surabaya dia langsung lengket dengan Kiai Wahab. Apapun yang dilakukan Kiai Wahab tidak terlepas dari Kiai Chalim. Dalam mendirikan sekolah-sekolah, forum-forum diskusi dan beberapa aktivitas yang lain, mereka melakukannya berdua.

Puncak dari kedekatan hubungan itu terlihat ketika NU pertama kali didirikan 31 Januari 1926. K.H. A. Wahab Hasbullah menjabat Katib Awal, sedangkan K.H. Abdul Chalim menjabat Katib Tsani. Dalam setiap mengundang para ulama se-Jawa dan Madura, biasanya Kiai Chalim lah yang bertugas mengantarkan surat undangan itu ke rumah para ulama satu persatu. Sampai para kiai mengenal dengan baik sosok Kiai Chalim, begitu pula sebaliknya.

Ketika Hizbullah berdiri, 1944, K.H. Abdul Chalim adalah salah satu penasehat nasionalnya. Pada masa perang kemerdekaan, hidupnya lebih banyak di hutan dan gunung-gunung untuk perang gerilya mengusir penjajah. Semasa pemerintahan sementara, ia menjabat anggota MPRS sampai berdiri pemerintahan definitif

Kiai Chalim wafat pada tahun 1972, dimakamkan di samping musholla dan madrasah yang didirikannya di Leuwimunding, Majalengka, Cirebon.

Sumber : Buku Antologi NU I

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here