K.H. Mahrus Ali : Sang Juru Islah

241

Dalam sebuah forum pertemuan ulama NU se-Jawa Timur dan Pangkopkamtib Jenderal TNI LB Murdani, Kiai Mahrus berpidato. Secara gamblang ia mengharapkan agar Jenderal LB Murdani selaku Pangkopkamtib membantu tugas alim ulama dalam mengurangi kebejatan moral bangsa.

“Kalau dihilangkan mungkin tidak bisa, tapi tolong dikurangi agar jangan nyolok mata, bukan kok malah didekengi, ” kata Kiai Mahrus, yang disambut tawa hadirin dan senyuman dari Jenderal Beni. Memang itulah salah satu gaya Kiai Mahrus. Berani dan suka bicara apa adanya.

Kiai Mahrus lahir di Dukuh Gedongan, Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat 1906. Ayahnya, Kiai Ali bin Abdul Aziz adalah pendiri dan pengasuh Pondok Gedongan. Sedangkan kakek dari ibunya adalah seorang ulama besar Jawa Barat pada akhir abad 18.

Pendidikan: Sejak kecil belajar kepada orang tuanya di Pesantren Ender, Astanajapura yang didirikan kakeknya. Masuk Pesantren Panggung, Tegal yang diasuh Kiai Muchlas. Pindah ke Pesantren Kasingan, Rembang asuhan Kiai Cholil Harun. Di sini ia menjadi Lurah Pondok yang sangat disegani. Lalu masuk Pesantren Lirboyo, Kediri, asuhan K.H. Abdul Karim. Mengaji temporer di Tebuireng pada K.H. M. Hasyim Asy’ari dan Pesantren Watucongol, Magelang, asuhan K.H. Dalhar.

Sejak tahun 1954 menjadi pemangku Pesantren Lirboyo yang didirikan mertuanya, K.H. Abdul Karim, bersama K.H. Marzuqi Dahlan, yang juga menantu Kiai Abdul Karim. Pada 11 Rajab 1386 H/25 Otoober 1965 mendirikan Universitas Islam Tribakti (UIT) dan menjadi rektornya yang pertama.

Pengabdian: Sejak muda Kiai Mahrus sudah banyak terlibat dalam jam’iyah NU, namun lebih banyak berada di luar kepengurusan. Di saat pecah Perang 10 Nopember 1945, ia turut terjun langsung ke tengah medan pertempuran bersama para santrinya. Salah seorang di antaranya. Mayor Mahfudh, menjadi Komandan Batalyon Hizbullah.

Ketika berlangsung Muktamar Palembang (1952) dia menjadi salah seorang utusan PCNU Kodya Kediri, turut mewarnai jalannya persidangan hingga NU keluar dari Masyumi. Sepulang dari Palembang, dia diangkat menjadi Rais Syuriah PCNU Kodya Kediri (1953 -1958). ‘

Sejak tahun 1958 diangkat sebagai Rais Syuriah PWNU Jawa Timur hingga tahun 1985.

DalamMuktamarSitubondo(1984) terpilih sebagai salah seorang mustasyar PBNU hingga wafatnya.

Perjuangan Kiai Mahrus dalam NU bersifat total. Salah seorang santrinya menuturkan, bahwa Kiai Mahrus telah mewaqafkan jiwa dan raganya untuk agama (melalui perjuangan NU) dan negara. Menurut pandangan Kiai Mahrus, agama dan negara adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. “Haram hukumnya mendirikan negara di atas negara. Tak ada kamus memberontak di dalam NU”.

Dia dikenal sebagai juru islah para kiai yang berani. Ketika suhu konflik di NU semakin meningkat sejak Muktamar NU ke-26 di Semarang (1979), disusul Munas dan Konbes Kaliurang (20 Agustus 1981), dia pula yang datang bersama K.H. Ali Maksum dan K.H. As’ad Syamsul Arifin ke rumah Ketua Umum PBNU DR K.H. Idham Chalid untuk memintanya mundur dari jabatan. Pada saat itu permintaan diterima, namun akhirnya dicabut kembali.

Perseteruan semakin memuncak hingga menjelang Muktamar ke-27 di Situbondo. Namun Kiai Mahrus tetap banyak dijadikan rujukan sebagai juru damai. Seperti yang pernah terjadi antara kelompok HM Subchan ZE vs K.H. Achmad Syaichu. Begitu pula ketika terjadi kelompok Cipete vs Situbondo. Ketika banyak tokoh sudah saling bersitegang. Kiai Mahrus masih bisa bersikap tenang.

Bahkan ketika media massa terus-menerus menyoroti perseteruan kelompok Cipete vs kelompok Situbondo, Kiai Mahrus malah berusaha menenangkan. Tidak ingin larut dalam permasalahan. “Jangankan di organisasi yang melibatkan sejumlah besar orang dengan latar belakang yang berbeda-beda, baik dari keluarga, pendidikan, maupun asalnya, di rumah saja tak luput dari perbedaan visi dan persepsi. Bukankah perbedaan itu suatu rahmat bila disikapi secara dewasa?” tuturnya memberikan tamsil. Kalimat itulah yang akhirnya dapat menyadarkan banyak kiai untuk menurunkan tensi perselisihan pendapat mereka.

Sesepuh Kodam: Sejak Kodam V Brawijaya didirikan pada tanggal 17 Desember 1948, Kiai Mahrus aktif di dalamnya. Dia menempati posisi sebagai Sesepuh Kodam V Brawijaya. Semasa hidupnya dikenal

dekat dengan Menhankam/Pangab LB Murdani. Di saat Kiai Mahrus wafat, Senin 6 Ramadhan 1405 H/26 Mei 1985 dalam usia 85 tahun, ia mendapatkan penghormatan secara militer. Berkat jasa-jasanya yang luar biasa kepada bangsa dan negara. Jenazah Kiai Mahrus dimakamkan di pemakaman keluarga di sebelah barat masjid pondok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here