Kesaktian NU tanpa Tedeng Aling-Aling

99
Kesaktian NU tanpa Tedeng Aling-Aling

Oleh: Wahyu Iryana

Nahdlatul Ulama (NU) adalah penerang dunia dalam kegelapan, sejak kelahirannya yang masih seumur jagung NU telah mampu membuka mata dunia ketika menggagalkan pembongkaran makam Nabi Muhammad SAW oleh pemerintah Saudi melalui Komite Hijjaz yang diketuai KH. Wahab Hasbullah.

Kelahiran Nahdlatul Ulama (NU) 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan 26 Januari 1926 didirikan oleh Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari atas restu gurunya Mbah Kholil Bangkalan Madura. Kader NU harus tahu harlah berdirinya NU sebagai penguat haroqah beroganisasi. NU memang didirikan oleh para Kiai-kiai kampung yang berfikiran universal, para kiai walau berasal dari kampung mereka tidak kampungan. Kiai-kiai NU yang memiliki basis pesantren di kampung- kampung mendirikan NU atas dasar mewujudkan Islam yang rahmatan lil’alamin. Inilah bukti bahwa Kiai-kiai yang lahir dari kampung memang berfikir luwes dan universal.

Kesaktian NU tidak berhenti ketika masih bayi, tetapi terus berproses hingga menjadi organisasi terbesar di dunia, hal ini bukan tampa hambatan, dari mulai pertarungan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). NU telah memberikan saham terbesar dengan mempertaruhkan nyawa para syuhada kiai santri dari jaman Portugis, Inggris, Belanda, Jepang. Hingga kemerdekaan 9 Ramadhan (17 Agustus 1945) dengan wakil KH. Wahid Hasyim sebagai salah satu panitia TIM sembilan bersama Soekarno dan Hatta.

Santri Kiai NU Berjuang untuk Negara

Tidak dipungkiri kiprah NU untuk bangsa Indonesia tidak berhenti sampai memerdekakan bangsa saja, namun juga mempertahankan kemerdekaan dari setiap jengkal tanah Pertiwi dari rongrongan tangan tangan yang tidak bertanggung jawab, ketika agresi Belanda ke dua perang mempertahankan NKRI dicetuskan Hadratus Syech KH. Hasyim Asy’ari dengan Deklarasi perlawanan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Terbunuhnya Jendral Mallaby (Jendral Inggris yang berpengalaman dalam strategi perang Eropa)oleh santri senior KH. Hasyim Asy’ari yang bernama Kang Solikhin (Kiai Solihin Babakan Ciwaringin Cirebon) dengan menggunakan dua ujung jarinya adalah bukti kesaktian seorang santri yang kuat riyadoh dengan amalan zikir dan doa.

Kiai Solihin Babakan Cirebon santri senior yang menemani KH. Hasyim Asy’ari ketika dipenjara oleh Jepang. Kang Solihin lah yang merayu Jepang menjadi badal penyiksaan untuk KH. Hasyim Asy’ari, seperti pukul jari, direndam di drum minyak tanah, dicabut kuku-kuku jemari, hingga ditenggelamkan berulang ulang sampai 40 kali ke sumur dengan posisi kedua kaki di ikat dan kepala di bawah (Wawancara penulis dengan KH. Zamzami Amin Muslimin Babakan Ciwaringin Cirebon).

Badal siksaan yang dinisbatkan untuk gurunya adalah bentuk ta’lim seorang santri pada kiainya. Ki Solihin Cirebon juga memiliki ajian saepi angin yang membuat dia bisa berlari kencang, hal ini pernah disaksikan oleh tentara Jepang sendiri. Ketika KH. Hasyim Asy’ari ditangkap tentara Jepang atas tuduhan keributan di Cukir, Mbah Hasyim dinaikan di atas truk Jepang yang melaju cepat. Secara logika truk yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi tidak mungkin dikejar oleh seseorang dalam posisi jalan maupun lari dengan jarak 1 kilo lebih jarak dengan truk yang membawa Mbah Hasyim. Namun tidak mustahil untuk santri Cirebon Kang Solihin. Dengan ilmu saepi angin kang Solihin mampu mengejar truk militer Jepang yang membawa gurunya. Kiai Solihin juga merupakan penyambung lidah santri, pejuang yang akan soan ke Mbah Hasyim. Bung Tomo sendiri adalah sahabat karib Kang Solihin bahkan sering minta izim agar selamat dalam peperangan. Resolusi Jihad dan terbunuhnya Jendral Mallaby adalah bukti konkrit perlawan santri untuk kejayaan negeri.

NU Diplomat Ulung

Karena positif thinking kiai-kiai NU kepada politikus negeri NU akhirnya sering dikebiri, akhirnya dalam menyongsong pemilu pertama tahun 1955,NU keluar dari Masyumi dan atas ide dari Mbah Wahab Hasbullah, NU menjadi partai politik secara mandiri dengan memainkan strategi tiki taka jitu, NU akhirnya sangat diperhitungkan oleh lawan maupun kawan politik karena langsung meraup suara yang sangat banyak bahkan masuk ke dalam 5 besar partai pemenang pemilu pada pemilu pertama 1955.

Hingga akhirnya munas NU merumuskan NU untuk kembali ke Khittah 1926, ketika Muktamar Cipasung, Tasikmalaya NU dikomandoi oleh Gusdur (Abdurrahman Wahid), pada masa ketua Tanfidziyah dipegang oleh GusDur kesaktian NU semakin nampak, mampu menembus sekat sekat budaya, memainkan peran kebangsaan yang kaffah, memasifkan masa gerakan yang terserak, lobi tingkat dunia, daya tawar NU semakin layak diperhitungkan apalagi ketika Gusdur menjadi Presiden RI ke-4. Walau masa-masa Gusdur menjadi ketua Tanfidziyah PBNU gempuran dari Orba sangat ketara sekali.

Masa-masa Gusdur ini kader-kader intelektual muda NU progresif revolusioner disemai secara terstruktur, lambat laun semakin bermunculan dan nampak hasil kaderisasi Gusdur, sebut saja Mahbub Djunaedi, Zamroni kemudian dilanjutkan generasi sesudahnya Kiai Sa’id Aqil Siradj, Hj.Khofifah Indar Parawansa, Kiai Masdar Farid Mas’udi, Gus Muwafiq hingga lahir generasi ketiga seperti Gus Ulil Abshar, Gus Yahya Staquf, Kiai Robikin, Gus Ipul, Cak Imin yang pernah dididik melalui kaderisasi non formal maupun kaderisasi kader secara formal oleh Gusdur. Akui tidak diakui mereka adalah orang-orang yang pernah dibesarkan oleh Gusdur.
Sampai detik ini kolaborasi gerakan wacana kultur dan struktural NU telah mampu melewati masa masa sulit. Rahim NU telah melahirkan tokoh-tokoh potensial yang berkhidmat untuk memaslahatan agama dan bangsa.

NU sebagai Anak Kandung Revolusi

Sejak kelahirannya NU telah ikut berkeringat dan berdarah darah memerdekakan Bangsa, mempertahakan kemerdekaan, mengisi kemerdekaan tak Khayal bahwa NU merupakan anak kandung bangsa yang lahir dari rahim ibu pertiwi, putra Pribumi berwajah mesem (senyum). Dari rahim NU lahir pula Ansor Banser sebagai cikal bakal Hisbullah dan laskar kerakyatan hingga pembentukan Tentara Rakyat Indonesia yang dikemudian hari ketika Pembela Tanah Air (PETA) melebur menjadi Tentara Republik Indonesia, didalamnya manunggal pula para santri santri pesantren menjadi anak kandung revolusi.

Dari segi wacana penulis kira tokoh-tokoh NU telah melampaui maqom para pemikir di jamannya. Dari segi gerakan kemanusiaan NU tidak hanya bermaqom nasional namun lebih dari itu telah mendunia. NU tidak berfikir untuk isi perutnya sendiri tetapi untuk pemberdayaan seluruh umat manusia di dunia.

Pengakuan atas peran peran stategis NU pada negara-negara Timur Tengah yang sedang dilanda konflik sebut saja Suria, Palestina, Afganistan, Libya, Irak, Tunisia, Mesir termasuk negara negara Eropa, Vatikan sekalipun, maupun negara negara maju di Asia seperti Jepang, Korea Selatan dan Cina mengakui eksistensi NU dalam mewujudkan Islam Wathaniyah dan Islam yang Rahmatan lil’alamin, Islam yang damai dan memberi penerang untuk yang lain telah memunculkan ide para akademisi Universitas Gajah Mada mengajukan NU menjadi kandidat peraih Nobel Perdamaian dunia. Itulah pengakuan jujur dari masyarakat.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah masih layak NU disebut dengan Islam tradisional? Sepertinya pernyataan Islam tradisional yang disematkan kepada NU sudah tidak relefan lagi bahkan mungkin merupakan ejekan atau semacam sindirian oleh para peneliti barat era penjajahan Belanda yang sering memakai historiografi Eropa sentris.

Dikotomi Islam Modern, Tradisional bahkan abangan adalah akal akalan untuk mengkerdilkan peran-peran keran konkrit Kiai-kiai NU dalam kehidupan berbangsa maupun dalam kancah dunia internasional.

Penegasan dan penyadaran ini agaknya menjadi penting untuk warga Nahdiyin bukan bermaksud untuk berjumawa ria seolah NU yang paling hebat, namun setidaknya untuk semakin memberikan kepercayaan diri agar tetap konsisten di garda depan mejaga marwah para kiai NU, mejaga NKRI, dan menebar damai keseluruh alam seperti pesan kanjeng Rasullulah SAW, untuk menyemai keselamatan dalam nafas Islam yang cinta damai dan rahmatan lil’alamin. Bukankah kiai (ulama) Ambiya walmursalin. Mereka para kiai (ulama) adalah pewaris para Nabi? Tentu saja Ulama yang dimaksud adalah ulama yang memberi rasa damai, yang merangkul bukan memukul, yang hampir sebagaian umurnya dinisbatkan untuk mendalami agama, memahami kandungan ayat suci Al-Quran, menghafal hadist, belajar kitab-kitab kuning, mempunyai nasab guru dan keilmuan yang jelas dan faham peta konsep hidup berbangsa, pergaulan internasional, memikirkan sesama. Hal ini tentu saja semuanya dimiliki oleh ulama ulama NU, kiai-kiai NU yang sadar akan tugasnya untuk ngemong umat sampai akhir hayat.

Sejak Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dibubarkan oleh pemerintahan Jokowi melalui Mentrinya Wiranto. NU menjadi bulan bulanan karena dianggap yang bermain dibelakang layar, hampir setiap kegiatan NU, maupun staitment kiai-kiai NU secara organisasi maupun individu dimaknai miring oleh orang orang yang membenci NU. Namun itu tidak membuat NU kecil malah semakin membesarkan nama NU.

Penulis teringat wejangan Kiai Khos NU, janganlah melawan NU, jangan menjelek jelaskan NU, jangan pula mencari hidup di NU untuk hal-hal yang tidak baik takut kuwalat, karena NU itu punya karomah kesaktiannya tanpa tedeng aling-aling. Lihat saja konteks kekinian
Pasca pemilihan umum 17 April 2019 yang sudah lalu, peran-peran NU untuk mewarnai kehidupan berbangsa tentunya semakin strategis, ini harus dikuatkan dengan semangat satu gerak, satu komando satu pemahaman dalam mengawal bangsa yang terus dinamis agar sejahtera dan maju rakyatnya. Jangan sampai banyak klem-klem sepihak orang orang yang baru meng-NU-kan diri seolah paling NU sejagat raya. Wallahu alam.

Doa dan fatihah untuk para muassis NU dan kejayaan NU sampai hari akhir. Aamiin.

(Penulis, Kader Muda NU Jabar. Alumnus PPS Ilmu Sejarah UNPAD).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here