Ketika Hati Telah Mati

71
Ketika Hati Telah Mati

Ustadz Anggi Pratama

Kamis malam seperti biasa selalu di adakan pengajian di PKMW Taman Belajar AL-AFIFIYAH, Kopo Elok RT05 RW04 Kelurahan Cirangrang, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung.

Acara yg dihadiri para santri itu menghadirkan Ustad muda sekaligus santri Taman Belajar AL-AFIFIYAH, ustad yg akrab di sapa kang Anggi itu menjabat juga sebagai ketua Rijalul ANSOR Kecamatan Babakan Ciparay.

Iklan Layanan Masyarakat

Acara yg dimulai pada malam hari itu tepatnya pukul 20;00 WIB dibuka dengan sholawat oleh team hadroh Muhibbin dan dilanjutkan dengan Tawwasul serta pembacaan surah Yasin secara berjamaah, khas warga Nahdliyyin. Pada kesempatan kali ini Kang Anggi mengangkat tema pengajiannya berjudul “Ketika Hati Telah Mati” yg dikutip dari kitab Mahkota Sufi karangan Syekh Abdul Qodir Al Jailani.

Setelah membuka pengajian dengan muqodimmah nya, Ustad muda kelahiran Kota Bandung itu, memaparkan isi yg terkandung dalam kitab tersebut ” Wahai pemuda. jangan sekali-kali engkau membantah dan memprotes takdirNYA (Allah). Apakah engkau tidak mengetahui tanda-tanda jika hati telah mati ? sesungguhnya menentang/memprotes takdir adalah tanda kematian beragama, tanda kematian tauhid, kematian tawakal dan ke ikhlasan. Ini berarti hati kita sudah padam.” ujar kang Anggi

Kang Anggi juga menekankan kepada para santri yg hadir pada malam itu, bahwa Nafsu memang suka menentang. Jangan hiraukan nafsu. Sebab jika dihiraukan dan kita beri tempat, tentu ia akan banyak menuntut. Ia banyak bertanya dan memprotes kepada ketentuan takdirNYA (Allah).

Ditengah ceramahnya Ustad muda yg menjabat sebagai ketua Rijalul Ansor Kecamatan Babakan Ciparay itu melantunkan ayat suci Al-Qur’an yg ia kutip dari surah Al-Fajr

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨
Wahai jiwa yg tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yg puas lagi di ridhaiNYA. [QS, Al-Fajar 27-28]

” Inilah jiwa yg tenang, yg patuh terhadap perintah qalbu (hati) dalam segala kebaikan. Apabila keadaan nafsu sudah demikian, maka tidak perlu di khawatirkan. Tidak perlu di waspadai lagi. Lenyap sudah keburukannya. Sesungguhnya orang yg telah dapat mengendalikan hawa nafsunya, berhak disebut memiliki sifat seperti Nabi Ibrahim AS.” Ujar Kang Anggi dihadapan para santri yg hadir pada malam itu.

Ketika ceramah sudah selesai ustad muda itu mengajak para santri untuk membaca Dzikir seribu Shalawat yg sebagai mana selalu di amalkan oleh guru mereka KH Wahyul Afif Al Ghafiqi atau lebih akrab di panggil Kang Mako oleh para Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bandung, beliau juga menjabat sebagai Sekretaris PCNU Kota Bandung.

“Alhamdulillah segala puji milik Allah yang telah memilih kita untuk memikul amanah yang agung ini. Semoga Allah menolong kita agar bisa menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Wahai Allah rekatkanlah hati dan sanubari kami ini dengan hati dan sanubari orang-orang yang dekat dan Engkau cintai dengan sanad yang kuat yang tersambung sampai kepada kanjeung Nabi Muhammad SAW” lanjut kang anggi sambil menutup acara pengajian malam itu dengan bacaan ” Wallohul muwafiq illa aqwamithoriq Wassalamualaikum Wr Wb.”

Penulis: Sandi Pampam (Wakil Bendahara PAC GP ANSOR Kecamatan Babakan Ciparay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here