KH. Mustofa Bisri

105
KH. Mustofa Bisri

KH. Ahmad Mustofa Bisri atau lebih sering dipanggil dengan Gus Mus (lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944; umur 71 tahun) adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang dan menjadi Rais Syuriah PBNU. Ia adalah salah seorang pendeklarasi Partai Kebangkitan Bangsa dan sekaligus perancang logo PKB yang digunakan hingga kini.

Ia juga seorang penyair dan penulis kolom yang sangat dikenal di kalangan sastrawan. Disamping budayawan, dia juga dikenal sebagai penyair.[1]

KH Ahmad Mustofa Bisri yang keseharianya akrab dipanggil Gus Mus. Kakeknya, H Zaenal Mustofa adalah seorang saudagar ternama  yang dikenal menyayangi ulama.

Iklan Layanan Masyarakat

Pendidikan non formal yang diberikan Orangtuanya tipologis keras dan  otoriter dalam prinsip—banyak memberikan pengaruh dalam kehidupan Gus Mus kedepan. Terutama menyangkut tentang prinsip-prinsip agama. Namun, dalam jenjang pendidikan formal Gus Mus terbilang kacau. Setamat sekolah  dasar tahun 1956, ia melanjut ke sekolah tsanawiyah dan nyatri di Lerboyo (kediri, 1956-1958).

Baru beberapa bulan di tsanawiyah, ia dipindahkan Ayahnya karena dalam konteks  pada saat itu, pendidikan pondok pesantren yang dijalankan oleh Gus Mus saat di Lerboyo ialah sisi tarbiyah suluk/pengetahuan.

Gus Mus juga memperoleh kesempatan untuk menimba dan meneguk ilmu sampai tingkat global luar negeri yaitu di Mesir. Kota yang merupakan pusat  kemajuan peradaban Arab ini, Gus Mus menegukan hikmah dari berbagai arah.

Pencerahan bangsa Prancis telah mendobrak kebekuan berfikir bangsa Arab lewat  semboyan liberte, egalite, fraternite (kebebasan, persamaan, persaudaraan) yang  digedorkan Napoleon Bonaparte kepada bangsa Arab mesir. Terutama di Kairo membawa perubahan signifikan terhadap para mahasiswa Indonesia di Mesir yang mau dan mampu meneguk air keilmuan, kebajikan, dan kebudayaan agung.  Mesir mempunyai sejarah peradaban agung yang panjang mulai raja-raja Fir’aun (Paraoh) dengan monumen-monumen agungnya, seperti piramida, ginza, dan lain sebagianya.

Ilmu-ilmu Gus Mus dari pondok pesantren Lirboyo (kediri) dan pesantren Krapyak (yogyakarta) berpadu, berkelindan dengan ilmu-ilmu di al Qisam al’Aalie lid Diraasaati al- Islamiyah wal ‘Arabiyah, Al Azhar University (Cairo), yang diselaminya. Sehingga sosok Gus Mus dengan leluasa beraktifitas yang berbau  seni namun tidak terlepas dari ciri khas pesantren. Sehingga membuka cakrawala keilmuan yang sangat luas serta memberikan kesan tersendiri bagi Gus Mus.

Di mata santri, selain kharismatik, Gus Mus adalah bagian seorang pengasuh yang sangat peduli, welas  asih, dan penuh perhatian terhadap mereka. Gus Mus begitu tekun dan sabar memperhatikan mereka. Santrinya berasal dari berbagai macam komunitas masyarakat. Sebagai konsekuensinya, mau tidak mau beliau harus banyak mengorbankan banyak kepentingan keluarga sendiri demi melayani santri.

Seorang guru yang tidak mengenal rasa lelah demi kesetiannya mengajar para santri. Selagi berada dirumah, sesempatnya Gus Mus berusaha untuk mengisi jadwal pengajian rutin yang berlaku di pesantren. Jangan heran ketika misalnya menjelang waktu subuh Gus Mus baru datang dari berpergian jauh, namun selepas waktu subuh tiba-tiba beliau langsung muncul untuk mengajar para santri. Ini sudah menjadi tradisi, dan inilah yang membuat para santri harus selalu memasang mata dan telinga menunggu  kerawuhan  (istilah Jawa: kepulangan)  beliau dari berpergian, supaya mereka tidak sampai absen atau terlambat mengikuti pengajian beliau.

Hal lain yang merupakan bentuk komitmen Gus Mus kepada santri ialah hari jum’at  sepanjang tidak ada acara yang sangat penting dan urgen , beliau akan memilih berada dirumah. Atau ketika sedang berada diluar kota, sedapat-dapatnya Gus Mus pasti akan berusaha untuk pulang. Bukan sekedar untuk beristirahat, dan berkumpul dengan keluarga setelah beraktifitas diluar. Melainkan lebih penting ialah untuk keperluan mengajar para santri pengajian tiap jum’at yang terdiri dari sebagain besar adalah orang-orang tua yang datang dari kampung-kampung setempat dan daerah Rembang sekitarnya. Ini adalah forum pengajian yang dirintis oleh sang ayah al-maghfurlah KH. Bisri Mustofa.

Gus Mus lebih cenderung menempatkan diri sebagai seorang budayawan, pelukis dan penulis. Hal ini tidak terlepas dari tradisi keluarga, kakeknya, H Zaenal Musthofa, dikenal sebagai penulis cukup produktif. Ayahnya, KH Bisri Musthofa, lebih produktif lagi. Tapi ayahnya lebih beragam kegiatannya. Baik di lingkungan politik, pemerintahan, maupun di bidang kebudayaan. Sehingga tradisi seperti itu menjadi pacuan dan tantangan bagi diri Gus Mus. Suatu ketika KH. Bisri Mustofa pada waktu malam jumat duduk dan sambil menulis di tempat untuk mengaji, datangalah Gus Mus. Didalam hati Gus Mus dengan sangat kuat berkata pada dirinya sendiri bahwa Ia akan tetap menunggui ayahnya, beliau pun juga ikut menulis sampai jam dua pagi.

Kritik keras Gus Mus lewat puisi menunjukkan karakter kepenyairan Gus Mus. Selain pesantren, landas tumpu ziarah kreatif Gus Mus adalah  masyarakat. Ketika menjadi kiai, budayawan, pegiat sosial, dan sebagainya, ia bertegur sapa secara langsung dengan rakyat kecil. Menyerap unek-unek dan keluh kesah. Puisi seakan menjadi jembatan bagi Gus Mus untuk bertegur sapa dengan masyarakat.

Atau, justru puisi itu sendiri adalah suara rakyat, detak jantung umat yang terdalam, yang tersumbat dalam ruang batin wong cilik. Lantas, Gus Mus menyuarakannya. Banyak tema-tema kerakyatan, nasib wong cilik (istilah jawa; rakyat jelata), ketidakberdayaan, menyindir perilaku penguasa yang tidak adil, dan sebagainya sangat dominan dalam warna puisi Gus Mus.

Sedangkan pada puisi-puisi Gus Mus yang bertemakan cinta (bersifat mahabah) adalah ekspresi mengenai jalan spiritual atas anugrah berupa cinta . Namun cinta tersebut bukanlah cinta antara manusia dengan manusia, melainkan ekspresi cintanya dengan Tuhan. Abdul Wachid BS menyakini bahwa kandungan makna dalam sajak-sajak cinta gandrung berkaitan dengan etika tasawuf karena terdapat konsep cinta sebagai perwujudan dari tingkatan ruhani, yang dalam tradisi sufisme disebut cinta Illahiah (mahabbah) untuk dakwah yang berangkat dari pengalaman spiritualnya. Karena tema cinta merupakan penyesuaian pada realitas.

Karya

Kitab Pendidikan Islam:

  1. Kimya-us sa’adah (terj. Berbahas Jawa, t.th, Assegaf, Surabaya)
  2. Proses kebahagian (t.th., Sarana Sukses, Surabaya)
  3. Pokok-Pokok agama (t.th Ahmad Putra, Kendal)
  4. Dasar-Dasar Islam (1987, Abdillah Putra, Kendal)
  5. Ensiklopedi Ijmak (bersama K.H Ahmad Sahal Mahfudz, 1987, Pustaka Firdaus, Jakarta)
  6. Mahakiai Hasyim Asy’ari (1996, Kurnia Kalam Semesta, Yogyakarta)
  7. Metode Tasawuf Al Ghozali (terjemahan & komentar, 1996, Pelita Dunia, Surabaya)
  8. Al-Muna, Syair Asma’ul Husna (terj. Berbahasa Jawa tulisan pegon, cet.1, Al Miftah, Surabaya; 1417H/1997, cet.2, Yayasan Pendidikan Al Ibriz, Rembang)
  9. Fiqih Keseharian Gus Mus, Bunga Rampai Masalah-Masalah Keberagamaan (Juni 1997, cet.1, Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang bersama Al-Miftah, Surabaya; April 2005, cet.2; Januari 2006, cet.3, Khalista, Surabaya & Komunitas Mata Air)

Kumpulan Esai:

  1. Saleh Ritual Saleh Sosial, Esai-Esai Moral (1995, cet.2, Mizan, Bandung)
  2. Pesan Islam sehari-hari, Ritus Dzikir dan Gempita Umat (1997, cet.1;1999, cet.2, Risalah Gusti, Surabaya)
  3. Melihat Diri Sendiri (2003, Gama Media, Yogyakarta)
  4. Kompensasi (2007, Mata Air Publishing, Surabaya)
  5. Oase Pemikiran Langit (2007, Penerbit Buku Kompas, Jakarta)

Kumpulan-Kumpulan Puisi Yang Sudah Terbit: 

  1. Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Cet. I Stensilan 1988; Cet. II P3M Jakarta 1990; Cet. III 1991, Pustaka Firdaus, Jakarta);
  2. Tadarus (Cet. Pertama 1993 Prima Pustaka, Jogjakarta);
  3. Pahlawan dan Tikus (Cet. I 1995, Pustaka Firdaus, Jakarta);
  4. Rubaiyat Angin & Rumput (Diterbitkan atas kerja sama Majalah Humor dan PT Matra Multi Media, Jakart, Tanpa Tahun);
  5. Wekwekwek (Cet. I 1996 Risalah Gusti, Surabaya);
  6. Gelap Berlapis-lapis (Fatma Press, Jakarta, Tanpa tahun)
  7. Negeri Daging (Cet. I. September 2002, Bentang, Jogjakarta);
  8. Gandrung, Sajak-sajak Cinta (Cet.I Yayasan Al-Ibriz 2000, cet. II, 2007
    MataAir Publishing, Surabaya)
  9. Aku Manusia (MataAir Publishing, 2007, Surabaya)
  10. Syi’iran Asmaul Husnaa (Cet. II MataAir Publishing, 2007,Surabaya)

Kumpulan Puisi bersama rekan penyair lain:

  1. Antologi Puisi Jawa Tengah (editor Pamudji MS, 1994, Yayasan Citra Pariwara Budaya, Semarang)
  2. Takbir Para Penyair/The Poets Chant (editor Hamid Jabbar, Leon Agusta, Sitok Srengenge, 1995, Panitia Istiqlal, Jakarta)
  3. Sajak-Sajak Perjuangan & Nyanyian Tanah Air, (editor Oyon Sofyan, 1995, Penerbit Obor, Jakarta)
  4. Ketika Kata Kertika Warna (editor Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, 1995, Yayasan Ananda, Jakarta)
  5. Horison Edisi Khusus Puisi Internasional 2002
  6. dll

Penghargaan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here