Kiai Solihin Babakan Ciwaringin Cirebon Badal Siksaan Hadratus Syech KH. Hasyim Asy’ari Jaman Penjajahan Jepang

34
- Kiai Sholihin ilustrasi - Kiai Solihin Babakan Ciwaringin Cirebon Badal Siksaan Hadratus Syech KH.  Hasyim Asy’ari Jaman Penjajahan Jepang

Oleh: Wahyu Iryana

Sejak kedatangan Jepang ke Indonesia 3 Maret 1942 di Eretan (Indramayu). Jepang melakukan propaganda dengan 3A (Nipon Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia). Strategi 3A ini digagas oleh Jendral Jepang yang bernama Shimizu Hiroshi. Sedangkan pelaksana tugas dari pihak Pribumi diketuai oleh Mr. Syamsudin. Rakyat Indonesia awalnya menganggap Jepang sebagai pahlawan, Jepang di elu elukan di mana mana. Namun akhirnya belang Jepang ketahuan juga. Karena Jepang melakukan program mobilisasi percepatan pertahanan dalam rangka menghadapi Perang Asia Timur.

Tiga program unggulan Jepang yang menyengsarakan rakyat adalah (kewajiban serah padi (Momi Kyoosyutu), perbudakan manusia kerja paksa tanpa upah (Romusha), dab wajib militer). Hal ini tentu membuat rakyat sengsara kurang sandang pangan. Bahkan banyak dijumpai tengkorak hidup dan manusia manusia yang pakai karung goni untuk menutup auratnya. Perlawanan itu lahir dari para pejuang pejuang pesantren. Dari Indramayu perlawanan petani menolak kewajiban serah padi (momi kyosyutu), di Tasikmalaya KH. Zaenal Mustofa menolak Seikerai (penghormatan kepada dewa matahari jam 9 pagi membungkuk menghadap ke arah matahari terbit) sebagai simbol tunduk patuh terhadap kaisar Jepang. Perlawanan KH. Zaenal Mustofa berakhir dengan hukuman pancung sang kiai di Monas, Jakarta.

Selain itu karena wajib militer santri dan masyarat Pribumi diharuskan ikut belajar militer walhasil setelah mereka cakap dalam militer karena melihat kesengsaraan rakyat akhirnya para jebolan PETA (Pembela Tanah Air) yang dididik Jepang melakukan perlawanan. Sebut saja PETA di Bandung Selatan, dan Perlawanan PETA di Blitar. Bukti bahwa mereka sangat mencintai tanah airnya.

Termasuk di Surabaya, dan daerah Semarang banyak Kiai Kiai yang ditangkap tanpa sebab yang jelas mereka bahkan disiksa dan dihukum mati tanpa proses peradilan. Hal ini menimbulkan gelombang perlawanan dari para santri diseluruh penjuru Pesantren. Ini membuat para petinggi Jepang berfikir ulang.

Jepang beranggapan bahwa apa untuknya juga kalau bekerja dengan para kiai mereka bisa dimanfaatkan untuk kolaborator penyambung lidah program program pemerintah Jepang untuk mengagitasi rakyat. Maka lis tokoh tokoh nasional dikumpulkan, bahkan Soekarno yang dipenjara di Ende harus dibebaskan oleh Jepang.

Kecerdikan Jepang tidak berhenti sampai disitu, Jepang juga melakukan rapat besar besaran menyikapi perlawanan dari Pribumi hingga akhirnya banyak pejuang yang ditangkap sampai dihukum mati. Jepang mengubah haluan stategi yang awalnya mereka anti pati terhadap pesantren dan kiai kini harus mengakui eksistensi para kiai kiai pesantren. Akhirnya pendekatan masif dilakukan di Surabaya, Semarang dan kota kota lainnya.

Ketika terjadi peristiwa Cukir di Jombang. Jepang nenuduh Kiai Hasyim Asy’ari sebagai dalang kerusuhan,walaupun tanpa bukti yang konkrit. Akhirnya Kiai Hasyim Asy’ari ditangkap dan dijebloskan ke tahanan Jepang. Kiai Hasyim. Asy’ari hanya ditemani santrinya yang bernama Solihin muda. Kang Solihin biasa dia dipanggil karena lebih senior dari santri yang lain dan kebetulan dia juga dari Cirebon, Jawa Barat. Kang Solihin lah yang merayu Jepang menjadi badal / pengganti penyiksaan untuk KH. Hasyim Asy’ari, seperti pukul jari, direndam di drum minyak tanah, dicabut kuku-kuku jemari, hingga ditenggelamkan berulang ulang sampai 40 kali ke sumur dengan posisi kedua kaki di ikat dan kepala di bawah (Wawancara penulis dengan KH. Zamzami Amin Muslimin Babakan Ciwaringin Cirebon).

Badal siksaan yang dinisbatkan untuk gurunya adalah bentuk ta’lim seorang santri pada kiainya. Ki Solihin Cirebon juga memiliki ajian saepi angin yang membuat dia bisa berlari kencang, hal ini pernah disaksikan oleh tentara Jepang sendiri. Ketika KH. Hasyim Asy’ari ditangkap tentara Jepang atas tuduhan keributan di Cukir, Mbah Hasyim dinaikan di atas truk Jepang yang melaju cepat.

Secara logika truk yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi tidak mungkin dikejar oleh seseorang dalam posisi jalan maupun lari dengan jarak 1 kilo lebih jarak dengan truk yang membawa Mbah Hasyim. Namun tidak mustahil untuk santri digjaya kaliber Kang Solihin.

Dengan ilmu saepi angin kang Solihin mampu mengejar truk militer Jepang yang membawa gurunya. Kiai Solihin juga merupakan penyambung lidah santri, pejuang yang akan soan ke Mbah Hasyim. Bung Tomo sendiri adalah sahabat karib Kang Solihin bahkan sering minta khizib agar selamat dalam peperangan.

Atas lobi Mbah Wahid Hasyim dan Gus Wahid serta kesadaran pimpinan Jepang yang mengetahui basis masa yang dimiliki oleh KH. Hasyim Asy’ari makan akhirnya Jepang mengeluarkan KH. Hasyim Asy’ari dari tahanan Jepang.

Setalah keputusan Kaisar Hirohito memberlakukan kerjanya dengan para kiai kiai di pulau Jawa akhirnya stategi pendekatan Pesantren dilakukan oleh Jepang. KH. Hasyim Asy’ari ditunjuk sebagai ketua Majelis Ulama ‘ala Indonesia. Kesinergisan Kiai Hasyim dengan Jepang dimanfaatkan untuk menyiapkan kemerdekaan Indonesia dan santri dipersiapkan mengikuti program militer. Lahirlah Banser Hisbullah yang nanti ikut perang mempertahankan kemerdekaan ketiak agresi militer Belanda ke dua.

Inggris bersama sekutu datang ke Surabaya dipimpin oleh Jendral Mallaby. Seorang Jenderal yang mempunyai pengalaman perang Dunia I dan diakui sebagai ahli stategi militer di Eropa.
Ketika Mbah Hasyim mengeluarkan fatwa tentang Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Maka seluruh santri yang sudah dilatih militer oleh Jepang ketika pasukan Inggris, Belanda dan sekutunya datang kembali ke Indonesia para santri kiai ini berani mempertahankan setiap jengkal tanah Pertiwi dari rongrongan penjajah asing.

Pembuktian yang paling fenomenal adalah terbunuhnya Jendral Mallaby oleh Kang Solihin dengan menggunakan dua ujung jarinya yang ditekankan dileher Kendala Mallaby, kesaktian Kiai Solihin yang sudah terbiasa dengan riyadoh amalan santri ini membuat kocar kacir tentara Inggris dan Sekutu.

Catatan sejarah membuktikan bahwa perang Surabaya yang menghimpun Pesantren Pesantren se Pulau Jawa (seperti Pesantren Buntet, Pesantren Balerante, Pesantren Babakan, Pesantren Benda Cirebon. Pesantren di wilayah Indramayu dari Krengseng, Kertasmaya, Segaran dan lain lain, Pesantren di wilayah Semarang, hampir seluruh pesantren di Surabaya Tasikmalaya, Madura dan lain-lain) membuat orang Eropa buka mata bahwa rakyat Indonesia perlu diperhitungkan apalagi Jendral kaliber dunia yang menjadi andalan mereka mati terbunuh.

Harus dicatat bahwa ini kemenangan santri yang terus berulang dan berkali kali sejak jaman penjajahan Portugis ( Fatahillah atas restu Sunan Gunung Jati merebut Sunda Kelapa, Jayakarta), Perlawanan santri Aceh para Inong bale yang dipimpin Cut Nyak Dien, Perlawanan Diponogoro 1825-1830, Perlawanan santri Cirebon pada perang Kedondong yang dipimpin Bagus Rangin 1802-1919), perlawanan Kiai Idris, Kiai Emas, Kiai Akhyar Indramayu 1944, perlawanan Jendral Soedirman di Pelayanan Ambarawa dan serang fajar 1 Maret merebut Jogjakarta dalam waktu 6 jam. Dan perlawanan santri santri lainnya yang sangat banyak jumlahnya. Hingga pengakuan dari dunia internasional secara DW yure dan de facto 27 Desember 1949 di Den Haag, Belanda Indonesia merdeka seutuhnya

Perlawanan Santri Pasca Kemerdekaan dalam Naungan NU

Sejak 1952 ketika NU keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik, NU sangat diperhitungkan karena langsung meraup suara yang sangat banyak bahkan masuk ke dalam 5 besar partai pemenang pemilu pada pemilu pertama 1955. Hingga penegasan untuk kembali ke Khittah NU 1926, ketika Muktamar Cipasung,NU dikomandoi oleh Gusdur (Abdurrahman Wahid), Kesaktian NU semakin nampak, mampu menembus sekat sekat budaya, memainkan peran kebangsaan yang kaffah, memasifkan masa gerakan yang terserak, lobi tingkat dunia, daya tawar NU semakin layak diperhitungkan ketika Gusdur menjadi Presiden RI ke-4. Walau masa masa Gusdur gempuran dari Orba sangat ketara sekali.

Masa-masa Gusdur ini kader-kader muda NU semakin bermunculan, sebut saja Mahbub Djunaedi, Zamroni dilanjutkan generasi sesudahnya Kang Sa’id Aqil Siradj, Khofifah Indar Parawansa, Masdar Farid Mas’udi, Gus Muwafiq hingga lahir generasi ketiga seperti Gus Ulil Abshar, Gus Yahya Staquf, Kiai Robikin, Gus Ipul, Cak Imin yang pernah dididik melalui kaderisasi non formal maupun kaderisasi kader. Akui tidak diakui mereka adalah orang-orang yang pernah dibesarkan oleh Gusdur.

Sampai detik ini kolaborasi gerakan wacana kultur dan struktural NU telah mampu melewati masa masa sulit. Rahim NU telah melahirkan tokoh-tokoh potensial yang berkhidmat untuk memaslahatan agama dan bangsa.

NU sebagai Anak Kandung Revolusi

Sejak kelahirannya NU telah ikut berkeringat memerdekakan Bangsa, mempertahakan kemerdekaan, mengisi kemerdekaan tak Khayal bahwa NU merupakan anak kandung bangsa yang lahir dari rahim ibu pertiwi, putra Pribumi berwajah mesem. Dari rahim NU lahir pula Ansor Banser sebagai cikal bakal Hisbullah dan laskar kerakyatan hingga pembentukan Tentara Rakyat Indonesia(TRI) yang dikemudiakan hari ketika Pembela Tanah Air (PETA) melebur menjadi Tentara Republik Indonesia, didalamnya manunggal pula para santri santri pesantren yang menjelma menjadi TNI. Namun, konsep tawadhu nya santri setelah Indonesia bisa mengusir penjajah mereka para pejuang yang lahir dari pesantren tidak menjadi satuan resmi militer yang di gaji negara, para santri ini kembali ke pesantren menguatkan fondasi moral dengan keagamaan, mengaji dan mengamalkan ajaran kitab suci Al-Quran Qur’an pada masyarakat dengan Pesantren sebagai naungan berkhidmat. Wallahu alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here