The news is by your side.

Kontekstualisasi Hadis

Kontekstualisasi Hadis | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

Mohammad Fadhil Febryansyah – Penjelasan tentang nabi dalam hadis dipengaruhi oleh perbedaan dan keadaan hidup sahabat-sahabatnya, menghasilkan petunjuk yang beragam dari Nabi SAW. Sahabat-sahabat ini memberikan interpretasi hadis sesuai dengan kapabilitas mereka, mengakibatkan kesimpulan yang beragam pula. Pemahaman terhadap hadis Nabi tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga kontekstual. Hadis tidak hanya dipahami untuk mengetahui makna dan tujuan, tetapi juga untuk menggali upaya aktualisasi doktrin agama yang relavan dengan konteks terkini. Dalam kajian hadis, terdapat diskusi-diskusi yang masih relavan dan mengalami perkembangan wacana, yang dilakukan oleh para pakar dan tokoh hadis seperti M.Syuhudi Ismail.

Pentingnya kontekstualisasi hadis muncul karena seringkali terjadi bahwa suatu peristwa atau pandangan seseorang secara tiba-tiba dikaitkan dengan sebuah hadis tanpa pemeriksaan lebih lanjut terkait sejarah, asal-usul hadis, dan situasi saat kejadian. Dalam era globalisasi ini, pemahaman yang tidak tepat terhadap konteks hadis dapat menghasilkan interpretasi yang keliru, menyebabkan potensi miskonsepsi dan konflik dalam masyarakat Islam. Oleh karena itu, penting untuk merinci permasalaha ini guna memotivasi upaya lebih lanjut dalam mengkaji dan mengaplikasikan hadis secara kontekstual sesuai dengan kebutuhan zaman.

Mengenai kontekstualisasi hadis merupakan langkah penting untuk memahami dan menginterpretasikan ajaran Islam secara tepat. Kontekstualisasi melibatkan pemahaman terhadap situasi, budaya, dan kondisi pada saat hadis diungkapan. Dalam konteks ini, kita dapat menggali makna yang lebih dalam dan relavan agar hadis dapat diaplikasikan dengan bijak dalam kehidupan sehari-hari.

Tekstual secara makna merupakan satuan bahasa yang ditampilkan secara tulis dengan cara-cara tertentu untuk mengungkapkan makna dalam konteks tertentu. Jadi, Hadis tekstual merupakan bentuk hadis yang maknanya dapat dipahami hanya dengan mengacu pada teksnya saja. Dalam pandangan M. Syuhudi Ismail, contoh matan hadis yang memiliki makna tekstual itu berupa bentuk jawami’ Al-Kalim, karena terbilang sesuai dengan definisi dari hadis tekstual seperti contoh:

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ حَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ وَهْبٍ قَالَ سَمِعْتُ جَرِيرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

Artinya:
Telah menceitakan kepada kami ‘Amru bin Hafs, telah menceritakan kepada kami Ayahku, telah menceritakan kepada kami Al’A’masy dia berkata, telah menceritakan kepadaku Zaid bin Wahb dia berkata, saya mendengar Jarir bin Abdullah dari Nabi SAW beliau bersabda, “barang siapa tidak mengasihi maka dia tidak akan dikasihi”.

Sedangkan kata kontekstual sendiri berasal dari kata “konteks” merupakan arti kata yang berkaitan atau dipengaruhi dengan konteksnya, menurut KBBI mengandung dua arti: pertama, bagian suatu uraian atau kalimat yang dpat mendukung atau menambah kejelasan makna; kedua, situasi yang ada hubungan dengan suatu kejadia. Jadi terkait dengan definisi dari Hadis kontekstual adalah memahami konteks hadis dengan memahami peristiwa yang melatarbelakangi munculnya suatu hadis atau dengan kata lain mengkaji konteksnya yang dalam salah satu metode penyelesaian hadis disebut dengan Asbabul Wurud. Menurut M. Syuhudi Ismail, kontekstual hadis dilihat dari dua segi.

Pertama, posisi nabi dan fungsi nabi, kondisi yang mempengaruhi hadis itu muncul.
Contoh dari hadis yang kontekstual

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّهُ رَأَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَلْقِيًا فِي الْمَسْجِدِ وَاضِعًا إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الْأُخْرَ ى (متفق عليه

Artinya:
Dari Abdullah bin Zaid bahwasannya dia telah melihat Rasulullah SAW berbaring di dalam masjid sambil meletakkan kaki yang satu di atas kaki yang lain. (Hadis disepakati oleh Bukhari dan Muslim).

M. Syuhudi Ismail berpendapat bahwa hadis tersebut mencerminkan cara berbaring Nabi, dimana meletakkan kaki diatas kaki lain dianggap sebagai posisi yang membuat Nabi merasa nyaman. Tindakan Nabi ini membawa hadis tentang sifat manusiawi Nabi. Implikasinya, umat Islam perlu melakukan analisis makna melalui konteks situasi. Bahkan, teori kontekstual juga mengatakan bahwa sebuah kata atau simbol ujaran tidak akan menghasilkan makna jika sebuah kata atau simbol ujaran tersebut terlepas dari sebuah konteks.

Dalam upaya memperoleh pemahaman yang sesungguhnya terhadap makna dari suatu matan hadis, diperlukan kontribusi ilmu kontekstulisasi hadis atau pemahaman hadis secara kontekstual memiliki variasi posisi tidur.

Penulis
Mohammad Fadhil Febryansyah
Leave A Reply

Your email address will not be published.