The news is by your side.

Kwalitas Maksimal Cinta Ibrahim, Minimalitas Cinta Manusia Zaman Kini dalam Berqurban

Kwalitas Maksimal Cinta Ibrahim, Minimalitas Cinta Manusia Zaman Kini dalam Berqurban | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

Bambang Melga M.Sn – Judul yang panjang di atas, perlu tertulis tiga baris berjajar saja sudah sangat mengindikasikan, adanya hal yang terlalu berlebihan, dalam melihat aspek semangat. Berqurbannya manusia zaman kini, yang ingin katanya mau meniru keikhlasan Nabi Ibrahim, saat dititah Allah untuk membuktikan cintanya, yang tak mendua, antara Ismail sebagai anak, dan Allah sebagai Tuhan yang Ibrahim cinta.

Jika Ibrahim di titah Allah untuk Membuktikan cintanya pada Tuhan !!
Manusia sekarang hanya di minta membuktikan ikhlasnya pada panitia Qurban.

Coba kita lihat, sanggupkah ia Ikhlas !!
Lagi lagi semua kita di uji dengan kwalitas ujian ikhlas yang berbeda !

Tak mengitung lama, dalam hitungan beberapa hari ke depan, kita akan merayakan hari Raya iIdul Adha.

Hari bergembira nya umat Muslim, atas peristiwa ujian Allah pada Nabi Ibrahim, yang berhasil dilewati, sebagai bukti ketulusan cintanya.

Sehingga seluruh umat sedunia, (Umat Islam ini), merayakan kelulusan Ujian Allah pada Ibrahim tersebut…dengan bersuka cita, bisa merasakan makan-makan lezat, bakar-bakar daging, sampe terbangun tradisi baru dalam khazanah umat ini, yakni tradisi makan sate….
Subhanallah.

Mereka merayakan hari raya qurban, idul adha, tentunya dengan berduyun-duyun ikut berqurban, menyembelih hewan ternaknya, baik yang terkecil domba, sampai yang terbesar sapi atau unta, binatang khas negeri Padang pasir.

Beberapa yang jadi catatan penulis setelah mengobrol bersama Abah Asep Oman, yang mencoba mengkritisi tata cara menyikapi berqurbannya saudara-saudara Muslim di kita, adalah :

  1. Umat khususnya panitia, belum terjaga keikhlasannya, dalam mengelola pemotongan qurban, dengan baik. Terbukti, pencatatan tidak di lakukan dengan profesional, sehingga, panitia qurban, tidak harus sampai, kehilangan bagian ekor, kanjut sapi atau domba, bagian ceker, bahkan bagian kepala domba, maupun sapi, termasuk juga sampai pada kulit-kulitnya.

Mungkin bagian ini sering lenyap, karena di anggap bagian yang tidak penting dalam pembagian daging yang baik, dari panitia qurban pada masyarakat penerimanya.

Yang jelas, warung ceker sapi, warung sop buntut, warung sop kepala sapi, atau domba, sangat laris manis, tanjung kimpul.

Tak seperti pikiran panitia qurban!! yang menganggap bagian ini tak penting!! Dianggap sebelah mata, dan tak jadi bagian yang ikut di bagikan

Justru bagian ini, bagian paling favorit hehehe.

Setelah penulisan kaji penulis baru tersadar !!

Awas Jangan sampai hilang tampa bekas, untuk bagian-bagian favorit itu, semua bagian adalah amanah panitia dalam mengelola qurban, apapun bagian dagingnya, jangan sampai tidak tercatat. Atau ada sebagian, bagian yang hilangkan (diambil seseorang untuk mendapat keuntungan pribadi).

  1. Hal berikutnya, tukang jagal potong, usahakan bagian dari panitia itu sendiri, belajarlah motong dengan benar !!
    Bagaimana caranya ?
    Berpikirlah !!
    (Bisa lihat dulu dari YouTube, bertanya tanya pada tetangga, teman, atau kerabat yang bisa memotong)

Dan Berani mencoba belajar memotong !!
Insyaallah akan ada kebaikan, dan akan menjadi pengalaman seru jika mau mencoba.

Kapan saatnya?
Yaa…pada saat perayaan hari raya Iedul Adha itulah masa praktek langsungnya.

Awas, memotong binatang qurban, jangan oleh orang diluar di luar panitia, sehingga tak sampai keluar, adanya jatah kepala, atau kulit kepada orang lain.

Persiapkan pisau potongnya, yang sangat tajam, dan kuat.

Kelola semuanya secara profesional dulu.
Jika kesulitan, baru minta bantuan pihak dari luar panitia.
Bayar dengan ongkos potong yang uangnya sudah di persiapkan pemilik qurban, bukan dana kas masjid.

  1. Lengkapi sarana qurbannya selengkap mungkin. Dari papan pengumuman, yang menuliskan nama nama para pengurban 3/4 hari sebelum hari H nya, nama para pengurban sudah tertulis siapa-siapanya.

Kelengkapan lainnya, tempat tambat hewan, terpal pelindung terik, dan tempat pemotongannya, serta tempat cacag dagingnya, serta tempat ember ember penampung daging, kiloan penimbang, pelastik bungkus daging, plus kreseknya, yang terakhir catatan per RT siapa saja para mustahik penerimanya.

  1. Para pemilik qurban pun jika niatnya sudah bulat, tidak lantas hanya memberi qurbannya saja, bantu juga panitia yang sudah mengurus pemotongan hewannya, dan membantu sampai pendistribusiannya itu dengan, memberi uang lebih, secukupnya, dan sewajarnya, karena ada lelah yang panitia rasa.

Ingat jangan sampai kas masjid, lagi lagi terpakai dalam hal ini.
Jika ada kesepahaman bahwa berqurban itu harus memperhatikan detail lainnya, ini akan membantu sekali kepanitiaan.

5.Pendistribusian qurban.
Hal ini harus jadi ajang mendidik umat.
Panitia bagusnya bisa buat spanduk, atau menulis di papan tulis.

siapa-siapa yang layak menerima, bagaimana daqing kurban di distribusikan…!!
(Ada kerja sama antar RW, sampai tingkat kelurahan, atau kecamatan, atau lembaga, ini akan sangat baik.)

Jam berapa daging di distribusikan, sehingga masyarakat tahu, dan bisa membaca informasi itu, yang membuat mereka tenang, siap menerima daging bagiannya dengan senang, Tampa antri antri bagai cari jatah makan seperti di jaman perang.

Sehingga tak berkerumun orang orang berlomba ingin mendapatkan jatah daging qurban berkali-kali, yang mereka lakukan, dengan sengaja mendatangi tempat tempat pemotongan.

Dalam berkurban, kita benar-benar diuji bentuk keikhlasan kita seperti nabi Ibrahim.
Perlu berpikir luarbiasa cerdas, tak hanya sampai tingkatan puas kita, dengan bisa menyediakan hewan qurban kita pada panitia.

Hal ikhlas lainnya yang menyertai kita berkurban adalah, kematangan pemahaman kita yang baik, diatas rata rata manusia biasanya.
Sebab Allah menyenangi manusia tulus yang paling terbaik dalam berkurban nya…
khususnya dalam:

  1. Mencari hewan terbaik, jauhi yang penyakitan.
  2. Menyediakan uang lebih sebagai upah potong, uang roko, dan uang makan panitia.
  3. Baiknya uji kwalitas iman kita, uji karakter diri kita, uji seluruh niatan kita, walaupun ada jatah 1/3 bagian dari qurban, bukan berarti kita memesan pada panitia misal, meminta jatah paha, atau bagian baik lainnya, dari Qurban yang kita berikan…

Ikhlaskan saja seluruhnya!!
Jangan ambil bagian !!
Kalaupun mau, ambil yang sama, seperti apa yg sudah di persiapkan panitia dan yang lebih spektakulernya, beli saja di swalayan, 1/2 kilo daging yang kita mau, jangan ambil 1/3 daging qurban, walau ada jatah kita di sana.

Kalaupun kita ada jatah 1/3 bukan berarti juga itu buat kita seluruhnya. Itu buat kita bagikan sendiri, di bagikan lagi, barangkali ada teman yang tahu bahwa kita sedang berqurban, saat mereka datang, jatah 1/3 itu, untuk bagian kita bisa memberi!!
Alhamdulillah.

Ingat…..1/3 itu bagian kita yang dengan senang hati kita bagikan kembali, baik itu pada para sahabat, kerabat, yang mendengar dan datang sengaja kepada kita, minta jatah daging dari qurban yang kita lakukan. Alhamdulillah, ini sesungguhnya wujud rasa besarnya karakter diri kita, bisa bermanfaat bagi orang sekitar, dan yang kita kenal.

Sahabat, berkurban itu sulit menghindarkan diri kita dari ria, dari tamak, dari sombong…dan dari kadar ikhlas yang sebenarnya, yang merupakan wujud, bentuk dari keimanan kita, dengan pemahaman yang lurus!!

Ketika Ibrahim di uji Taqwanya, imannya, dan ke ikhlasannya. Kita hanya di uji oleh ego kita, dan nafsu kita, belum sampai pada tingkatan di uji Tuhan. Cirinya, jika kita berkurban lalu muncul rasa sombong, ujub, takabur, tamak, mengharap daging 1/3 itu, walau itu bagian kita, sudah pasti hancur itu dari sekedar baru niatnya saja, perihal kadar ikhlas kita itu.

Bagaimana kita persembahkan qurban terbaik kita ?
Seperti Allah yang akhirnya Menganti qurban Ibrahim, dari Ismail mengurbankan dirinya, dan diganti domba terbaik.

Begitupun kita, mengorbankan nafsu kita, untuk tak menerima 1/3 bagian yang mamang hak kita, di ganti dengan membeli daging sendiri, di swalayan, atau pasar, sebagai bagian cara kita mendidik diri, membangun ke ikhlasan, menumbuhkan karakter yang Allah senangi.

Alhamdulillah.
Semoga bermanfaat.

Bambang Melga M.Sn

Leave A Reply

Your email address will not be published.