The news is by your side.

Lakon Wayang Kulit Bagal Buntung Gugat Sikil

H. Wahyu Iryana – Pada suatu malam di Indramayu, di bawah langit yang retak oleh angin laut dan suara gamelan yang pelan, muncul tokoh wayang yang tak biasa. Bukan Arjuna, bukan Rama, bukan Bima. Tapi Bagal Buntung anak Semar berkaki satu. Tubuhnya cacat, tapi jiwanya penuh nyala. Lakon ini bukan sekadar pementasan. Ini adalah gugatan. Ini adalah filsafat. Ini adalah lakon carangan maha dalam dari Ki Dalang H. Rusdi yang menampar langit dengan pertanyaan paling purba: “Kenapa aku dilahirkan pincang?”

Satu Kaki, Seribu Pertanyaan

Bagal Buntung bukan hanya makhluk setengah jadi. Ia adalah rakyat kecil yang tahu cara bertanya. Ia tahu, tubuhnya lahir dari kehendak para dewa. Maka ia mendaki langit, mencari keadilan dari sumbernya: Batara Guru, raja para dewa.

Pertanyaan Bagal Buntung mengguncang Kahyangan:

“Mengapa aku hanya berkaki satu? Mengapa ketidaksempurnaan diwariskan sebagai takdir? Siapa pencipta luka ini?”

Langit terdiam. Batara Guru, simbol kuasa dan kosmos, tidak bisa menjawab. Ketika jawaban kosong, Bagal Buntung mengamuk. Kahyangan porak-poranda. Gatutkaca, Jaya Sena, bahkan Arjuna, dikalahkan. Karena bukan kekuatan fisik yang ia bawa, tapi kekuatan pertanyaan yang jujur.

Akhirnya Batara Guru melarikan diri. Para dewa bungkam. Dunia atas runtuh oleh gugatan dari bawah.

Pertapa Tua dan Laku Sunyi

Lalu datanglah seorang pertapa tua. Ia tenang, tapi auranya menusuk. Dialah Semar, ayah Bagal Buntung, dalam rupa resi. Tak lagi sebagai punakawan yang lucu, tapi sebagai guru sejati. Ia bukan sekadar penghibur raja, tapi rahasia semesta yang menyamar.

Pertemuan anak dan ayah itu bukan percakapan biasa. Bagal Buntung menggugat dunia, tapi Semar menggugat dirinya.

“Apakah engkau siap jika kebenaran ternyata lebih menyakitkan daripada luka yang kau tahu?”

Bagal menjawab,
“Aku tidak mencari pelipur, aku mencari awal dari semua ini.”

Pertarungan pun dimulai. Bukan saling tebas, tapi saling tafsir. Ilmu Bagal yang lahir dari luka bertemu dengan laku Semar yang lahir dari sunyi. Dua kekuatan batin saling menguji. Hingga alam menyaksikan: dua jiwa yang saling mencerminkan.

Namun keseimbangan ini tidak bisa diselesaikan oleh logika dunia. Maka turunlah kekuatan yang lebih tinggi: Syangyang Wenang, sang penengah alam raya. Ia adalah penjaga keseimbangan, sang guru segala guru.

Gua Garwa dan Pembebasan Jiwa

Syangyang Wenang tidak membentak, tidak memerintah. Ia hanya menyentuh kesadaran terdalam Bagal Buntung. Dan dari dalam tubuh pincang itu, dari “gua garwa”nya rahim batin paling purba keluarlah dua sosok agung.

Pertama: Prabu Darma Kusuma. Seorang raja suci yang pernah menjadi pusat keadilan, tapi dikhianati oleh sejarah. Ia keluar bukan sebagai penguasa, tapi sebagai nurani yang terpendam.

Kedua: Syangyang Tunggal, sang roh asal segala. Dialah ayah Semar, dan nenek moyang dari segala ruh. Ia tidak bersuara lantang, tapi setiap geraknya menenangkan semesta. Ia bukan Tuhan, tapi cermin dari Kehendak Sejati.

Kedua sosok ini tidak keluar sebagai pemenang atau pecundang. Mereka hadir sebagai kebenaran yang tersembunyi dalam tubuh luka. Bagal Buntung ternyata bukan makhluk hina, tapi wadah agung: ia adalah tubuh rakyat yang memikul memori agung, yang diwarisi dari pengorbanan dan kebijaksanaan terdalam.

Simbolisme: Ketika Cacat adalah Jalan Pencerahan

Lakon ini mengajarkan: kesempurnaan bukanlah bentuk tubuh, tapi keberanian bertanya. Dalam cacat fisik, sering tersembunyi kesadaran besar. Dunia yang cacat bukan dunia yang rusak, tapi dunia yang sedang mencari jalan pulang.

Bagal Buntung menjadi simbol zaman: zaman yang pincang karena kekuasaan tak mendengar, tapi rakyat tak berhenti menggugat. Ketika sistem menutup mulut rakyat, lahirlah tokoh seperti Bagal, yang naik sendiri ke langit untuk bertanya.

Wayang Pesisir dan Kebebasan Imajinasi

Wayang carangan Cirebon–Indramayu tidak seperti wayang istana. Ia lahir dari rakyat, dari nelayan dan petani, dari buruh dan pemikir jalanan. Imajinasi dalam carangan bukan liar, tapi membebaskan. Ia mengajak berpikir, bukan sekadar tunduk. Ki Dalang H. Rusdi, dalam lakon ini, menunjukkan bahwa budaya adalah ruang tafsir dan gugatan. Bahwa rakyat boleh mengubah cerita, bukan hanya menjadi penonton.

Wayang pesisir adalah demokrasi dalam bentuk simbolik. Ia memberi ruang bagi Bagal Buntung untuk mengalahkan Arjuna, dan menggugat Batara Guru.

Refleksi untuk Zaman Kini

Siapa Bagal Buntung hari ini?

Ia adalah rakyat yang lahir dalam sistem timpang. Yang hidup dengan satu kaki karena kaki lainnya dipotong oleh korupsi, oleh pendidikan mahal, oleh ketimpangan hukum. Ia adalah buruh, mahasiswa, perempuan, nelayan semua yang sejak lahir dibisiki bahwa “cacatmu adalah takdirmu”.

Dan siapa Batara Guru?

Ia adalah penguasa yang tidak siap ditanya. Yang sibuk membuat aturan tapi lupa pada keadilan. Yang takut ketika rakyat bertanya “kenapa negara pincang?”

Dan siapa Semar?

Ia adalah kebijaksanaan dalam diam. Ia adalah suara hati yang melampaui politik. Ia bukan oposisi, bukan pula penguasa. Ia adalah pertapa suara nurani bangsa.

Dunia Perlu Pertapa, Bukan Raja

Dalam tubuh Bagal Buntung bersemayam dua jiwa: Prabu Darma Kusuma dan Syangyang Tunggal. Yang satu pernah adil, tapi dijatuhkan. Yang satu lebih tua dari langit. Keduanya lahir dari gua garwa: ruang batin yang dalam, tempat luka dan cahaya bertemu.

Lakon ini bukan hanya kisah wayang. Ini adalah pelajaran hidup. Bahwa kadang, yang paling bijak bukan mereka yang sempurna, tapi yang pincang tapi sadar. Dan bahwa kadang, hanya dalam tubuh yang dihina sejarah, bersemayam roh agung yang sanggup menyadarkan dunia.

Ketika pertanyaan Bagal Buntung mengguncang langit, dan Syangyang Wenang membuka pintu kesadaran, kita semua sedang diajak pulang: kembali pada keadilan, pada nurani, pada semar pada satu kaki yang cukup untuk melangkah menuju kebenaran.

Penulis adalah Sejarawan UIN Raden Intan Lampung.

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.