19.3 C
Bandung
Friday, May 27, 2022

Sebuah perkumpulan yang tak memiliki media, sama dengan perkumpulan buta tuli - KH Abdul Wahab Chasbullah

Must read

Dindin Nugraha
Blogger kambuhan, menulis status facebook, twitter ataupun web kalau sempat. Turut aktif sebagai kontributor web sekaligus bagian dari keluarga besar Lembaga Ta'lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama Jawa Barat

Mengenal Media Cetak NU dari Masa ke Masa

Dindin Nugraha – Nahdlatul Ulama (NU) adalah ormas Islam terbesar di Indonesia yang dalam sejarahnya memiliki peran besar terhadap perjuangan melawan kolonial Belanda. Tidak hanya perjuangan fisik, perjuangan NU tercermin pula lewat media massa atau pers.

Jauh sebelum NU berdiri, KH. Abdul Wahab Chasbullah sudah menyadari betapa pentingnya mempertahankan opini dari kalangan umat dari segala jenis propaganda dan kompetisi ideologi kala itu. Terbentuknya Taswirul Afkar pada tahun 1918 adalah salah satu upaya untuk menggalang opini dan penyebaran gagasan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (ASWAJA) di era kolonialisme. Dalam keyakinannya, “Sebuah perkumpulan yang tak memiliki media, sama dengan perkumpulan buta tuli.”

Dalam perjalanan sejarah, media cetak milik NU timbul tenggelam seiring dengan dinamika pers di Indonesia. Jika ditarik garis waktu dari masa silam hingga kini maka akan tergambar jelas kiprah NU dalam meramaikan dan mengembangkan pers Islam di Indonesia.

Adapun beberapa media cetak NU yang pernah terbit adalah sebagai berikut:

Majalah Swara Nahdlatoel Oelama (1927)

Majalah Swara Nahdlatoel Oelama adalah salah satu majalah awal yang diterbitkan oleh NU atas prakarsa KH. Wahab Chasbullah. Majalah ini diterbitkan pada bulan Juni 1927, namun keberadaan nomor awal masih belum diketahui secara jelas. Alamat redaksi tertera di Surabaya, namun sering berpindah-pindah. Terbitan nomor 6 tahun ke-1 beralamat di Jl. Kertopaten, Kebondalem No. 6. Surabaya, dan terbitan nomor 12 tahun ke-1 bertempat di Jl. Bubutan Gang 1 Surabaya.

Pada No. 12 tahun ke-3 Redaktur majalah ini adalah Abdul Wahab Hasbullah Tambakberas dan administrasi tercantum nama Dahlan bin Abdul Qohhar Kertosono. Adapun isi majalah ini membahas beberapa artikel tentang Islam dan beberapa berita terkait keberadaan NU. Bahasa yang digunakan dalam majalah ini adalah bahasa Jawa pegon. Belum diketahui kapan majalah ini berhenti terbit. Koleksi paling akhir yang dimiliki perpustakaan PBNU adalah No. 12 tahun ke-3, yang terbit pada bulan Dzulhijjah 1348 H. (Hamzah Sahal, NU Online)

Majalah Oetoesan Nahdlatoel Oelama (1928)

Majalah Oetoesan Nahdlatoel Oelama adalah majalah terbitan NU yang terbit sebulan sekali. Majalah ini terbit pada bulan Januari 1928 yang beralamat di Jl. Bubutan Gang 1 Surabaya. Latar belakang Kehadiran majalah Oetoesan Nahdlatoel Oelama (ONO) ini dikarenakan usulan agar NU menerbitkan majalah yang berbahasa melayu dan berhuruf latin, supaya majalah ini bisa dibaca oleh kalangan Islam lainnya. Majalah Oetoesan Nahdlatoel Oelama ini tidak pernah mencantumkan susunan redaksinya yang terjadi hingga tahun ke-2. Namun sering kali didalam artikel-artikelnya muncul nama-nama penulisnya. Diantaranya, H Abdul Wahab, Nasihin Gresik, Sjamsu-Houda Djember, Mhd. Chatib K.Z.G dari Sabang, Matarie Surabaya, Boehanit Joedoleksono Sumenep, Ningprang Vice President Nahdlatoel Oelama Sampang, dan lain-lain.

Majalah ini berisi artikel-artikel yang membahas bab-bab agama, mulai dari fiqih hingga tauhid, akhlak hingga keputasan, pengumuman atau seruan yang bersifat keorganisasian. Rubrik tanya jawab dan surat pembaca secara istikomah muncul dalam tiap edisi. Koleksi yang dimiliki NU Online dan Perpustakaan Nasional, mengabarkan bahwa majalah ini masih terbit hingga tahun 1349, tepatnya nomor 8 Tahun II. Ada kemungkinan majalah ini masih terbit setelah edisi itu. Sebab, di beberapa artikel yang ditulis H Abdul Wahab tertera kalimat “masih bersamboeng”. (Hamzah Sahal, NU Online)

Majalah Berita Nahdlatoel Oelama (1931-1953)

Majalah Berita Nahdlatoel Oelama (BNO) adalah salah satu majalah yang juga diterbitkan oleh NU, dengan alamat redaksi yang berada di Jl. Sasak No. 66 Surabaya. Majalah ini terbit pada tahun 1931, dan terbit sebulan dua kali. Susunan redaksi majalah ini tecatat K. Machfoed Siddik Djember sebagai Hoofd Redacteur, dan K. Abdullah Oebaid Surabaya, KH Eljas Tubuireng dan KH A Wahid sebagai Redacteur. Sementara itu, KH Hasyim Asy’ari Tebuireng, KH Abdul Wahab Chasbullah Surabaya, dan KH Bisri Kauman duduk sebagai Mede Redacteur.

Isi majalah ini lebih kompleks dibandingkan dengan dua majalah sebelumnya. Terdapat pembahasan mengenai agama, organisasi, ekonomi hingga permasalahan tanah dan pertanian, serta dimuat tulisan-tulisan yang bertema politik dari dalam maupun luar negeri yang sedang berkembang pada masa itu. Untuk wilayah peredaran, majalah BNO telah beredar di banyak kota. Hampir semua kota di Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah hingga Cirebon, Tasikmalaya, Bandung dan Jakarta.

Majalah ini masih terbit di tahun 1952 dengan edisi No. 6 tahun 12/Juni-Juli 1952 yang terbit dua bulan sekali, dan alamat redaksi berada di Jl. Maluku II/1, Semarang dan alat administrasi di Jl. Pekodjan 157, Kudus. Penerbitan majalah dikelola oleh PBNU bagian Da’wah. Susunan redaksi pada edisi yang sampul berwarna merah memasang foto Kiai Wahab Chasbullah sedang berpidato tersebut terdiri dari Pemimpin Redaksi: Saifuddin Zuhri. Anggota Redaksi: K.H.A. Wahid Hasjim; K.H. M. Dahlan; K.H. M. Iljas; A.A. Achsien; Idham Chalid; A. Fattah Jasin; Ahmad Shiddieq; Umar Burhan; A. Ch. Widjaja; K. R. Amin Tjokrowidagdo; Nurjaman. Administrasi: M. Zainury Noor. Belum ditemukan waktu perubahan majalah ini. Dan belum ada informasi yang pasti kapan berakhirnya majalah ini. (Hamzah Sahal, NU Online)

Berita LINO

LINO adalah kependekkan dari Lailatul Ijtima’ Nahdlatoel Oelama. Media ini lebih mendekati bentuk buletin yang diterbitkan oleh PBNU sejak tahun 1937-an. Isinya mengenai informasi kegiatan Lailatul Ijtima’ dan juga memuat nama-nama warga NU yang wafat untuk dido’akan. Selain itu juga mengupas masalah keagamaan, informasi organisasi, politik, kemasyarakatan dll.

Buletin ini pada 1970-an pernah diterbitkan dari Semarang di bawah pengawasan KH. Saifuddin Zuhri. (Antologi NU)

Suara ANO

Pengurus Besar Ansoru Nahdlatil Oelama (PB ANO) pernah menerbitkan majalah Suara ANO pada 1937. Majalah ini di pimpin Umar Burhan dan terbit bulanan. Semula dicetak stensilan namun dalam perkembangan dicetak bagus. (Antologi NU)

Bintang Sembilan

Majalah milik GP Ansor yang biasa disingkat “Be-eS” yang didirikan pada 1951 dengan HA Chamid Widjaja sebagai pimpinan redaksinya sebagai amanat hasil kongres di Surabaya. Tercatat sebagai staff ahli, nama Achmad Siddiq, AA Achsin, Saifuddin Zuhri, Mathari Bashor dan Imam Arifien. (Antologi NU)

Surat Kabar Harian Umum Duta Masyarakat (1954-1971 dan 1998- sekarang)

Harian Umum Duta Masyarakat adalah satu-satunya surat kabar harian nasional yang dimiliki oleh NU dan masih bertahan hingga sekarang, meskipun sempat vakum 27 tahun sejak berhenti terbit pada tahun 1971 dan hadir kembali tahun 1998. Pengagas koran ini adalah KH. A. Wahid Hasyim, setelah NU keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik. Koran ini terbit pada tahun 1954, tujuannya untuk menjadi suara aspirasi NU menjelang pemilu 1955 dan counter opini terhadap keberadaan PKI. Duta Masjarakat berkantor di Jakarta, Asa Bafaqih duduk sebagai Pemimpin Redaksi dibantu A. Zakaria, dan A. Hasan Sutardjo, M. Djunaidi, Dachlan Rasjidi, dan Husin Bafaqih sebagai Staf Redaksi. Adapun tokoh-tokoh NU yang berpengaruh pernah berproses di koran ini. Diantaranya, KH. Saifuddin Zuhri, Mahbub Djunaidi, HM. Said Budairy.

Isi pemberitaan Duta Masjarakat tidak hanya terkait perkembangan NU semata, namun juga memberitakan keadaan sosial-politik yang sedang terjadi. Pada tahun 1971 koran Duta Masjarakat berhenti terbit dikarenakan kasus pemberitaannya terkait hasil pemungutan suara pemilu tahun 1971 yang ternyata hasilnya berbeda dengan hasil penghitungan sumber resmi pemerintah. Menurut Anshari Sjams, Pemimpin Redaksi terakhir Duta Masjarakat menggantikan Mahbub Junaidi, kolumnis yang juga anggota DPR, pangkal persoalan inilah yang akhirnya membuat Duta Masjarakat dibredel. Edisi terakhir Duta Masjarakat yang berhasil ditemukan di perpustakaan Nasional bertanggal 30 Oktober 1971.34

Akhirnya Duta Masjarakat mengalami kevakuman selama hampir 27 tahun. Namun, setelah orde baru tumbang. Pers mendapat angin segar, begitupula dengan Duta Masjarakat yang akhirnya terbit kembali dengan dukungan Jawa Pos, dan bernamakan Duta Masyarakat Baru yang terbit di Jakarta. Pemimpin umum dipegang oleh Gus Ipul dan pimpinan redaksi oleh Gus Mus beserta Arif Afandi sebagai wakil. Keberadaan Duta Masyarkat Baru tidak bertahan lama di Jakarta. Pada akhirnya kantornya dipindahkan ke Surabaya, tepatnya di kantor Jawa Pos dan PWNU Jatim yang saat itu bertempat di Jalan Raya Darmo. Namun, terjadi perselisihan ditubuh internal Duta Masyarkat Baru yang membuat keluarnya dari Jawa Pos. Duta Masyarakat Baru sempat pula dikelola KH. Hasyim Muzadi dan tidak pula bertahan lama. 35 Pada tahun 2001 tepatnya bulan April, kepemilikan Duta Masyrakat Baru diambil alih oleh Choirul Anam, dan berubah nama menjadi Harian Umum Duta Masyarkat. (Hairus Salim, NU Online)

Suluh Nahdlatul Ulama

Majalah ini terbit pada 1957 dipimpin Umar Burhan dengan berkantor di PWNU Jawa Timur. Majalah ini resminya milik PWNU Jawa Timur. Majalah ini digunakan sebagai penyambung lidah antara pengurus Partai NU dengan warga NU. Terbit sekitar 4 tahunan. (Antologi NU)

Suara Ansor

Suara Ansor merupakan media komunikasi milik GP Ansor di saat Yahya Ubaid menjadi ketua PP GP Ansor di era 1965 ketika situasi politik memanas akibat ulah PKI. Selain itu terdapat nama Chalid Mawardi (Sekjen) dan Anshari Syams (Wasekjen) sebagai pengelola.

Media internal ini dicetak stensilan, lebih mirip buletin dan dikirim ke daerah melalui pos dari kantor PP GP Ansor di jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

Sebagai media perjuangan di era 65, Suara Ansor lebih banyak menyoroti politik nasional dan mengawasi gerakan PKI. Pada Maret 1965, 6 bulan sebelum peristiwa G30SPKI, Suara Ansor telah memberi peringatan dini dengan menurunkan headline dengan judul “PKI akan Berontak”. HM Subchan ZE beberapa kali memberikan briefing dan informasi tentang rencana rahasia PKI itu. (Antologi NU)

Obor Revolusi

Nama sebuah koran harian yang menjadi media NU di Surabaya pada masa-masa kritis menjelang dan setelah peristiwa G30SPKI. Harian ini terbit di akhir 1964 dipimpin H Aziz Ja’far (Wakil Ketua PWNU Jawa Timur) dan Choliq Ali (Ketua LP Ma’arif Jawa Timur) serta Soeleiman Fadeli. Berkantor di LKBN Antara Surabaya dan di Harian Surabaya Post.

Meskipun oplahnya tidak terlalu besar, harian ini sangat disegani untuk mengimbangi koran “Suara Rakyat” milik PKI. Keduanya musuh bebuyutan saling hantam dan menjatuhkan. Setiap aksi-aksi sepihak PKI terjadi, dapat dipastikan dimuat Obor Revolusi sebagai headline yang ditulis besar. (Antologi NU)

Majalah AULA PWNU Jawa Timur (1978-sekarang)

Majalah Aula adalah majalah bulanan yang diterbitkan oleh Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Terbit resmi dengan SK PWNU Jawa Timur tahun 1978. Sepuluh tahun kemudian, majalah ini mendapat Surat Izin Terbit Menteri Penerangan 1987. Penerbitan majalah ini berkantor di Jalan Raya Darmo 96 Surabaya. Sejak Maret 2007 kantor Aula pindah ke kantor PWNU Jawa Timur yang baru, Jalan Masjid Al-Akbar Timur 9, Gayungsari, Surabaya. Majalah ini terbit pada tahun 1975 namun bernama Risalah NU, yang terbit sesekali saja dan dipimpin oleh KH Anas Thohir, saat itu Ketua Bagian Dakwah (sebutan LDNU) PWNU Jawa Timur. Pada tahun 1978 majalah ini berganti nama menjadi Buletin Nahdlatul Ulama Wilayah Jawa Timur (BUWILNU). Selanjutnya pada tahun 1980 nama Buwilnu diganti Majalah Aula, dan pada akhir tahun 1984 Aula mulai menjadi majalah profesional yang mandiri dengan berbagai langkah perbaikan sehingga bertahan sampai hari ini.

Sebagai bacaan orang NU, Aula yang terbit di setiap awal bulan ini aktif merespon beberapa isu penting yang berkembang seputar ke-NU-an, keislaman, dan kebangsaan. Aula mempunyai beberapa rubrik khusus yang bisa dikatakan permanen, seperti rubrik bahtsul masail, tokoh dan pesantren, dan khutbah Jum’at. Bahkan untuk memenuhi hasrat baca kaum hawa Aula menghadirkan Majalah baru dengan nama Auleea pada tahun 2014.

Aula mempunyai slogan: Bacaan Santri, Kiai, dan Pemerhati. Ambisinya memang menjadi majalah Nahdlatul Ulama, tidak ingin menjadi majalah umum atau majalah Islam lainnya. Dengan itu, diharapkan siapa pun yang ingin mengetahui NU dapat merujuk ke majalah Aula, dan terbukti pelanggan majalah ini bukan hanya warga NU, tapi siapa saja yang ingin tahu NU. Mayoritas pelanggan Aula dari Jawa Timur, menyusul Jawa Tengah, Jawa Barat (termasuk DKI), dan luar Jawa. Pelanggan yang datang dari mancanegara dimulai oleh pengamat, diplomat, dan lain-lainnya. Setelah KH Anas Thohir wafat pada 10 Juli 1987, pemimpin umum diganti Pjs. oleh KH A. Hasyim Muzadi. Kemudian pada 1991 diganti Pj. pemimpin umum oleh Choirul Anam, dan hingga sekarang dijabat oleh Abdul Wahid Asa, pemimpin perusahaan Habib Wijaya, dan pemimpin redaksi M. Subhan. Untuk periode sekarang Arif Afandi sebagai pemimpin umum, M. Habib Wijaya Sebagai pemimpin perusahaan, dan Riadi Ngasiran sebagai pemimpin redaksi. (Khoirul Anam, NU Online)

Jurnal Khittah

Nama sebuah buletin yang diterbitkan oleh Kelompok G sebagai tindak lanjut pertemuan majelis 24 dan Tim 7 pada 1983. Kelompok G ini adalah kelompok berkumpulnya anak-anak muda NU yang kritis terhadap perkembangan NU pada era akhir 1970 – awal 1980. Tercatat di dalamnya nama Slamet Efendi Yusuf, Said Budairy, Fahmi Saefuddin hingga Gus Dur dan Gus Mus. Dinamakan kelompok G karena mereka biasa berkumpul di gang G kawasan Mampang Prapatan di rumah Said Budairy. Sedangkan Tim 7 adalah tim yang dibentuk sebagai perumus konsep kembali ke Khittah yang akan dibawa ke Munas NU Situbondo pada Desember 1983. Terdiri dari KH. Abdurrahman Wahid, Drs HM Zamroni, HM Said Budairy, dr Fahmi D Saifuddin, H Mahbub Djunaidi, HM Danial Tanjung dan Drs. Ahmad Bagja.

Tujuan dari penyebaran buletin Jurnal Khittah ini adalah untuk sosialisasi gagasan kembali ke Khittah ke seluruh warga NU di Indonesia. Pencetakkan dan penyebarannya ditangani dr Fahmi D Saifuddin. Jurnal Khittah ini terbit hingga Munas Alim Ulama pada Desember 1983. (Antologi NU)

Namun, ditemukan juga media cetak NU yang memiliki nama sama juga terbit, terakhir pencarian di internet ada yang menjual edisi II tahun 2015 dengan logo Lakpesdam di bagian cover.

Tabloid Warta NU (1985-2005)

Warta NU Adalah tabloid yang terbit pada tahun 1985, delapan bulan setelah muktamar NU ke-27 di Situbondo, yang diterbitkan oleh Lembaga Ta’lif wan Nasyr PBNU. Tabloid Warta ini diterbitkan menyusul kesuksesan muktamar dengan hasil kembali ke khittah. Pada nomer pertamanya, H.M. Said Budairy sebagai pemimpin umum Warta yang beralamat di Jalan Kramat Raya 164 Jakarta. Sementara itu, H. Sjamsul Arifin Muis duduk sebagai Pimpinan Perusahaan. Tercantum pula nama- nama seperti Ahmad Bagdja, Baidlowi Adnan, Ison Basuni, Zainal S Abidin, Harmas Maesar, Endin AJ. Soefihara, Saifullah Ma’shum dan Abdurrahman Mas’ud menempati Dewan Redaksi. Lay out/tatamuka Agust Kus Sam, Z. Abidin. Distributor: Farid Basori.

Isi dari tabloid ini membahas berbagai hal tentang perkembangan NU dan keadaan sosial politik Indonesia pada masa itu, yang bersemboyan “Media Komunikasi dan Silaturahmi”. Beberapa tokoh kenamaan NU pernah berkonstribusi dalam mengisi kolom-kolom artikel Warta. Diantaranya, Gus Dur yang kala itu menjabat sebagai ketua PBNU, H. Mahbub Djunaidi, KH. Musthofa BIsri, Ahmad Tohari, KH. Muchit Muzadi, Syu’bah Asa dan lain-lainnya. Pada tahun 1995, Choirul Anam memindahkan kantor Warta dari Jakarta ke Surabaya tepatnya di Jl. Darmo 96, lalu pindah ke Jl. Kutisari Indah Barat VI/I Surabaya. Tabloid Warta banyak melahirkan penulis-penulis baru di kalangan NU, tidak hanya di bidang keagamaan, pendidikan, sosial-politik, tapi juga seni dan budaya. Sebab, sejak awal terbit, Warta NU secara konsisten menyediakan rubrik seni dan budaya bernama Bumi Hijau. Tahun 2005, tabloid yang pernah mencapai 50.000 eksemplar dan beredar secara nasional ini berhenti terbit karena para redaksi yang kala itu juga sedang mengembangkan Harian Umum Duta Masyarakat merasa kewalahan bila menangani 2 media cetak sekaligus. Sehingga memilih melepas Warta dan mengembangkan Harian Umum Duta Masyarkat.

Santri

Diterbitkan oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) pada 1996 di Surabaya dalam bentuk majalah kecil. Di antara pengelola majalah ini adalah Helmy M Noor, Imam Ghozali Aro, Shonhaji Sholeh, Muslih Albaroni dan Khadafi dengan pimpinan umum Ali Haidar. Majalah ini sempat mengalami kejayaan dan beredar nasional setelah menggandeng Perhutani.

Sempat berganti format beberapa kali, format majalah umum (1998), tabloid (Suara Santri 2001) dan terakhir kembali dalam format majalah (2004). Tidak diketahui lagi penerbitannya sejak 2004. (Antologi NU)

Tashwirul Afkar

Nama sebuah Jurnal yang diterbitkan oleh Lakpesdam PBNU. Tashwir, sebutan singkatnya, terbit triwulan dengan 154 halaman. Di antara pengelolanya (2007) M Nashihin Hasan, Fathiroh, Khamami Zadah, A Fawaid Sjadzili dan Hamzah Sahal. (Antologi NU)

Majalah Risalah NU (2007- Sekarang)

Salah satu majalah kenamaan yang dimiliki PBNU adalah Majalah Risalah Nahdlatul Ulama. Majalah ini menjadi salah satu media bulanan yang dimiliki PBNU. Majalah Risalah NU diterbitkan pada tahun 2007. Susunan redaksinya terbagi menjadi, penasehat dipegang oleh Dr. KH. M.A. Sahal Mahfudz (Rais Am PBNU, Pembina oleh Dr. KH. A. Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU), Dewan Ahli oleh Prof. Dr. KH. Tolhah Hasan, KH. Ma’ruf Amin, Prof. Dr. Nasruddin Umar, Dr. Endang Turmudi, Dr. KH. Said Aqil Siroj, KH. Masdar F Mas’udi, H Siroj Munir, M.Sc. Dikalangan redaksi terdapat nama-nama, Zis Muzahid sebagai pemimpin umum, Musthofa Helmy sebagai redaktur eksekutif, Muhammad Soelhi sebagai litbang redaksi, Muklas Syarkun, Nur Wahid, Nurhidayat, Washiel Hidszy, Huda Sabily, dan Lintang Marisa sebagai Sidang Redaksi. Risalah NU beralamat redaksi di Gedung PBNU lt. 7, Jl. Kramat Raya No. 164 Jakarta Pusat.

Isi dari Majalah ini tidak jauh dari pemberitaan terkait ke-NU-an dimana lebih kental mengenai aspek keagamaan, serta sosial kemasyrakatan. Pada tahun-tahun awal, majalah ini terbit berbentuk stensil, dengan ukurannya yang sedikit kecil. Namun sekarang bentuk nya sudah seperti majalah pada umumnya yang berkuran sedikit besar. Bergantinya kepemimpinan, bergantilah pula kepengurusan dari redaksi Majalah Risalah NU ini. Pada terbitan terbaru, jajaran direksi diisi dengan nama-nama yang tidak asing lagi, namun sedikit mengalami perubahan. Pelindung dipegang oleh Dr. KH. Ma’ruf Amin, KH. Yahaya Cholil Staquf dan KH. Asrorun Niam Sholeh, penasehat oleh Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA., Dr. Ir. Ahmad Helmy Faishal Zaini, dan Dr. H. Ulil Hadrawi, M.Si., pemimpin umum di pegang oleh Hari Usmayadi, M.Kom.MM., wakil pemimpin umum oleh Muhammad Mashudi, pemimpin redaksi oleh H. Musthafa Helmy, wakil pemred oleh Mashudi Umar, dan redaktur pelaksana oleh H. Huda Sabily. Alamatnya pun berubah dari lantai 7 gedung PBNU ke lantai 6.

Selain beberapa media cetak yang telah disebutkan diatas, masih banyak lagi media cetak NU yang tersebar di berbagai pengurus wilayah dan cabang. Diantaranya, majalah al-Mawaizd di Tasikmalaya, Bangkit di Yogyakarta, Suara NU di Jawa Tengah dan lain-lain.

Dirangkum dari berbagai sumber.

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article