The news is by your side.

Mengenang Kiai Sejati Para Kader Yang Konsisten; H. Iin Rohimin Hadrlor

Oleh: H. Wahyu Iryana
(Kader dan Santri Kang Iing)

Kepergian H. Iin Rohimin Hadrlor atau yang akrab kami sapa, Kang Iing bukan sekadar kehilangan seorang tokoh. Ia adalah kehilangan arah bagi banyak dari kami, kehilangan suara nurani, kehilangan sosok pembimbing yang membentuk bukan hanya cara berpikir, tapi juga cara hidup dan keberpihakan kami sebagai kader. Beliau hadir bukan sekadar sebagai aktivis, wartawan, atau pembina organisasi. Bagi saya pribadi dan banyak kader asal Indramayu yang berproses di IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, nama H. Iin adalah satu fase dalam kehidupan. Ia adalah pelita dalam gelap, arah kiblat dalam menulis, dan guru yang membentuk cara kami melihat dunia.

Beliau adalah orang yang membentuk keberanian dalam diri banyak kader untuk tidak hanya berpikir, tetapi juga menulis, berbicara, dan mengambil sikap di tengah pusaran ketidakadilan. Ia mencetak kader bukan untuk patuh pada kuasa, tapi untuk berdiri tegak menolak ketimpangan. Saya sendiri terakhir kali bertemu cukup intens dengan beliau saat berhaji bersama ke Baitullah tahun 2023. Perjalanan itu menjadi ruang perenungan yang dalam, karena selama ini saya tinggal dan bertugas di Lampung, sehingga hanya sesekali bisa bertemu itu pun lewat forum-forum seperti IKA Darma Ayu atau di Galunggung No. 9, Kantor PWNU Jawa Barat. Namun, meski jarang bertatap muka, sosok beliau tetap hidup dalam nilai-nilai yang saya pegang: dalam cara berpikir, dalam cara menulis, dan dalam sikap menghadapi realitas umat.

Kang Iing adalah sosok yang tak pernah benar-benar diam. Dalam kondisi apapun, ia tetap menulis, tetap bersuara, tetap hadir. Ia menulis bukan untuk populer, tapi karena menulis baginya adalah jalan pengabdian. Konsistensinya dalam menulis adalah warisan yang tak bisa diukur oleh jumlah karya, tapi oleh kedalaman pengaruhnya terhadap kader-kader yang beliau bentuk. Bahkan ketika banyak orang memilih untuk berhenti atau diam karena tekanan, beliau tetap memegang pena dengan teguh. Ia percaya bahwa menulis bukan hanya soal kemampuan, tapi soal keberpihakan. Dalam setiap tulisannya, selalu ada suara rakyat kecil, ada keberpihakan kepada Islam yang membebaskan, kepada keadilan, dan kepada kemanusiaan.

Sebagai Sekretaris Jenderal Serikat Nelayan Tradisional Indonesia (SNTI), beliau tidak hanya mengangkat isu nelayan dan petani dalam seminar atau tulisan. Ia hadir langsung di desa-desa pesisir, bercengkrama dengan para nelayan, menyerap aspirasi mereka, dan menyuarakannya di ruang-ruang kebijakan. Beliau hafal nama-nama mereka, memahami betul penderitaan mereka, dan tetap setia menyuarakan aspirasi mereka hingga akhir hayat. Itu sebabnya tulisan-tulisannya bukan hanya berisi data atau teori, tapi juga empati dan keberanian yang langka.

Latar belakang pesantren menjadi fondasi kuat dalam pembentukan karakternya. Ia pernah belajar di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, salah satu pesantren tertua dan berpengaruh di Jawa Barat. Di sanalah ia menempa diri dalam kesederhanaan, kedalaman ilmu, dan ketajaman membaca persoalan umat. Di kemudian hari, pengalaman pesantren ini berpadu dengan semangat aktivisme mahasiswa saat ia aktif di PMII Bandung. Dari sanalah lahir gaya khasnya: menulis dengan semangat kaderisasi, dengan perspektif struktural, dan dengan keberanian moral yang jarang ditemui.

Kini, kader-kader yang pernah disentuh tangannya telah tersebar di berbagai bidang. Ada yang menjadi wartawan, pendidik, advokat, birokrat, dan penggerak sosial. Mereka semua membawa bekas tempaan beliau. Tanpa pernah mengejar popularitas atau posisi formal yang tinggi, warisan keilmuannya tetap hidup. Konsistensinya dalam menulis menjadi teladan tentang bagaimana pena bisa menjadi sarana ibadah, sarana dakwah, dan sarana perjuangan.

Saya selalu teringat pada satu syair Arab yang kerap dikutip oleh Gus Dur. Syair itu berbunyi: “Waladatka ummuka yaabna Aadam bakiyyan, wannasu hawlaka yadh-hakuuna suruuraa. Fa’mal linafsika an takuuna idzaa bukiyuu, fi yawmi mawtika, dhaahikan masruuraa.” Artinya: “Ketika engkau lahir, ibumu menangis haru, sementara orang-orang di sekitarmu tertawa bahagia. Maka hiduplah dengan cara, agar ketika engkau wafat, engkau tersenyum bahagia, sementara orang-orang menangis karena kehilanganmu.” Syair ini tidak sekadar indah, tapi seolah ditulis untuk menggambarkan kehidupan Kang Iing. Ia lahir dalam kesederhanaan, hidup dalam perjuangan, dan wafat dalam keberkahan. Kita menangis bukan hanya karena kehilangan seseorang, tapi karena kehilangan arah, kehilangan cahaya yang selama ini membimbing kita.

Kang Iing menjalani fase-fase hidupnya dengan penuh kesadaran. Sejak awal, ia menemukan semangat juang dalam gerakan mahasiswa. Di PMII Bandung, ia mulai menulis, berpikir kritis, dan membentuk identitas perjuangan. Ketika memasuki masa produktif, ia menjadikan pena sebagai senjata untuk mengkritisi ketimpangan dan menginspirasi banyak orang. Tulisannya bukan hanya catatan peristiwa, tetapi juga pernyataan sikap dan panggilan aksi. Ia tak ragu menghadapi tekanan, karena baginya kebenaran tidak boleh diam.

Memasuki fase matang, beliau menjadi pembina dan pelatih kader. Ia tidak hanya mengajarkan teknik menulis, tetapi juga cara berpikir, cara bersikap, dan keberanian untuk berpihak. Banyak kader menulis hari ini karena dahulu disentuh oleh ketulusan dan keyakinan beliau. Ketika usia menua, semangatnya tak surut. Menjelang akhir hayatnya, beliau tetap aktif menulis, hadir dalam rapat, berdiskusi, dan mendampingi. Bahkan dalam kondisi kesehatan yang mulai menurun, Kang Iing masih berbicara tentang keadilan, tentang rakyat, tentang pentingnya terus menulis.

Kini, ia telah berpulang. Tapi beliau tidak pernah benar-benar pergi. Ia meninggalkan warisan pemikiran, meninggalkan semangat juang, dan meninggalkan jejak yang tak akan mudah hilang. Dalam setiap tulisan kami, dalam semangat kami untuk terus berpihak kepada yang tertindas, dalam keberanian kami untuk tetap menulis di tengah tekanan ada jejak beliau yang tak kasat mata, tapi begitu terasa. Semoga beliau kini tersenyum bahagia, sebagaimana pesan syair Gus Dur, karena ia telah menunaikan tugas hidupnya dengan paripurna.

Selamat jalan, Kang Iing. Hari Kamis, 2 Oktober 2025 akan selalu kami kenang sebagai hari berpulangnya seorang guru yang menghidupkan pena dan jiwa kami. Al-Fatihah… Aamiin.

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.