MENYAMBUT MUKTAMAR KE-35 NAHDLATUL ULAMA: Refleksi Seorang Gadis Katolik Tionghoa tentang NU, Kebangsaan, dan Peradaban Indonesia

Oleh: Vanessa Shania, S.H., M.Kn.
Kepala Departemen Lintas Agama ALPENINDO (Alumni Penabur Indonesia)
& Alumni Magister Kenotariatan Universitas Indonesia
Pada tanggal 27–31 Agustus 2026, keluarga besar Nahdlatul Ulama akan menyelenggarakan Muktamar ke-35 di Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. Bagi jutaan warga Nahdliyin, muktamar merupakan forum permusyawaratan tertinggi organisasi untuk menentukan arah perjuangan lima tahun ke depan.
Namun, bagi saya—seorang perempuan muda Katolik keturunan Tionghoa—muktamar ini juga menghadirkan ruang refleksi mengenai arti penting Nahdlatul Ulama bagi masa depan Indonesia yang majemuk.
Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa seorang Katolik tertarik mengikuti dinamika Nahdlatul Ulama? Pertanyaan itu sangat wajar. Akan tetapi, pengalaman hidup sering kali mempertemukan seseorang dengan kenyataan yang melampaui sekat-sekat identitas.
Perkenalan saya dengan Nahdlatul Ulama bermula pada tahun 2018, ketika masih menjadi siswi SMA Kristen 1 BPK Penabur Bandung. Saat itu saya menyusun karya tulis ilmiah berjudul “Kontribusi Nahdlatul Ulama Setelah Kembali ke Khittah 1926 terhadap Kehidupan Berbangsa dan Bernegara pada Masa Orde Baru (1984–1998).”
Untuk menyelesaikan penelitian tersebut, saya melakukan observasi dan wawancara di lingkungan PWNU Jawa Barat. Awalnya, penelitian itu sekadar tugas akademik. Namun, semakin banyak berdialog dengan para kiai, pengurus, aktivis, dan kader muda NU, semakin saya memahami bahwa organisasi ini jauh lebih besar daripada sekadar organisasi keagamaan.
Saya melihat NU sebagai sebuah gerakan sosial, pendidikan, kebudayaan, dan kebangsaan yang tumbuh dari denyut kehidupan masyarakat Indonesia. Penelitian tersebut kemudian menjadi salah satu karya tulis terbaik di sekolah saya. Namun, penghargaan itu bukanlah pencapaian terbesar. Yang paling berharga adalah persahabatan yang terjalin dengan banyak sahabat Nahdliyin, baik dari IPPNU, GP Ansor, maupun berbagai badan otonom NU lainnya.
Delapan tahun telah berlalu. Persahabatan itu tetap terjaga hingga hari ini. Saya belajar bahwa dialog tidak selalu dimulai dari ruang seminar atau forum resmi, tetapi justru dari obrolan sederhana, kerja sama, dan saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai warga negara Indonesia yang berasal dari komunitas Katolik Tionghoa, saya memandang NU sebagai salah satu penyangga penting bagi kehidupan kebangsaan. Di tengah masyarakat yang sangat beragam, kehadiran organisasi yang mampu menjembatani perbedaan merupakan modal sosial yang tidak ternilai.
Sejarah Indonesia membuktikan bahwa Nahdlatul Ulama tidak hanya berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan, tetapi juga menjaga republik ketika menghadapi berbagai krisis. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak penting yang menggerakkan perlawanan rakyat mempertahankan kemerdekaan. Pada masa-masa berikutnya, NU terus hadir dalam berbagai momentum kebangsaan, baik dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, maupun pembangunan demokrasi.
Salah satu keputusan paling visioner dalam perjalanan NU adalah kembali ke Khittah 1926 pada Muktamar Situbondo tahun 1984. Keputusan tersebut menegaskan kembali posisi NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang mengutamakan pelayanan kepada umat serta kemaslahatan bangsa.
Langkah itu membuka ruang yang lebih luas bagi NU untuk menjalankan fungsi sebagai perekat sosial di tengah dinamika politik nasional.
Keputusan kembali ke Khittah juga menunjukkan kedewasaan organisasi. NU memilih membangun bangsa melalui pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, penguatan pesantren, pelayanan sosial, dan pembinaan kehidupan keagamaan yang damai. Pilihan inilah yang membuat NU tetap relevan hingga memasuki abad kedua pengabdiannya.
Dalam kajian ilmu sosial, ilmuwan politik dari Universitas Harvard, Robert D. Putnam, menjelaskan bahwa kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh social capital atau modal sosial, yakni jaringan kepercayaan, kerja sama, dan solidaritas masyarakat. Jika teori ini digunakan untuk membaca Indonesia, maka NU merupakan salah satu produsen modal sosial terbesar yang dimiliki bangsa ini. Jutaan jamaah, ribuan pesantren, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, organisasi perempuan, hingga jaringan ulama di berbagai pelosok merupakan kekuatan sosial yang luar biasa.
Namun, modal sosial yang besar juga membawa tanggung jawab yang besar. Indonesia hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding beberapa dekade lalu.
Polarisasi politik, penyebaran disinformasi, radikalisme, kesenjangan ekonomi, perubahan iklim, perkembangan kecerdasan buatan, hingga ketegangan geopolitik global memerlukan kepemimpinan moral yang mampu menjadi penuntun masyarakat.
Dalam konteks itulah saya memandang Muktamar ke-35 memiliki arti strategis. Muktamar bukan hanya memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU, melainkan juga menentukan arah pemikiran NU dalam menghadapi tantangan abad ke-21.
Kepemimpinan yang lahir dari muktamar diharapkan tidak hanya kuat secara organisatoris, tetapi juga memiliki visi kebangsaan dan peradaban yang luas.
Saya berharap NU terus mengembangkan tradisi intelektual yang selama ini menjadi ciri khasnya. Pesantren bukan hanya melahirkan ulama, tetapi juga pemikir, negarawan, ekonom, akademisi, dan pemimpin masyarakat yang mampu berdialog dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.
Sebagai generasi muda, saya juga berharap NU semakin membuka ruang kolaborasi lintas agama. Tantangan bangsa tidak mungkin diselesaikan oleh satu kelompok saja. Persoalan kemiskinan, pendidikan, lingkungan hidup, pemberdayaan perempuan, kesehatan, hingga literasi digital membutuhkan kerja sama seluruh elemen bangsa.
Pengalaman saya berinteraksi dengan banyak sahabat Nahdliyin mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi penghalang untuk bekerja bersama demi kepentingan Indonesia. Justru di situlah saya menemukan makna sejati dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman bukan untuk dipertentangkan, melainkan dirawat sebagai anugerah.
Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengingatkan, “Tidak penting apa agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” Pesan tersebut bukan sekadar ungkapan moral, tetapi juga fondasi kehidupan kebangsaan Indonesia.
Muktamar ke-35 hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat kembali warisan tersebut. Perbedaan pandangan dalam forum muktamar adalah sesuatu yang wajar dalam tradisi organisasi besar. Namun, setelah keputusan diambil, seluruh keluarga besar NU perlu kembali bersatu demi cita-cita yang lebih besar, yakni mengabdi kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Sebagai seorang Katolik, saya tentu memiliki keyakinan iman yang berbeda. Namun, saya percaya bahwa kecintaan terhadap Indonesia merupakan titik temu yang mempersatukan seluruh anak bangsa. Karena itu, saya berharap Nahdlatul Ulama akan terus menjadi rumah besar bagi nilai-nilai kebangsaan, penjaga moderasi, pelopor dialog lintas agama, serta mitra strategis negara dalam membangun perdamaian.
Memasuki abad kedua, NU tidak hanya dituntut menjaga warisan sejarahnya, tetapi juga membangun masa depan. Dunia sedang mencari model peradaban yang mampu memadukan spiritualitas, demokrasi, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Indonesia memiliki peluang besar untuk menawarkan model tersebut, dan Nahdlatul Ulama dapat menjadi salah satu aktor utamanya.
Semoga Muktamar ke-35 di Tambak Beras melahirkan kepemimpinan yang visioner, mampu merawat persatuan di tengah pluralitas, memperkuat ukhuwah kebangsaan, memperluas dialog lintas agama, serta menjadikan NU semakin kokoh sebagai penjaga Indonesia sekaligus kontributor penting bagi perdamaian dunia.
Pada akhirnya, saya memandang Nahdlatul Ulama bukan hanya milik warga Nahdliyin. Dalam banyak aspek kehidupan kebangsaan, NU telah menjadi bagian dari modal sosial bangsa Indonesia. Karena itu, keberhasilan Muktamar ke-35 sesungguhnya bukan hanya harapan warga NU, melainkan harapan seluruh anak bangsa yang mendambakan Indonesia tetap utuh, damai, berkeadaban, dan mampu memberi kontribusi bagi kemanusiaan global.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.


