Merasa ditelantarkan

10
Merasa ditelantarkan

Assalamu’alaikum…

Saya, R, laki-laki, usia 17 tahun. Saat ini saya tinggal di panti asuhan. Sejak kecil ayah dan ibu saya bercerai dan saya dirawat oleh nenek. Tapi saya ga betah, karena nenek saya jutek.  Saat saya bersama nenek itulah, saya mendapat kabar ibu saya meninggal. Saya sangat sedih waktu itu.  Ayah saya kemudian menikah lagi.  Saya dan adik saya tinggal bersama ayah dan ibu tiri (Ibu S). Saya cukup dekat dg Ibu S, karena beliau baik, perhatian dan sayang sama saya. Tapi, saya sedih, karena akhirnya ayah dan ibu tiri saya bercerai juga. 

Ibu S pergi meninggalkan rumah. Saya sangat kehilangan beliau. Saya coba cari-cari, akhinya ketemu melalui facebook. Saya kemudian menelepon Ibu S. Saya ceritakan kalau sekarang ayah sudah menikah lag dan saya tinggal bersama ayah dan ibu tiri kedua saya. Saya juga cerita kalau ayah dan ibu tiri yang baru ini dipenjara. Saya ga tahu ada kasus apa. Awalnya saya diminta kembali ke nenek di Padang, tapi saya ga mau. Akhirnya Ibu S meminta saya untuk tinggal bersama beliau di Jakarta. Singkat cerita saya tinggal bersama beliau. Karena masalah ekonomi, saya ditawari Ibu S untuk masuk Panti Asuhan. Saya sedih, tapi Ibu S bilang kalau beliau bukan membuang saya, tapi biar saya bisa sekolah maka dimasukkan ke panti. Saya sedih. Saya ga punya ibu, ayah saya dipenjara, ibu tiri yang saya sayangi juga memasukkan saya ke panti. Saya ngerasa ditelantarkan. Apa yang harus saya lakukan?

Iklan Layanan Masyarakat

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Adik R yang berbahagia, terima kasih sudah bersedia berbagi cerita dengan kami.  Memiliki keluarga yang utuh dan harmonis adalah keinginan semua orang dan tinggal di panti bukanlah satu hal yang diinginkan banyak orang. Namun demikian Adik ditakdirkan untuk mengalami dua-duanya, di mana keluarga Adik tidak utuh lagi dan saat ini Adik tinggal di panti asuhan. Tentunya Allah memiliki rencana yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan rencana dan cita-cita hambaNya.  Bisa jadi, ujian permasalahan yang cukup berat sejak Adik masih kecil adalah merupakan cara Allah untuk membuat Adik menjadi seorang pribadi yang tangguh, pribadi yang tahan banting. Dengan sudah terbiasa ditempa dengan masalah yang besar, harapannya nanti ketika Adik tumbuh menjadi seorang dewasa dan memasuki kehidupan yang lebih luas lagi dimana masalah yang ada tentu lebih kompleks lagi, Adik sudah terbiasa dan bisa dengan mudah mengatasinya.  Demikian juga ketika saat ini Adik di panti asuhan.

Mungkin tampaknya panti asuhan adalah tempat yang tidak menyenangkan, tidak membahagiakan namun sejatinya di panti itu Adik bisa belajar banyak hal misalnya tentang kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, membangun ketrampilan sosial, kejujuran dan lain sebagainya.  Di situlah Adik ditempa akan hal-hal dan nilai-nilai yang akan sangat bermanfaat kelak ketika Adik hidup di tengah masyarakat.

Jadi, syukurilah semua yang Adik miliki dan jalani saat ini.  Masa lalu sudah Adik lalui, sehingga tidak perlu menjadi beban yang terlalu besar, sedangkan masa depan belumlah Adik lewati maka tidak usah terlalu mencemaskannya. Fokuslah di mana Adik berada saat ini.  Jalani semua episode kehidupan yang Adik temui saat ini denga penuh kesadaran, dengan penuh semangat, dengan penuh ketulusan.

Jadilah diri Adik sendiri, tidak perlu menjadi orang lain dan cobalah untuk mencari berbagai hal positif dari keadaan Adik saat ini. Mungkin Adik tidak nyaman tinggal di panti, cobalah berpikir betapa banyak anak seusia Adik yang tidak punya tempat tinggal. Mungkin Adik merasa tidak beruntung karena ayah dan ibu adik tidak bersama Adik saat ini. Cobalah untuk berpikir betapa banyak remaja yang hidup menggelandang tanpa asuhan dari siapapun. Adik masih beruntung walaupun ibu sudah meninggal dan ayah dipenjara tapi Adik berada dalam lingkungan pengasuhan yang baik.

Cobalah untuk terus memikirkan hal positif tadi. Mudah-mudahan lama-lama Adik bisa menerima sepenuhnya tentang keadaan Adik dan semoga bisa tetap berprestasi dan semoga kelak menjadi orang yang sukses.

Mungkin itu yang bisa saya sampaikan, tetap semangat, Dik… Jalanmu masih panjang..

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Salam hormat

Muhammad Fakhrurrozi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here