Merawat Kebinekaan Melalui Resiliensi Digital

8

Jakarta, NU Online

Gejala perpecahan bangsa tidak muncul di Indonesia saja. Fenomena tersebut juga tampak di berbagai negara sebagai bagian dari efek globalisasi. Dunia teknologi yang berkembang pesat juga mempercepat proses perkembangan fenomena ini. Salah satu contoh ialah digunakannya kecerdasan buatan oleh berbagai media sosial untuk memahami bias-bias penggunanya.

Hal itu terwujud, misalnya, sebagai iklan barang-barang yang sedang dicari oleh pengguna terkait melalui berbagai layanan belanja online (dalam jaringan) yang kemudian ditampilkan oleh laman-laman medsos yang digunakannya.

Hal tersebut dikatakan Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid saat menyampaikan materi tentang ‘Menjaga Kebhinnekaan Indonesia dan Diaspora Milenial Indonesia’ di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Berlin, Jerman, Ahad (23/6).

“Hal semacam ini juga bisa terwujud dalam dunia politik di mana pendukung Jokowi lebih mudah terekspos kepada berita-berita yang menjelekkan Prabowo, demikian juga sebaliknya,” imbuh Yenny.

Akibatnya, kedua kelompok tersebut cenderung percaya berita-berita yang belum pasti kebenarannya. Bahkan, saling membenci satu sama lain.

Masalahnya, lanjut Yenny, tak jarang pembuat berita-berita yang berseberangan tersebut memiliki maksud untuk mencari keuntungan ekonomi sehingga muncullah kemudian yang diistilahkan sebagai “clickbait”, judul berita dibuat sebombastis mungkin, dan foto-foto ditampilkan sedramatis mungkin. Meskipun pada akhirnya, antara judul, foto, maupun isi berita tak ada kaitan satu sama lain.

Hal itu, menurutnya, bertujuan agar semakin banyak yang mengakses beritanya, semakin banyak iklan yang ditampilkan melalui medianya. Dengan demkian, pemilik media tersebut semakin banyak mendapatkan uang dari tampilan iklan-iklan tersebut. “Masyarakat kemudian yang menjadi korban,” ujar Wakil Ketua PP Muslimat NU ini.

Resiliensi Digital

Menurut Yenny, laju fenomena terbaginya bangsa itu dapat ditekan melalui apa yang ia istilahkan sebagai resiliensi digital. Resiliensi merupakan kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit.”Masyarakat Indonesia, khususnya responden dalam survei yang dilakukan lembaga kami, sesungguhnya memiliki bekal resiliensi digital yang baik. Kasus Ahok, misalnya, ternyata tak banyak berpengaruh kepada responden survei tersebut. Ya, kebencian kepada etnis Tionghoa tak meningkat sesudah kasus Ahok terjadi,” ungkapnya.

Perempuan yang menamatkan studi magisternya di Universitas Harvard itu kemudian menyadari, jika interaksi positif antara beberapa responden dengan kawan-kawan maupun tetangganya yang beretnis Tionghoa ternyata menjadi kunci utama.

“Hal yang sama, tentu juga berlaku untuk kelompok masyarakat yang lain. Interaksi antarkelompok masyarakat inilah yang mesti semakin digiatkan, termasuk dialog-dialog terbuka. Sebab, dari sinilah kemudian diharapkan muncul sikap kritis saat membaca berbagai berita yang belum tentu benar. Dengan demikian, perpecahan dalam masyarakat dapat dihindari,” tandasnya.

Di samping itu, Yenny juga menyatakan ketaksetujuannya dengan berbagai bentuk segregasi kelompok masyarakat yang pada hari ini menemukan berbagai wujud. Kompleks perumahan khusus muslim, misalnya. Menurutnya, hal semacam ini justru bersifat kontra-produktif disebabkan minimnya interaksi positif antarkelompok.

Yenny percaya bila berbagai dampak negatif yang muncul dari fenomena  perpecahan bangsa (divided nation) ini sesungguhnya hanya disebabkan oleh sebagian kecil orang yang ia juluki sebagai minoritas yang gaduh (noisy minority).

Karenanya, ia berharap agar mayoritas diam (silent majority) mulai mengisi berbagai platform media sosial dengan konten-konten positif dan bermanfaat sehingga dapat menjadi noisy majority.

Kegiatan tersebut terselenggara atas kerjasama KBRI Berlin dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman dan Pengurus Cabang Internasional Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PCI PMII) Jerman. Putri kedua KH Abdurrahman Wahid ini diundang oleh Duta Besar RI untuk Jerman Arif Havas Oegroseno pasca menjadi pembicara di Oslo, Norwegia.

Di awal sesi disksusi santai, Yenny memulai dengan bercerita bahwa Jerman merupakan negara yang juga memiliki beberapa kenangan akan ayahandanya. Disebutkannya sebagai contoh, bahwa Gus Dur, ayahnya, dulu sempat ingin mendaftar kuliah di Cologne, sebuah kota di Jerman. (Syakir NF/Musthofa Asrori)

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here