Muhaimin Iskandar: Jenderal Kancil Santri Penggerak Bangsa

H. Wahyu Iryana – Muhaimin Iskandar, atau akrab disapa Cak Imin dan sekarang orang lebih mengenalnya dengan panggilan Gus Muhaimin, merupakan salah satu figur politik nasional yang mampu memadukan akar tradisi pesantren dengan visi kebangsaan modern. Dalam dua dekade terakhir, namanya menempati posisi penting di gelanggang politik Indonesia. Sebagai Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan kini Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, ia tampil bukan hanya sebagai politisi, tetapi juga negarawan yang solutif pemimpin yang mengakar di tradisi Nahdlatul Ulama, namun berpikir dan bertindak dalam bingkai Indonesia yang lebih luas.
Kepemimpinan Gus Imin tidak dibangun di atas citra semata, melainkan pada kerja konkret dan keberlanjutan program. Ia memulai kariernya dari dunia aktivisme mahasiswa sebagai Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi yang banyak melahirkan pemimpin muda NU. Dari situlah ia mengasah karakter kepemimpinan yang tenang, persuasif, dan berdialog. Ketika kemudian memasuki politik praktis bersama PKB, Gus Imin membawa tradisi intelektual dan kemandirian berpikir santri ke panggung nasional.
Di tengah politik yang sering diwarnai konflik, Gus Imin menjadi contoh pemimpin yang menyelesaikan persoalan dengan jalan konstitusional dan dialog. Dualisme kepemimpinan PKB pada periode 2008–2012 yang nyaris memecah partai berhasil ia selesaikan melalui rekonsiliasi yang melibatkan para ulama, tokoh senior, dan kader muda. Langkah ini tidak hanya memulihkan keutuhan partai, tetapi juga memulihkan kepercayaan politik Nahdliyin. Hasilnya, PKB berhasil mempertahankan suara stabil di kisaran 9–10 persen dalam Pemilu 2014 dan 2019 capaian yang menunjukkan konsistensi partai di tengah persaingan nasional yang ketat.
Sikap moderat dan kepemimpinan yang inklusif menjadikan Gus Imin sebagai sosok yang diterima lintas kalangan. Ia tidak mengandalkan retorika populis, melainkan membangun basis politik berbasis kerja nyata. Ketika menghadapi isu-isu politik sensitif seperti tuduhan “kardus durian” pada 2021, Gus Imin menanggapinya dengan kepala dingin. Hasil kajian Kejaksaan Agung menunjukkan tidak ada bukti keterlibatan langsung, dan kasus itu selesai di praperadilan tanpa status tersangka. Ia tidak membalas dengan narasi emosional, tetapi menegaskan pentingnya supremasi hukum dan etika politik. Dari situ tampak kedewasaan politik seorang pemimpin yang tak mudah terguncang oleh dinamika kekuasaan.
Salah satu ciri khas kepemimpinan Gus Imin adalah pandangannya bahwa politik harus menghasilkan manfaat nyata bagi rakyat. Ia mengubah posisi santri dari objek pembangunan menjadi subjek perubahan. Visi itu diwujudkan lewat kebijakan dan program strategis yang memberi dampak langsung bagi kaum Nahdliyin dan masyarakat pedesaan.
Salah satu capaian monumental adalah pengesahan Undang-Undang Pesantren tahun 2022. Melalui perjuangan panjang fraksi PKB di DPR RI, UU ini memberikan pengakuan hukum terhadap ribuan pesantren di Indonesia, mencakup dukungan operasional, pengembangan kurikulum khas pesantren, hingga insentif ekonomi bagi lembaga yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Dengan UU tersebut, posisi pesantren kini sejajar dengan lembaga pendidikan lain, tetapi tetap menjaga kekhasan tradisi keilmuan dan kemandirian ekonomi.
Lebih dari sekadar regulasi, Gus Imin membuktikan komitmennya melalui program pemberdayaan konkret. Pesantren Al-Mu’min di Jombang misalnya, memperoleh dukungan modal usaha dari Kementerian Koperasi dan UKM serta PKB pada periode 2019–2022. Dana itu digunakan untuk koperasi santri dan pertanian lokal yang dikelola secara profesional. Hasilnya, lebih dari 120 santri memperoleh penghasilan tambahan dan pesantren mampu membiayai operasional sekolah tanpa ketergantungan pada donatur tetap. Kisah ini menjadi model sukses bagaimana pesantren dapat menjadi sentra ekonomi rakyat.
Selain itu, Gus Imin menggagas program Swadaya Dana Desa, yang telah menjangkau lebih dari 500 desa di Jawa dan Sumatra. Program ini mengedepankan kolaborasi antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan perangkat desa untuk memperkuat ekonomi lokal. Melalui pendekatan berbasis gotong royong, masyarakat desa dilatih mengelola dana secara transparan dan berorientasi pada usaha mikro produktif. Laporan dari Kementerian Desa menunjukkan bahwa beberapa wilayah sasaran program mencatat peningkatan pendapatan rata-rata 15–20 persen dalam dua tahun terakhir.
Gus Imin juga menaruh perhatian besar pada generasi santri muda. Melalui program Santripreneur, ia mendorong santri agar tidak hanya menjadi penjaga tradisi keilmuan, tetapi juga pelaku ekonomi yang inovatif. Program ini melahirkan ribuan santri wirausaha di sektor kuliner halal, teknologi pertanian, hingga ekonomi digital berbasis pesantren. Untuk menopang penguatan kapasitas kepemimpinan, ia mendirikan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Santri (P3KS) pada 2020, yang hingga 2023 telah melatih lebih dari 2.000 kader muda NU dalam manajemen organisasi, etika politik, dan kewirausahaan sosial.
Langkah-langkah tersebut menjelaskan filosofi kepemimpinan Gus Imin: politik bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk pemberdayaan. Ia menyadari bahwa kesejahteraan rakyat tidak cukup dicapai lewat pembangunan infrastruktur, melainkan dengan memperkuat daya hidup sosial masyarakat dari bawah. Dalam berbagai kesempatan, Gus Imin menegaskan bahwa desa adalah fondasi republik dan pesantren adalah jantung moral bangsa. Karena itu, memperkuat keduanya berarti memperkuat Indonesia.
Keberhasilan Gus Imin juga tidak lepas dari kemampuannya menjaga jembatan antara tradisi dan modernitas. Sebagai kader NU, ia tidak meninggalkan akar spiritual dan nilai-nilai keislaman dalam setiap kebijakan. Namun sebagai politisi nasional, ia juga memahami pentingnya inovasi dan adaptasi di era digital. Di tengah arus globalisasi dan krisis moral, ia menawarkan model kepemimpinan berbasis etika sosial memadukan kearifan pesantren dengan kemampuan manajerial modern.
Penguatan Politik, Solusi untuk Bangsa
Dalam arena politik yang kerap bising oleh kepentingan jangka pendek, Gus Imin menawarkan gaya politik moral dan solutif. Ia percaya bahwa politik harus menyalurkan energi untuk menyembuhkan, bukan membelah. Karena itu, ia kerap menegaskan pentingnya membangun politik kesejahteraan yang melibatkan masyarakat secara aktif. Melalui jabatan Menko PMK, ia mendorong kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pesantren untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat desa. Fokus utamanya adalah pengentasan kemiskinan ekstrem yang hingga kini masih menyentuh sekitar 5,5 juta jiwa, sebagian besar di wilayah pedesaan.
Gus Imin mengembangkan pendekatan integratif antara pendidikan, ekonomi, dan sosial. Ia mendorong pesantren untuk menjadi pusat pelatihan keterampilan, koperasi digital, hingga pengelola desa wisata berbasis budaya santri. Program-program ini tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial dan budaya. Dalam berbagai forum nasional, Gus Imin menekankan bahwa keberlanjutan bangsa tidak bisa hanya diukur dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dengan keadilan sosial dan kesejahteraan umat.
Di mata kaum Nahdliyin, Gus Imin bukan sekadar politisi, melainkan penggerak yang menghidupkan tradisi. Ia membawa pesan moral bahwa santri harus menjadi pelaku sejarah, bukan penonton. Bahwa politik tidak boleh menjadi panggung perebutan kekuasaan semata, tetapi sarana untuk memperluas kemaslahatan. Melalui langkah-langkah strategis dan konsisten, Gus Imin menempatkan diri sebagai simbol transformasi santri: dari penjaga nilai menjadi penggerak perubahan.
Sederhananya Muhaimin Iskandar adalah representasi pemimpin yang lahir dari pesantren dan tumbuh menjadi negarawan. Ia menunjukkan bahwa politik yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan dapat menghadirkan solusi nyata bagi bangsa. Keberhasilannya memperjuangkan Undang-Undang Pesantren, menginisiasi Hari Santri Nasional, memperluas pemberdayaan desa, dan mengembangkan program Santripreneur adalah jejak konkret dari politik yang membangun, bukan merusak.
Di tengah arus pragmatisme politik yang sering mengabaikan nilai, Gus Imin tetap konsisten menjadi “Jenderal Kancil Santri Penggerak”: cerdas membaca arah zaman, lincah menghadapi tantangan, dan tetap setia pada rakyat. Ia membuktikan bahwa santri tidak hanya mampu berdiri di mimbar, tetapi juga memimpin di gelanggang. Dan dalam perjalanan bangsa yang terus berubah, sosok seperti Gus Imin mengingatkan kita bahwa politik yang berintegritas dan berpihak pada rakyat adalah kekuatan yang sesungguhnya.
H.Wahyu Iryana
Penulis buku Sejarah Pergerakan Nasional; Melacak Kiprah Kaum Santri dalam Mempertahankan NKRI.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



