Muslimat NU Tingkatkan Kemampuan Mendidik

10

Muslimat NU Tingkatkan Kemampuan MendidikProbolinggo, NU Online
Pimpinan Cabang Muslimat NU Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo mengadakan workshop bertema Mendidik dan Beraktivitas dengan Hati. Kegiatan yang diadakan pada Sabtu dan Ahad (11-12/2) ini diikuti oleh seluruh pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU se-Kota Kraksaan.

Pertemuan ini dibuka oleh Ketua PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah Ahmad Suja’i dan Ketua Muslimat NU Kota Kraksaan Hj Zulfa Badri. Tampak hadir sebagai narasumber Hj Hamida Wafi.

H Nasrullah Ahmad Suja’i menyampaikan, nahdliyin harus bersyukur dengan adanya NU. Sebab jika tidak ada NU, maka mungkin bisa dianggap seperti hewan. Jika sudah meninggal dikubur dan selesai.

Iklan Layanan Masyarakat

“Tetapi dengan NU, maka kita dihormati mulai dari lahir hingga meninggal dunia. Misalnya ketika meninggal, maka umat Islam ditalqinkan, ditahlili, dan lain sebagainya. Bahkan hingga 1000 harinya,” katanya.

Lebih lanjut Kiai Suja’ meminta segenap pengurus Muslimat NU bersyukur dengan adanya NU. “Beruntung KH Hasyim Asy‘ari mendirikan NU. Ini seperti layaknya Nabi Nuh ketika membuat perahu untuk umatnya. Ketika Kiai Hasyim Ashari mendirikan NU, maka semua umat Islam diajak masuk ke dalam kendaraannya bernama NU,” tegasnya.

Sementara Hj Zulfa Badri menambahkan, banyak manfaat yang bisa didapat dengan bergabung di NU. Salah satunya adalah janji sang pendiri KH Hasyim Asyari yang menyatakan siapa saja yang bergabung dengan NU, maka dianggap sebagai muridnya.

“Berkat NU, sejarah di Indonesia tetap utuh. Marilah kita terus berjuang membesar NU melalui kegiatan Muslimat NU sebagai panghargaan yang tinggi demi melanjutkan perjuangan para ulama NU. Semoga kegiatan ini semakin menambah kecintaan kita kepada organisasi Muslimat NU,” ungkapnya.

Hj Hamida Wafi menyampaikan penjelasan tentang pengertian mendidik, siapa saja pendidik dan di mana tempat proses pendidikan. Proses pendidikan itu harus diawali dengan hati, mulai dari niat, iman, takwa, rasa, ikhlas, cinta, syukur dan bahagia. “Keikhlasan itu yang tahu hanya kita dengan Allah SWT,” katanya.

Hamida Wafi meminta seluruh pengurus untuk terus berikhtiar membersihkan dan menghidupkan hati seperti tazkiyatun nafs dan jihadun nafs, membangun lingkungan yang baik serta tadabbur dan tafakkur.

“Semua anggota Muslimat NU harus berusaha untuk siap belajar, siap berubah dan siap berjuang. Seorang pemimpin bisa dikatakan berhasil kalau bisa melahirkan banyak pemimpin,” jelasnya.

Lebih lanjut Hamida Wafi menegaskan, seorang pendidik jangan menuruti semua keinginan anak, karena hal itu berbahaya. Jangan terlalu melarang dam ajari anak untuk tidak berbohong. “Beri anak kasih sayang dan perhatian. Jangan sekali-kali menghukum dengan kekerasan,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here