Muslimat NU Tingkatkan Kemampuan Mendidik
Probolinggo, NU Online
Pimpinan Cabang Muslimat NU Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo mengadakan workshop bertema Mendidik dan Beraktivitas dengan Hati. Kegiatan yang diadakan pada Sabtu dan Ahad (11-12/2) ini diikuti oleh seluruh pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU se-Kota Kraksaan.
Pertemuan ini dibuka oleh Ketua PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah Ahmad Suja’i dan Ketua Muslimat NU Kota Kraksaan Hj Zulfa Badri. Tampak hadir sebagai narasumber Hj Hamida Wafi.
H Nasrullah Ahmad Suja’i menyampaikan, nahdliyin harus bersyukur dengan adanya NU. Sebab jika tidak ada NU, maka mungkin bisa dianggap seperti hewan. Jika sudah meninggal dikubur dan selesai.
“Tetapi dengan NU, maka kita dihormati mulai dari lahir hingga meninggal dunia. Misalnya ketika meninggal, maka umat Islam ditalqinkan, ditahlili, dan lain sebagainya. Bahkan hingga 1000 harinya,” katanya.
Lebih lanjut Kiai Suja’ meminta segenap pengurus Muslimat NU bersyukur dengan adanya NU. “Beruntung KH Hasyim Asy‘ari mendirikan NU. Ini seperti layaknya Nabi Nuh ketika membuat perahu untuk umatnya. Ketika Kiai Hasyim Ashari mendirikan NU, maka semua umat Islam diajak masuk ke dalam kendaraannya bernama NU,” tegasnya.
Sementara Hj Zulfa Badri menambahkan, banyak manfaat yang bisa didapat dengan bergabung di NU. Salah satunya adalah janji sang pendiri KH Hasyim Asyari yang menyatakan siapa saja yang bergabung dengan NU, maka dianggap sebagai muridnya.
“Berkat NU, sejarah di Indonesia tetap utuh. Marilah kita terus berjuang membesar NU melalui kegiatan Muslimat NU sebagai panghargaan yang tinggi demi melanjutkan perjuangan para ulama NU. Semoga kegiatan ini semakin menambah kecintaan kita kepada organisasi Muslimat NU,” ungkapnya.
Hj Hamida Wafi menyampaikan penjelasan tentang pengertian mendidik, siapa saja pendidik dan di mana tempat proses pendidikan. Proses pendidikan itu harus diawali dengan hati, mulai dari niat, iman, takwa, rasa, ikhlas, cinta, syukur dan bahagia. “Keikhlasan itu yang tahu hanya kita dengan Allah SWT,” katanya.
Hamida Wafi meminta seluruh pengurus untuk terus berikhtiar membersihkan dan menghidupkan hati seperti tazkiyatun nafs dan jihadun nafs, membangun lingkungan yang baik serta tadabbur dan tafakkur.
“Semua anggota Muslimat NU harus berusaha untuk siap belajar, siap berubah dan siap berjuang. Seorang pemimpin bisa dikatakan berhasil kalau bisa melahirkan banyak pemimpin,” jelasnya.
Lebih lanjut Hamida Wafi menegaskan, seorang pendidik jangan menuruti semua keinginan anak, karena hal itu berbahaya. Jangan terlalu melarang dam ajari anak untuk tidak berbohong. “Beri anak kasih sayang dan perhatian. Jangan sekali-kali menghukum dengan kekerasan,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)
Sumber : NU Online
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



