Ngaji Kitab Al-Hikam bersama KH. Asep Mukhtar Rifa’i Banjaran : Hikmah ke-29

165

لينفق ذو سعة من سعته الواصلون إليه ، ومن قدر عليه رزقه السائرون إليه

“Pemilik keluasaan rejeki, yaitu waashil (orang2 yang sudah sampai kepada Allah) harus menginfakkan rejekinya; dan demikian pula dengan orang yang rejekinya dibatasi, yaitu saairiun (orang2 yang sedang berjalan menuju Allah).”

Tidak kebahagian yang lebih membahagiakan ketika kita bisa bertemu dan mengenal Dzat yang selama ini menggelontorkan kebaikan-Nya. Dan ketika itu, apa yang selama ini kita bangga- banggakan, menjadi sesuatu yang tidak berharga.

Ya, sesuatu yang membuat kita hebat, gagah, terhormat, besar kepala, nyatanya bersumber dari-Nya, Yang Maha Segalanya. Kalau sudah begitu, apa artinya popularitas, apa makna kehormatan, apa gunanya menumpuk harta, mencari jabatan?

Pasti semua itu semu dan akan meninggalkan kita. So, sebelum ditinggalkan, kaum waashilun akan melepaskannya, bahkan anak pun bila perlu dikurbankan seperti nabi Ibrahim. Dan Allah, bagi waashil, sudah cukup.

Iklan Layanan Masyarakat

حسبنا الله ونعم الوكيل

Lalu bagaimana dengan kita? Kita bukan washilun. Saairun kayanya tidak. Kita tidak harus melepaskan jabatan, mengeluarkan semua kekayaan, memilih hidup hina dan sengsara. Tidak harus seperti itu. Yang harus kita lakukan, bagaimana caranya agar bisa menggapai keberkahan dengan ilmu, harta, kehormatan nasab, dan jabatan yang ada.

(21.29/020218)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here