The news is by your side.

Para Pengkritik Itu Tidak Paham Islam Nusantara

Tangerang Selatan, NU Online
Dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta Zastrouw al-Ngatawi menyebut, mereka yang kerap kali mengkritik Islam Nusantara tidak lah benar-benar paham tentang konsep yang diusung Nahdlatul Ulama itu.

“Rata-rata pengkritik Islam Nusantara adalah tidak paham. Dia bikin definisi sendiri (tentang Islam Nusantara), merekonstruksi sendiri, lalu dia kritik sendiri,” kata Zastrouw saat menjadi pembicara dalam sebuah diskusi di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC) Tangerang Selatan, Sabtu (7/7).

Para pengkritik umumnya menuduh Islam Nusantara sebagai ‘mazhab baru’, anti-Arab, bid’ah, dan lain sebagainya. Zastrouw menyangkal tuduhan-tuduhan itu. Baginya, Islam Nusantara bukan lah sebuah mazhab baru dan tidak anti-Arab.

“Dia (pengkritik Islam Nusantara) tidak bisa membedakan Arab dan Arabisme, Islam dan Islamisme,” jelas ketua Lesbumi NU periode 2004-2009 ini.

Senada dengan Zastrouw, penulis buku Masterpiece Islam Nusantara, Zainul Milal Bizawie atau Gus Milal, juga menegaskan bahwa Islam Nusantara bukan lah Islam liberal sebagaimana yang dituduhkan para pengkritik. Menurutnya, Islam Nusantara merupakan khazanah peradaban yang ada di wilayah Nusantara.

“Tidak ada kaitannya dengan Islam liberal, tapi ini upaya kita menggali praktik keislaman kita di Nusantara,” terang Gus Milal.

Menurutnya, Islam sudah masuk Nusantara sejak abad ketujuh Masehi atau pertama Hijriyah. Namun dakwah Islam kurang begitu berkembang hingga abad ke-14 hingga akhirnya datang lah era Wali Songo. Pada era ini, Islam berkembang sangat pesat dan diterima dengan baik oleh masyarakat lokal yang beragama Hindu-Budha.

Kesuksesan Wali Songo, imbuhnya, dikarenakan mereka mampu mendialektikan antara teks dan konteks, ajaran Islam dengan budaya setempat dan kearifan lokal. Bagi Gus Milal, apa yang dilakukan para Wali Songo itu merupakan cikal bakal dari Islam Nusantara.

Lebih lanjut, Gus Milal menyebutkan bahwa perwujudan dan muara dari Islam Nusantara adalah pesantren. Di sana, praktik-praktik keislaman dari ulama-ulama Nusantara terdahulu terwariskan hingga saat ini.

“Di pesantren, sanad keilmuan dan kebudayaan terwariskan sehingga terus terjaga hingga hari ini,” ucapnya.

Sederhananya, Islam Nusantara adalah Islam yang dihayati dan dipraktikkan di Nusantara. Adapun muaranya adalah pesantren-pesantren yang diorganisir Nahdlatul Ulama. (Muchlishon)

Sumber : NU Online

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.