The news is by your side.

Pentingnya Berniat

Pentingnya Berniat | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa BaratNamanya niat itu ibarat kita sedang akan menulis perjanjian sakral, diri kita dengan Tuhannya, diatas kertas putih berharga, dengan tinta emas, yang sangat mahal harganya.

Tentunya niat itu menjadi sangat berharga, bernilai tinggi, dan luarbiasa punya satu ikatan kuat dimutu dan kwalitas yang akan kita kerjakan.

Niat adalah maksud atau tujuan yang ada dalam hati kita, untuk kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, dengan tujuan membangun kebaikan-kebaikan yang bernilai amal ibadah, dalam mencari ridhoNya, yang melandasi sebuah usaha ikhtiar kerja kita.

Bagi kita yang meyakini harus adanya niat di awal perbuatan, dikarenakan adanya kesadaran kita mencari ridho dari Allah yang kita inginkan, merupakan awalan yang berbeda, dengan mereka yang tidak berikrar membuat janji, dengan berniat.

Apalagi yang niatnya sudah sedari awal salah, ingin mencari keuntungan dunia, bukan karena Allah, maka niatnya akan di catatkan sebagaimana maksudnya.

Niat merupakan langkah awal yang akan membukakan kebaikan dalam perjalanan kita baik di soal ibadah, soal ikhtiar usaha, dan soal interaksi sosial hidup kita di dunia.

Ketika Allah sudah mendeklarasikan bahwa kita di ciptakan tak ada lain untuk menyembah dan beribadah padaNya, maka setelah kelahiran kita di dunia, hal itu, janji kita padaNya, untuk memegang amanah Allah ini, menjadi buyar, hilang tak diingat, apalagi jika kita jauh dari agama yang mengingatkan kita akan hal itu.

Hubungannya apa antara ikrar kita saat di alam ruh dan niat ini ?

Jadi niat kita yang bernilai ibadah, hanya karena Allah, menuju Allah, mencari Ridho Allah, merupakan manifestasi dari keberadaan kita yang selalu memperkuat apa yang kita komitmenkan di alam ruh, dengan Allah semata, di dalam setiap tindakan kita untuk hal apapun yang kita kerjakan.

Sepertinya hanya untuk berniat itu saja, manusia di uji luarbiasa dengan kesombongan dirinya.

Seperti ibarat bertamu, kita harus mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke rumah orang lain, atau mengucapkan salam untuk di ketahui adanya kita di depan rumahnya, agar tuan rumah tahu ada kita yang meminta izin untuk bertamu dan bertemu.

Niat bagi yang hatinya bersih, laksana adab dan sopan santun yang mesti di jaga, sebagai ahlaqnya orang beriman. Yang di tunjukan pada awalan di setiap ikhtiar apapun yang ingin kita lakukan.

Niat baik akan menghasilkan kebaikan dan keutamaan.
Niat buruk akan menghasilkan apa yang ingin ia tuju, tapi tak masuk untuk mendapatkan keridhoanNya, hingga amalannya itu seperti sebatas buih, yang kemudian hilang tak berdampak.

Allah itu memberi manusia pilihan… dengan keharusan kita memulai ikhtiar apapun lewat keberadaannya niat.

Karena disana akan terukir apa maksud dan tujuan awal kita.
Apakah benar kita akan mendekat pada Allah tujuannya, atau niat kita untuk keuntungan semata mengejar dunia, hingga Allah dilupakan.

Yaa mereka yang mengejar dunia, apakah itu dilakukan oleh orang biasa dan berilmu, ketika ia misalkan di amanahkan sebagai seorang pemimpin, maka jika tak ada niat hanya karena Allah, dengan sendirinya nafsu dan Ego, akan memimpin dirinya.

Ia akan semena-mena pada bawahannya, arogan, timbul sifat serakah dan sombongnya, sehingga sulit pada akhirnya meluruskannya kembali.

Manusia Tampa niat, ia akan terjebak angan-angan.
Manusia Tampa berikrar karena Allah, ia akan di tuntun setan.

Niat menjadikan kita untung dunia, beruntung akheratnya.
Manusia tak mau berniat suci karena Allah dalam setiap perbuatannya, maka buntung dan merugi semua ikhtiarnya.

Mari kita perhatikan misalnya pemimpin daerah, lembaga, organisasi, atau perusahaan-perusahaan besar.

Jika para pemimpinnya memiliki komitmen baik, dengan menggambarkan niat baik itu seperti apa yang di canangkan dalam visi misi, sebagai gambaran utuh arah langkah bagi apa yang ingin di tuju, maka akan ada keberkahan buat semua, kesejahteraan terasa pada seluruh orang yang dipimpinnya, dengan demikian, jika ia memimpin daerah, daerahnya akan maju, jika ia memimpin sebuah perusahaan, maka perusahaannya akan berkembang pesat dan menjadi hebat, jika ia pemimpin organisasi, maka organisasi kuat, solid, dan berkembang baik dan hebat.

Niat dan komitmen berbanding lurus.
Tak ada niat, maka kita bagai seorang pemanah yang tak memiliki titik panah yang dituju.

Tentunya si pemanah itu ada dalam kebingungan, ada dalam kegamangan.

Namun ego serta nafsunya membuat ia buta, hingga tak tahu bahwa perusahaannya akan runtuh, organisasi atau lembaganya akan setagnan, dan malah bisa jadi tengelam, saking terlihat tak dilandasi niat baik, tulus, dan suci, hingga ke aroganan, egois, dan ketamakan terlihat, dan olehnya itu di jadikan pegangan.

Pemanah tersebut tak tahu yang ia sasar, pemimpin arogan ini sedang mengali kuburnya sendiri.

Dengan demikian, lembaga atau organisasi apapun yang dipimpin manusia tampa dilandasi niat kebaikan, maka akan ditinggalkan anggotanya dan bangkrut, kembali ke nol, apa yang ia telah perbuat itu.

Mari kita perhatikan hal ini !
Terasakah hal tersebut ada ?

Hanya dari perkara niat saja, pada akhirnya menuntun manusia pada jalan kebaikan, dan jalan kesesatan.

Mulailah dengan niat baik.
Libatkan Allah dalam semua ikhtiar kita.

Jangan anggap remeh niat.
Karena niat akan mencerminkan siapa diri kita, baik dimata manusia, maupun baik di mata sang pencipta.

Alhamdulillah.
Semoga bermanfaat.

Bambang Melga Suprayogi M.Sn
Ketua Lembaga LTN NU Kabupaten Bandung

Leave A Reply

Your email address will not be published.