The news is by your side.

Peranan Dakwah Syaikh Hasanuddin Quro; Ulama Ahli Al-Quran pertama di Pulau Jawa

Alfi Saifullah – Di tengah maraknya trend menghafalkan Al-Quran dengan banyaknya lembaga tahfidz Quran ditengah umat Islam Indonesia―mungkin banyak yang tidak tahu siapa founding fathers akan tradisi tersebut. Adalah Syaikh Hasanuddin Quro―yang sejauh dapat dilacak dari berbagai literasi, sebagai tahfidz dan qori pertama di Jawa, atau bahkan Nusantara. Meski tidak menutup kemungkinan, banyak tokoh lain yang mungkin lebih tua―setidaknya, dari nama belakang yang ia sandang terselip kata Quro sebagai isim fa’il―mengindikasikan keahliannya dalam bidang diskursus ilmu Al-Quran.

Syaikh Hasanuddin Quro tercatat sebagai ulama yang pertama di Betawi. Karena, meskipun ia dipercaya dimakamkan di Kerawang―menurut Ridwan Saidi, daerah Kerawang termasuk wilayah kebudayaan besar Betawi. Syaikh Hasanuddin Quro mempunyai nama lain Syaikh Mursyahadatillah atau Syaikh Qurrotul’ain[1]. Ia adalah putra Syaikh Yusuf Siddhiq, seorang ulama yang berdarah Campa (Kamboja). Dalam Nagarakrethabhumi Sarga III dan IV disebutkan, Syaikh Hasanuddin putra Syaikh Yusuf Siddhiq asal negeri Campa yang datang ke Jawa dengan menumpang kapal Laksamana Cheng Ho. Syaikh Yusuf Siddhiq atau Raden Yusuf Siddhiq merupakan adipati Sedayu–Gresik putra Sayyid Ali Murtadlo atau yang lebih terkenal dengan sebutan Raja Pandita Bima.[2] Sayyid Ali Murtadlo adalah saudara kandung dari Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel), mereka berdua putra Syaikh Ibrahim As-Samarkandi yang jenazahnya dimakamkan di Gesikharjo Tuban. Kedua bersaudara ini datang ke Jawa dari Campa bersama dengan saudara sepupu mereka, Raden Abu Hurairoh[3] atau Sunan Kapasan―seorang penyebar agama Islam yang makamnya berada di Jl. Kampung Seng Surabaya.

Menurut KH Bisri Musthofa dalam Tarikhul Auliya, Sayyid Ali Murtadlo menikah dengan Dewi Maduretno putri dari Arya Baribin (Adipati Sumenep). Ia dikaruniai tiga putra,

  1. Raden Haji Usman (Sunan Manyuran)
  2. Raden Usman Haji (Sunan Ngudung)
  3. Nyai Gedhe Tunda[4]

Sejarawan Lesbumi, Agus Sunyoto, dari berbagai sumber lainnya berpendapat bahwa Sayyid Ali Murtadlo memiliki istri lain yang kemudian menurunkan,

  1. Raden Zaenal Abidin (Adipati Gresik)
  2. Raden Usman (Kepala Negeri Tengah Tengah, Kailolo)
  3. Raden Ali Fada’ (guru suci di Bima, NTB)
  4. Raden Yusuf Shiddiq.[5]

 

jika silsilah diatas benar, maka dapat ditarik kesimpulan bahwasa Syaikh Hasanuddin Quro termasuk keturunan Nabi Muhammad. Jika di tarik keatas, akan menghasilkan genealogi berikut, Syaikh Hassanudin Quro putra Syaikh Yusuf Siddhiq bin Syaikh Ibrahim As-Samarkandi bin Jamaluddin Al Husain (Syaikh Jumadil Kubro) bin Amir Ahmad Syah Jalal bin Amir Abdulah Khan bin Abdul Malik bin Ali Amul Al-Faqih bin Muhammad Sohib Mirbath bin Ali Khali’ Qosam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa bin Sayyid Muhammad An Naqib bin Ali Al Uraidli bin Imam Ja’far Shodiq bin Muhammad Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Hussain bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Saw.[6]

Menurut sumber tertulis, pada 1409 M, usai Syaikh Quro berdakwah di Campa dan kemudian berpindah di Malaka―ia meneruskan perjalanan dakwahnya ke Jawa. Di Jawa ia menuju di daerah pantai utara Jawa, yakni Martapura, Pasambangan, dan Japura. Lantas Syaikh Quro meneruskan perjalanannya ke Pelabuhan Muara Jati, Cirebon pada 1338 saka atau 1416. Ketika sampai di Cirebon, Syaikh Quro menjalin hubungan yang baik dengan penguasa setempat. Penguasa yang dimaksud adalah mangkubumi Singhapura, Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati, adik bungsu dari Maharaja Galuh, Prabu Anggalarang bergelar Prabu Dewa Niskala putra Maharaja Pajajaran Prabu Niskala Wastu Kencana.[7] Ki Gedeng Tapa mempunyai kakak kandung bernama Ki Gedeng Sindangkasih, penguasa kabupaten Singdangkasih dan Surawijaya Sakti yang mempunyai pengaruh cukup besar di tatar Pasundan. Kedatangan Syaikh Quro di Muara Jati disambut baik oleh masyarakat sekitar, hingga banyak warga yang berbondong-bondong belajar agama Islam kepadanya. Karena hubungan yang baik tersebut, Ki Gedeng Tapa sampai berkenan menyuruh putrinya―Nyai Subanglarang―untuk belajar agama kepada Syaikh Quro. Karena jasa Syaikh Quro dalam menyebarkan Islam di Cirebon hingga Kerawang, ia diberi gelar  dan dikenal dengan nama Syaikh Mursyahadatillah.

Namun tidak selamanya kegiatan dakwah Syaikh Quro berjalan baik. Ada saja ganjalan, sebagai bentuk ujian Allah terhadap hambaya yang meniti jalan dakwah. Prabu Anggalarang yang memerintah Pajajaran pada 1371–1474, tidak berkenan dengan kegiatan dakwah Syaikh Quro. Ia lantas menyuruh Syaikh Quro hengkang. Hal ini mengakibatkan Syaikh Quro meninggalkan Muara Jati dan kembali ke Campa. Dalam naskah Purwaka Caruban Nagari diceritakan, sebelum meninggalkan Jawa, Syaikh Quro sempat berkata, semacam kutukan, kepada Prabu Anggalarang bahwa kelak keturunan Sang Prabu akan menyebarkan Islam di tanah Pasundan, dan ucapan ini terbukti. Karena telah lama simpatik dengan kepribadian dan keilmuan Syaikh Quro, Ki Gedeng Tapa menitipkan anaknya, Nyi Subanglarang agar terus dapat belajar ilmu agama kepadanya.

Beberapa tahun kemudian, Syaikh Quro kembali ke tanah Pajajaran dengan menumpang kapal Laksamana Cheng Ho yang datang ke Jawa atas perintah Kaisar Cheng Tu/Yung Lo dari dinasti Ming untuk menjalin hubungan dengan syahbandar Cirebon. Kali ini, Laksamana Cheng Ho membawa pasukan sebanyak 27.800 orang. Kedatangan Syaikh Quro diringi beberapa pengikut―selain Nyai Subanglarang, terdapat nama Syaikh Abdurrahman, Syaikh Maulana Madzkur, dan Syaikh Abdillah Dargom atau Darugem. Nama terakhir ini kemudian dikenal sebagai Juragan Bentong bin Jabir Mudofah atau Syaikh Bentong―yang menurut beberapa literatur merupakan putra Syaikh Quro sendiri. Terbukti dengan keberadaan makam Syaikh Bentong yang tidak jauh dari makam Syaikh Quro.

Menurut buku Sejarah Jawa Barat karya Yoseph Iskandar, Syekh Quro tiba di Karawang sekitar tahun 1416 M. Semantara ada juga pendapat mengatakan tahun 1418 M. Dipilihnya Kerawang sebagai tempat dakwah bukan tanpa alasan. Sejak dahulu, Kerawang merupakan daerah penting di tatar Sunda. Karawang pada waktu itu merupakan daerah rawa-rawa. Sesuai dengan kata Kerawang yang berasal dari bahasa Sunda, ‘Ka-Rawa-an’ yang artinya daerah berawa. Selain Kerawang merupakan pelabuhan penting di Kerajaan Pajajaran, ia merupakan jalur utama, persimpangan jalan dari ibukota Pakuan Pajajaran ke Kawali hingga Galuh Pakuan. Selain itu, dalam Atlas Walisongo, Agus Sunyoto, mengutip pendapat Moh. Amir Sutarga yang mengatakan, bahwa jalur darat Kerawang menjadi penghubung utama ibukota Pakuan Pajajaran dengan Cileungsi atau Cibarusah, Warunggede, Tanjungpura, Karawang, Cikao, Purwakarta, Sagalaherang, Rajagaluh, Talaga, Kawali, hingga ke pusat Kerajaan Galuh Pakuan di sekitar Ciamis dan Bojong Galuh. Karena posisi Kerawang yang demikian strategis, tidak mengherankan jika kegiatan dakwah Syaikh Quro sempat membuat Prabu Anggalarang resah dan kemudian menyuruhnya meninggalkan Pajajaran.

Syaikh Quro berikut pengiringnya, mendarat di Kerawang. Karena mendapat simpatik dari masyarakat dan penguasa setempat, pada tahun 1418 Syaikh Quro di izinkan untuk mendirikan tajug (mushola) sebagai sarana ibadah dan belajar mengajar. Kelak, tajug tersebut menjadi cikal bakal berdirinya Masjid Agung Kerawang. Lantas Syaikh Quro mendirikan pesantren di Tanjungpura, tepatnya pada tahun 1417, setahun pasca kunjungan Laksamana Cheng Ho ke-5. Di Kerawang, Syaikh Quro diambil menantu oleh Ki Gedeng Kerawang dengan menikahi putrinya, Nyai Retno Parwati. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai seorang putra bernama Syaikh Ahmad―kelak ia sebagai penerus Pesantren Quro sekaligus naib (penghulu) pertama di Karawang. Jika informasi ini benar, bisa jadi Syaikh Bentong adalah anak Syaikh Quro dari istrinya yang lain―mungkin dari Malaka atau Campa. Syaikh Ahmad mempunyai putri bernama Nyi Mas Kedaton, Nyi Mas kemudian mempunyai putra bernama Musanudin, lebai di Cirebon Imam Tajug Sang Ciptarsa pada era pemerintahan Susuhunan Gunung Jati.

Kedatangan Syaikh Quro di Kerawang terdengar sampai ke telinga Prabu Anggalarang di Pura Pajajaran. Maka Sang Prabu mengutus beberapa pasukan yang dipimpin putra mahkota, Raden Pamanah Rasa untuk menutup pesantren Syaikh Quro. Ketika pasukan Pajajaran sampai di Kerawang, Raden Pamanah Rasa dikejutkan dengan suara merdu Nyai Subanglarang yang tengah membaca Al-Quran. Apalagi, secara fisik, Nyi Subanglarang adalah wanita yang berparas cantik. Kecantikan murid Syaikh Quro tersebut telah digambarkan oleh KH. Said Aqil Siradj dengan kata “Kutilang”―akronim dari kurus, tinggi dan langsing. Lantas Raden Pamanah Rasa mengurungkan niatnya menutup pesantren, ia malah menyatakan keinginannya untuk meminang Nyai Subanglarang menjadi istri. Pun Nyai Subanglarang berkenan. Ia meminta syarat sebagai emas kawin yaitu “Bintang Saketi Jejer Seratus” yang bermakna seratus untai biji tasbih. Maka, terpaksa Raden Pamanah Rasa harus masuk agama Islam. Selain itu, Nyai Subanglarang juga meminta kelak keturunannya menjadi raja di tPajajaran. Alhasil, kejadian berubah 180º,  bukan pesantren Syaikh Quro yang tutup, melainkan Raden Pamanah Rasa yang masuk Islam dan menikahi Nyai Subanglarang. Kelak Raden Pamanah Rasa menjadi raja Pajajaran bergelar Prabu Siliwangi. Dari pernikahan ini lahirlah tiga anak,

  1. Raden Walangsungsang (Sri Mangana) bergelelar Pangeran Cakrabuana penguasa Caruban Nagari. Lahir pada tahun 1423 M.
  2. Nyai Mas Rara Santang (ibunda Sunan Gunung Jati) menikah dengan Syarif Abdullah dari Mesir.Lahir pada tahun 1426 M.
  3. Prabu Sangara (Raden Kian Santang). Lahir pada tahun 1428 M.

Menjelang tua, Syaikh Quro kerap menyepi di Dusun Pulobata, Desa Pulokelapa, Kecamatan Lemah Abang, Kerawang yang sekarang menjadi menjadi makamnya. Terdapat keterangan menarik terkait makam beliau, menurut salah satu imam masjid Agung Kerawang, makam Sayikh Quro berada didepan Masjid Agung yang sekarang tertutupi tembok. Ini dilakukan karena Syaikh Quro tidak berkenan diziarahi. Akan tetapi menurut versi umum, makamnya berada di Pulobata sebagaimana disebutkan dalam buku Ikhthisar Sejarah Singkat Syekh Qurrotul’ain karya Jojo Sukmadilaga.

Makam Syaikh Quro dan Syaikh Bentong di Pulokalapa ditemukan R. Somaredja alias Ayah Djin dan Syaikh Tollhah pada 1859 atas perintah dari Kasultanan Cirebon. Hal ini diperkuat dengan surat pernyataan dari putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII nomor P-062/B/PMPJA/XII/I/1992 tertanggal 5 nopember 1992 yang ditujukan kepada Kepala Desa Pulokalapa. Surat itu dikeluarkan saat Sunan Kanoman berziarah ke makam Syaikh Quro di Pulokalapa. Sedangkan menurut pendapat Kepala Desa Pulokalapa, E. Sutisna yang merupakan keturunan R. Somaredja, tempat yang saat ini dianggap makam Syaikh Quro di Pulobata tak lebih dari “maqom” atau petilasan bukan “makam” yang berarti kuburan. Jadi menurut pendapat ini, bisa dipastikan bahwa makam Syaikh Quro berada di Masjid Agung Kerawang.

Menurut pendapat Tjetjep Supriadi, seorang dalang terkenal di Sunda, makam Syaikh Quro berada di Gunung Sangga Buana di Kecamatan Tegalwaru, Karawang. Menurutnya, Prabu Siliwangi adalah sosok yang sangat menghormati ulama (pembesar), karena itu, ia mensemayamkan jenazah setiap pembesar (tokoh) di puncak gunung sebagai bentuk penghormatan. Sementara menurut drh R. Bambang, makam Syaikh Quro berada di Masjid Dog Jumeneng atau Masjid Sunan Gunung Jati di Cirebon. Alasan R. Bambang adalah; hubungan persahabatan antara Syaikh Datuk Kahfi dan Syaikh Quro yang sangat erat sejak perkembangan awal Islam di Jawa Barat. Karena itu, Syaikh Quro ingin kelak jenazahnya di sandingkan dengan Syaikh Datuk Kahfi.[8] Ada juga yang mengatakan bahwa makam Syaikh Quro berada di Tegalsari, kira-kira 10 km sebelah utara Kerawang. Ini berdasar, bahwa Syaikh Quro acapkali melakukan uzlah di tempat ini menjalang masa tua.

Seperti diceritakan sebelumnya, kedatangan kedua Syaikh Quro ke Kerawang membawa rombongan yang salah satunya bernama Syaikh Abdillah Dargom atau Syaikh Bentong atau Tan Go Hwat. Ia dipercaya sebagai putra dari Syaikh Quro. Namun, dalam versi lain, ia adalah murid Syaikh Quro dan masih mempunyai genealogi dengan Utsman bin Affan. Disebutkan dalam Carita Purwaka Caruban Nagari, Prabu Brawijaya V mempunyai selir dari Cina bernama Siu Ban Ci atau Retno Subanci.  Selir ini adalah putri Tan Go Hwat alias Syaikh Bentong dengan Siu Te Yo, seorang keturunan Cina dari Gresik. Dari pernikahan Prabu Brawijaya V dengan Siu Ban Ci melahirkan Jin Bun atau lebih dikenal dengan nama Raden Fattah Sultan Demak pertama.

Menurut kesaksian Tomas Pires yang pernah datang ke Jawa pada masa kebangkitan Kasultanan Demak masa Adipati Unus 1512–1514 yang ditulis dalam Suma Oriental, bahwa pendiri Dinasti Demak Pate Rodin (Raden Fattah) adalah cucu sorang masyarakat rendah di Gresik. Ini sesuai kultur masyarakat waktu itu―menempatkan penduduk pribumi sebagai orang mulia (wwang yukti) sementara penduduk asing dan keturunannya sebagai orang rendah, serajat dengan pembantu dan pelayan (wwang kilalan). Sementara jika penduduk asing tersebut tidak beragama Hindhu, maka digolongkan sebagai Mleccha, setingkat dibawah Candala dua tingkat dibawah Sudra[9].

Telah tertulis dalam buku-buku sejarah, ketika Raden Fattah masih dalam kandungan, Retno Subanci dihadiahkan kepada Aryo Damar adipati Palembang. Kelak ia juga melahirkan Raden Husain atau Raden Kusen adipati Terung. Jadi, Syaikh Bentong adalah kakek Raden Fattah dari pihak ibu. Selain seorang ulama, Syaikh Bentong berprofesi sebagai saudagar di Gresik dengan sebutan Juragan Bantong. Dalam kegiatan dakwahnya, Syaikh Bentong menulis beberapa karangan terkait dengan pranata mangsa dan dongeng Campa. Diantara karangan yang dinisbatkan kepadanya adalah: Primbon Palintangan, Primbon Mujarobat, Doa Dzulfaqor, Mantra Tulak Bala, Kitab Ayat Lima Belas, Kitab Ayat Pitu dan Pantun Sang Kodok.[10]  Adapun Syaikh Hasanuddin Quro bernah berwasiat kepada santri-santrinya : Ingsun titip langgar lan fakir miskin anak yatim dhuafa”.

 

Daftar Pustaka

Syatibi AH, Penyebar Islam di Pantai Utara Jawa: Mengungkap Peran Syaikh Quro Karawang, dalam Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 10, No. 1, 2012: 51 – 74

Qurrotul Ain. Wikipedia

Sjamsudduha. Sejarah Sunan Ampel: Guru para Wali di Jawa dan perintis pembangunan Kota Surabaya. Surabaya: Jawa Pos Press, 2004

Sunyoto, Agus. Atlas Walisongo : Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah . Depok: IIman, 2012

Sunyoto, Agus. Suluk Abdul Jalil : Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar 1. Yogyakarta: LkiS, 2007

Sunyoto, Agus. Suluk Malang Sungsang: Konflik dan Penyimpangan ajaran Syaikh Siti Jenar. Yogyakarta: LkiS, 2008

Sunyoto, Agus. Suluk Sang Pembaharu : Perjuangan dan Ajaran Syaikh Siti Jenar 3. Yogyakarta: LkiS, 2008

Suwartini, Lis, Kedatangan Syaikh Quro ke Jawa untuk berdakwah, dalam Koran Merapi edisi 16 Oktober 2021.

Syaikh Abu Fadlol bin Abdis Syakur As Senori, Ahlal Musamaroh fi Hikayati Al Auliya’ Asyaroh (Terj: Siswanto Irfan Maulana), Batu: Gulistan, 2006.

Zailani Kiki, Rahmad. Genealogi Intelektual Ulama Betawi: Melacak Jaringan Ulama Betawi dari awal Abad ke-19 sampai Abad ke 21. Jakarta: Jakarta Islamic Centre, 2011.

[1] Rakhmad Zailani Kiki,  Genealogi intelektual Ulama Betawi (Jakarta : Jakarta Islamic Centre, 2011), hlm. 32

[2] Agus Sunyoto, Suluk Malang Sungsang, Konflik dan Penyimpangan ajaran Syaikh Siti Jenar (Yogyakarta : Pustaka Sastra LKiS, 2008), hlm 158 – 159

[3]  Syaikh Abu Fadlol bin Abdis Syakur As Senori, Ahlal Musamaroh fi Hikayati Al Auliya’ Asyaroh (Terj: Siswanto Irfan Maulana) (Batu : Gulistan, 2006), hlm 14 – 18

[4]  Lihat kitab Tarikhul Auliya’ KH Bisri Mustofa penerbit Menara Kudus.

[5]  Ibid, hlm 159.

[6] Sjamsudduha, Sejarah Sunan Ampel : Guru pra wali di Jawa dan perintis pembangunan Kota Surabaya (Surabaya : Jawa Pos Press, 2004) hlm 163 – 168.

[7]  Silsilah ini jika dirunut keatas lagi adalah sebagai berikut : Prabu Niskala Wastu Kencana putra Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sunda Sang Mokteng Bubat (Maharaja yang gugur pada perang Bubat melawan armada Mahapatih Gajah Mada) putra Prabu Banyak Wangi (Sang Udubasu) putra Prabu Banyak Larang (Sang Pulanggana) putra Prabu Susuk Tunggal (Sang Haliwungan) putra Prabu Lingga Wastu (Sang Surugana) putra Prabu Lingga Wesi (Sang Halu Wesi) putra Prabu Lingga Hyang (Bhattara Hyang Purnawijaya) putra Ratu Stri Purbasari Bhattari Pertiwi

[8] AHM, Syatibi, Penyebar Islam di Pantai Utara Jawa: Mengungkap Peran Syaikh Quro Karawang dalam Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 10, No. 1, 2012: 51 – 74.

[9]  Agus Sunyoto, Atlas Walisongo, (Bandung : Imania 2012), hlm 320 – 322

[10]  Agus Sunyoto, Suluk Malang Sungsang 6, (Yogyakarta. LkiS 2008), hlm 39

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.