Permulaan Munculnya Banyak Varian Islam, Khususnya di Jawa (I)

120
Permulaan Munculnya Banyak Varian Islam, Khususnya di Jawa (I)

Oleh : Dalliya HQ. Aswaja Center NU Jabar

Pada mulanya muslim Jawa adalah homogen. Semua mengikuti fiqh madzhab Syafi’i, teologi Abu Hasan Asy’ari, dan mistiknya Imam Al Ghazali dan Abu Hasan Syadzili.

Kemudian belakangan pada tahun 1330 (hijriyah = 1912 masehi ?) baru muncul banyak varian baru yang bertentangan satu sama lain.

Iklan Layanan Masyarakat

Varian 1

Mereka tetap berpegang pada apa yang dicontohkan pendahulunya untuk mengikuti madzhab tersebut di atas. Berpegang pada kitab mu’tabaroh (terdaftar, terkonfirmasi keabsahan isinya). Mencintai Ahlul Bait, para wali, dan orang shaleh. Bertabaruk pada mereka, baik yang masih hidup ataupun sudah wafat. Berziarah kubur. Mentalqin mayit. Bersedekah untuk mayit. Meyakini adanya syafa’at dan kemanfaatan doa untuk mayit. Bertawasul dll.

Varian 2

Pengikut pendapat Muhammad Abduh¹ dan Rosyid Ridlo². Mereka mengikuti bid’ah nya Muhammad Bin Abdul Wahab³, Ahmad Ibnu Taimiyah⁴ dan kedua muridnya yaitu Ibnu Qoyyim Al Jauzy* dan Ibnu Abdil Hadi**.

Kelompok ini mengharamkan apa yang disepakati umat muslim sebagai kesunatan. Misalnya perjalanan untuk ziarah kubur Nabi Muhammad SAW.

Dalam fatwanya Ibnu Taimiyah berkata : “Seseorang yang melakukan perjalanan untuk menziarahi makam Nabi Muhammad SAW dengan keyakinan bahwa itu adalah ibadah telah melakukan keharaman yang disepakati oleh Ulama Muslim. Dan keharaman ziarah kubur adalah sesuatu yang pasti.”

Dalam Risalah Tathirul Fuad Mindanasil I’tiqad Syeikh Muhammad Bakhit Al Hanafy Al Muthi’iy berkata : “Umat muslim kuno dan sekarang mendapatkan ujian dengan kelompok ini. Mereka adalah sempalan. Seperti anggota tubuh yang membusuk dan seharusnya diamputasi agar penyakitnya tidak merembet pada anggota tubuh yang lain. Mereka memaki para Ulama’ kuno dan baru. Dan berkata : “Para ulama’ itu tidaklah maksum (terjamin suci dari dosa), tidak selayaknya mereka diikuti. Baik yang masih hidup ataupun sudah meninggal.”

Mereka terus saja memaki para ulama’ dan memanipulasi dalil dan sejarah. Kemudian menyebarkannya pada orang awam agar aib mereka tidak terlihat.

Tujuan mereka adalah menanamkan kebencian dan permusuhan. Mereka merusak dimanapun berada. Secara sengaja berbohong diatasnamakan Allah.

Mereka kira sedang menjalankan amar makruf nahi munkar. Mereka mendorong orang lain untuk menjalankan syariat dan menjauhi bid’ah. Padahal Allah tahu bahwa mereka sedang berdusta.”

Menurut pendapatku (KH. Hasyim Asy’ari) mereka adalah orang yang melakukan bid’ah dan menuruti hawa nafsu.

Dalam kitab Syifa’ ditemukan statement Qodli ‘Iyadl : Kerusakan terparah yang mereka timbulkan ada pada masalah agama. Terkadang kerusakan itu juga merambah ke urusan dunia dikarenakan kebencian dan permusuhan atas nama agama yang mereka sebarkan juga merembet pada urusan dunia.

Mulla Ali Al Qory menjelaskan bahwa Allah mengharamkan khamr dan judi karena alasan ini, yakni timbulnya kebencian dan permusuhan. Sebagaimana firman Allah
إنما يريد الشيطان أن يوقع بينكم العداوة والبغضاء في الخمر والميسر
“Syetan hanya mau menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian dengan lantaran khomr dan judi”

Sumber : Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah KH. Hasyim Asy’ari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here