Prof K.H. Anwar Musaddad : Ulama Intelektual dan Imam Rohis Mabes TNI AD

44

Suatu ketika di tahun 1956, Bung Karno naik haji. K.H. Anwar Musaddad bertindak sebagai muthawif (semacam Amirul Haj untuk masa sekarang). Ia bertugas membimbing BK menjalani rukun Islam kelima itu.

Tiba-tiba muncul peristiwa aneh. Bung Karno yang sedang thawaf mengelilingi Kakbah ditabrak seorang wanita hingga terjatuh. Beruntung, Kiai Musaddad yang ada di sampingnya segera menyambar tangan BK.

Usai keduanya tenang. Kiai Musaddad berbisik pada Bung Kamo: ‘‘Paduka, di sekeliling Kakbah penuh dengan tamsil-tamsil. ” Bung Kamo tidak langsung bisa menerima kalimat itu. “Kalau yang baru saja terjadi itu tamsilnya apa. Kiai?” tanya Bung Kamo. “Paduka perlu berhati- hati dengan wanita,” jawab Kiai Musaddad, tak peduli kedua mata Bung Kamo melotot ke arah dirinya.

Usai menjalankan ibadah haji, keduanya melakukan lawatan ke negara-negara Islam, seperti Mesir, Turki, Sudan, Aljazair, dan lain sebagainya. Di negara-negara muslim itu Bung Kamo berpidato dalam Bahasa Inggris, sedangkan Kiai Musaddad yang menerjemahkannya ke dalam Bahasa Arab. Ketika shalat Jumat di masjid kampus Al-Azhar, Mesir, Kiai Musaddad didaulat menjadi khatib. Sementara Bung Kamo dan Jamal Abdul Naser sebagai mustami’in.

Lahir di Garut 3 April 1909.

Pendidikan: Menamatkan pendidikan di Volk School tahun 1922. Melanjutkan ke MULO (setingkat SMP) Kristelijk di Garut, lalu ke AMS (Setingkat SMA) Kristelijk di Sukabumi. Setelah menamatkan pendidikan di sekolah Katolik tersebut, ia melanjutkan ke Pesantren Darussalam Wanaraja, Garut. Setelah dua tahun di sana, ia berangkat ke Tanah Suci dan belajar di Madrasah Al-Falah Makkah selama 11 tahun. Tamat AMS ia sudah mahir berbahasa Inggris, Belanda dan Jerman. Sedangkan Bahasa Arab yang akan dipakai di Tanah Arab bisa dipelajarinya secara otodidak.

Di sekolah Darul Falah Makkah, selain belajar dia juga mengajar Bahasa Inggris dan Matematika. Di antara muridnya terdapat nama Muzakky Al-Yamany, yang kelak menjadi Menteri Perminyakan Saudi Arabia. Tahun 1963 menyandang gelar Profesor dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam bidang Ushuluddin.

Pengabdian: Hasil pemilu 1955 mengantarkan dirinya menjadi anggota DPR. Posisi sebagai wakil rakyat mewakili NU itu dijabat hingga tahun 1967. Menjabat Ketua PP LP Ma’arif (1957), Rais Syuriah III PBNU hasil muktamar Bandung (1974), Wakil Rais Aam PBNU hasil muktamar Semarang (1979), dua kali menempati posisi Mustasyar hasil muktamar Krapyak dan Tasikmalaya. Dalam muktamar di Kediri, ia berhalangan hadir karena usia sepuhnya.

Pengalaman lain: Sejak tahun 1953 pindah ke Yogyakarta. Ketika ibukota Republik dipindahkan ke Yogya, Kiai Musaddad menjadi Ketua Urusan Masjid se-Indonesia (semacam Dewan Masjid). Salah seorang pendiri Universitas Islam Indonesia dan PTAIN (kelak menjadi IAIN). Menjadi Dekan Fakultas Ushuluddin PTAIN hingga berganti nama menjadi IAIN Sunan Kalijaga (1963 -1967). Pindah ke Bandung menjadi Rektor IAIN Sunan Gunungjati (1967 -1974). Sejak tahun 1976 pindah ke Garut, mendirikan Pesantren Al- Musaddadiyah.

Di antara ciri khas Kiai Musaddad, setiap memberikan pengajian -di manapun— selalu menggunakan layar lebar. Ia menyebutnya sebagai “film akhirat”, yang untuk masa sekarang tidak jauh beda dengan sUde poyektor. Kiai Musaddad menggunakannya sejak tahun 1955.

Di masa tuanya, Kiai Musaddad aktif dalam Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah dan menjadi Imam Rohis (Rohani Islam) Mabes TNI AD. Posisi itu pula yang mengantarkannya banyak berhubungan dengan para pejabat tinggi negara, khususnya yang berasal dari TNI.

Kiai Anwar Musaddad wafat pada 19 Rabiutsani 1422/2000 dalam usia 91 tahun. Dimakamkan di Kompleks Pemakaman Keluarga Pondok Pesantren Musaddadiyah, Garut, Jawa Barat. Berada di sisi utara masjid lama.

Sumber : Buku Antologi NU I

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here