The news is by your side.

Refleksi 100 Tahun Nahdlatul Ulama: Antara Perayaan dan Perenungan

Ada usia yang dirayakan dengan gegap gempita, ada pula usia yang seharusnya direnungi dengan sunyi. Seratus tahun Nahdlatul Ulama dalam kalender Masehi berada di antara keduanya. Ia bukan sekadar perayaan tanggal, melainkan momen jeda: menoleh ke belakang, menimbang ke depan, dan menata ulang posisi diri di tengah dunia yang terus bergerak.

Pada 31 Januari 2026, genap satu abad sejak 16 Rajab 1344 Hijriah—hari kelahiran NU—bertepatan dengan 31 Januari 1926 dalam kalender Masehi. Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyebutnya sebagai “selamatan 100 tahun Nahdlatul Ulama menurut kalender Masehi”. Istilah selamatan itu sendiri penting: ia menandai tradisi syukur, bukan pesta kemenangan; perenungan, bukan euforia.

Peluncuran logo dan tema Harlah 1 Abad NU versi Masehi—Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia—menjadi penanda bahwa NU tidak sedang menghitung umur organisasi semata, tetapi sedang membaca ulang perjalanan bangsa yang lahir hampir bersamaan dengannya.

Logo sebagai Teks Peradaban

Logo “100” yang diperkenalkan PBNU bukan ornamen visual belaka. Ia adalah teks simbolik. Angka “1” berwarna hijau berdiri sebagai fondasi: akar moral, spiritual, dan nilai-nilai yang menopang kemerdekaan. Hijau bukan sekadar warna NU, melainkan penanda kesinambungan hidup—bahwa awal perjuangan bangsa ini bertumpu pada etika, bukan sekadar kekuasaan.

Dua angka “0” berwarna emas melingkar seperti cakrawala. Ia melambangkan kejayaan dan kemuliaan, tetapi juga kesinambungan. Lingkaran tidak memiliki ujung; ia mengingatkan bahwa peradaban bukan proyek selesai, melainkan proses yang terus berulang—dievaluasi, diperbaiki, dan diperbarui.

Dalam desain yang membulat dan solid itu, tersirat pesan yang jarang diucapkan secara eksplisit: satu abad bukanlah puncak, melainkan ambang.

Dari Merawat Jagat ke Mengawal Kemerdekaan

Tema Harlah ini bukan muncul tiba-tiba. Gus Yahya menegaskan bahwa ia merupakan kelanjutan dari visi besar NU: Membangun Peradaban. Sebelumnya, NU mengusung tagline Merawat Jagat Membangun Peradaban—sebuah frasa yang menempatkan NU bukan hanya sebagai organisasi keagamaan nasional, tetapi sebagai aktor moral global.

“Mengawal Indonesia Merdeka” berarti menjaga agar kemerdekaan tidak sekadar menjadi status politik, melainkan ruang etis: tempat keadilan, martabat, dan kemanusiaan terus diperjuangkan. Sementara “Menuju Peradaban Mulia” menggeser orientasi dari kekuasaan ke kualitas hidup, dari dominasi ke keberadaban.

Di titik ini, NU tidak berbicara hanya kepada warganya, atau bahkan hanya kepada bangsa Indonesia, tetapi kepada dunia yang tengah kelelahan oleh konflik, ketimpangan, dan krisis makna.

GBK dan Kesadaran Massa

Rencana penyelenggaraan Harlah 1 Abad NU Masehi di Stadion Utama Gelora Bung Karno adalah simbol lain yang layak dibaca. GBK bukan sekadar ruang fisik; ia adalah ruang memori kolektif bangsa. Di sanalah massa berkumpul, sejarah dicatat, dan identitas nasional dirayakan.

Namun Gus Yahya dengan sadar memberi jarak: peringatan ini tidak harus sebesar 1 Abad NU versi Hijriah di Sidoarjo. Pernyataan ini penting. Ia menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan perayaan tidak diukur dari jumlah massa, melainkan dari kedalaman makna.

Road Map 2052: Melampaui Perayaan

Yang paling menentukan dari rangkaian Harlah ini justru bukan seremoni, melainkan kerja sunyi yang sedang disiapkan: Road Map NU 2052. Dokumen ini akan diuji secara publik, ditelaah oleh para pakar, intelektual, dan ulama, sebelum dibawa ke Munas, Konbes, hingga Muktamar ke-35.

Di sinilah NU memperlakukan usia seratus tahun sebagai titik tolak, bukan garis akhir. Road Map ini menandai kesadaran bahwa peradaban tidak dibangun dengan slogan, melainkan dengan perencanaan jangka panjang—lintas generasi.

Bersamaan dengan itu, PBNU juga menjajaki pembentukan pusat jaringan keuangan syariah global yang dipusatkan di Indonesia. Dari Timur Tengah hingga Asia dan Barat, NU mencoba menempatkan diri bukan hanya sebagai otoritas moral, tetapi juga sebagai simpul ekonomi global yang beretika.

Menjadi Tua Tanpa Menjadi Usang

Satu abad adalah usia yang rawan. Ia bisa menjadi matang, atau justru membatu. NU tampaknya memilih jalan pertama: menua tanpa menjadi usang, besar tanpa kehilangan arah.

Pada akhirnya, pesan Gus Yahya kembali sederhana dan klasik: persatuan. “Tidak ada pilihan untuk menjadi barisan perjuangan yang kuat selain kita harus bersatu.” Kalimat ini terdengar klise, tetapi justru di situlah bobotnya—ia diucapkan bukan di awal perjalanan, melainkan setelah seratus tahun dilewati.

Harlah 1 Abad NU versi Masehi, dengan segala simbol dan rencananya, adalah ajakan untuk berhenti sejenak di selasar sejarah: mengamati apa yang telah dicapai, menimbang apa yang belum selesai, dan bertanya dengan jujur—ke mana peradaban ini hendak dibawa.

————

Sumber : https://selasar.me/refleksi-100-tahun-nahdlatul-ulama-antara-perayaan-dan-perenungan/

Ikuti artikel terbaru selasar.me dengan menggunakan aplikasi feed reader. Cara installnya klik di sini.

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.