Resolusi Jihad NU dan Ramalan Jayabaya

23

Beberapa hari setelah Fatwa Jihad fi Sabilillah dan Resolusi Jihad NU dikumandangkan Hoofd Bestuur Nadlatoel Oelama atau sekarang disebut Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945, rakyat Surabaya beserta pemimpin pemimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Hizbullah dan kelaskaran-kelaskaran lain, terlihat mengatur persiapan tersendiri dalam usaha menyambut rencana pendaratan pasukan Sekutu di Surabaya. Sebagian besar usaha penyambutan itu di luar perkiraan pemerintah RI di Jakarta.

Menurut KH Agus Sunyoto pada buku Fatwa dan Resolusi Jihad; Sejarah Perang Rakyat Semesta di Surabaya, 10 November 1945, rakyat dan anggota kelaskaran di Surabaya melakukan latihan menembak menggunakan aneka jenis senjata. Mereka yang berlatih tidak hanya pemuda-pemuda kampung sekitar markas TKR, melainkan diikuti pula pemuda-pemuda dari kampung-kampung yang jauh dari markas TKR seperti kampung Kranggan, Blaoeran, Kebangsren, Kedoengdoro, Kedoengroekem, Genteng, Goebeng, Kepoetran, Dinojo, dan bahkan Wonokromo. Sementara tiap sore sampai malam, beratus-ratus pemuda dari Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto, Gresik, Malang berkumpul di Pesantren-pesantren, terutama Pesantren Ngelom, Sepanjang, untuk menerima gemblengan dari KH Hamzah Ismail, keluarga KH Abbas, Boentet, Cirebon. (Zuhri, 1987; Haidar, 1998; Anam, 1999; Bizawie, 2014; K.M.Soelchan, 1 1-10-1989; Moeljadi, 5-11-1988).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here