The news is by your side.

Semar: Dewa Syangyang yang Memilih Menjadi Rakyat Jelata

H.Wahyu Iryana – Dalam jagat pewayangan, ada satu tokoh yang tak pernah absen hadir sebagai pengiring para kesatria utama. Ia bukan raja, bukan satria, bukan pula pendeta agung. Tubuhnya tambun, hidung pesek, bibir monyong, selalu mengenakan kain poleng dan berjalan membungkuk. Namanya Semar.

Tapi siapa sangka, di balik tubuh renta dan guyonan yang seolah remeh-temeh, Semar sejatinya adalah Sang Hyang Ismaya, saudara Sang Hyang Manikmaya (Batara Guru), penguasa kahyangan. Ia bukan tokoh sembarangan, ia dewa yang memilih turun ke bumi. Dan ketika ditawari tahta langit, ia justru memilih menjadi rakyat biasa. Seperti petani di lereng gunung. Seperti rakyat kecil di negeri yang sabarnya diuji bertubi-tubi.

Ketika Dewa Tak Butuh Tahta

Dalam naskah-naskah tua, dikisahkan bahwa Sang Hyang Ismaya awalnya adalah makhluk langit, anak Sang Hyang Tunggal, bersama saudara-saudaranya: Sang Hyang Manikmaya dan Sang Hyang Antaga. Namun, karena keserakahan Batara Guru, mereka bertiga bertengkar hebat, hingga Sang Hyang Tunggal marah besar. Sebagai bentuk mengalah, Ismaya diturunkan ke dunia dengan menyamar berganti wujud rupa yang aneh: perut buncit, hidung pesek, dan wajah jenaka.

Tapi justru di bumi itulah Ismaya menemukan makna sejati: ia menjelma menjadi Semar, punakawan yang tak pernah merebut kekuasaan, hanya memberi wejangan. Ia tak duduk di singgasana, tapi hadir di belakang para ksatria, menjaga mereka agar tidak serakah, tidak lupa diri, tidak lupa rakyat.

Bayangkan, seorang dewa yang bisa saja hidup kekal di kahyangan, penuh pesta dan harum bunga Mandalika malah rela hidup sebagai pengasuh para manusia. Bukankah ini ironi sekaligus hikmah? Dalam dunia yang sering kali memburu kekuasaan, Semar menjadi antitesis dari ambisi itu. Ia adalah alegori kebijaksanaan tanpa pamrih.

Punakawan: Rakyat Bersuara

Jika dalam drama Eropa klasik ada badut istana yang bisa berkata jujur meski berselimut lelucon, maka dalam dunia pewayangan, Semar dan para punakawan Gareng, Petruk, Bagong adalah suara nurani rakyat. Di tengah kisah perang dan intrik para bangsawan Pandawa dan Kurawa, justru para punakawanlah yang menyisipkan kebijaksanaan, kritik sosial, bahkan sindiran politik.

Semar bisa berkata kepada Arjuna: “Jangan terlalu bersih, lele tak sudi mendekat.” Atau kepada Yudistira: “Keadilanmu hanya adil buat orang sepertimu.” Ucapan-ucapan itu adalah tamparan halus dari rakyat jelata yang lelah ditipu janji mulia para pemimpin.

Dalam konteks kekinian, Semar adalah suara buruh pabrik yang tak digaji layak. Ia adalah petani yang kehilangan sawah karena tambang emas. Ia adalah ibu-ibu di desa yang harus memilih antara bayar listrik atau beli beras. Suaranya kadang tak terdengar, tapi selalu ada lewat lelucon, lewat sindiran, lewat doa-doa lirih yang tak pernah masuk survei politik.

Mengapa Semar Selalu Menangis?

Ada satu adegan dalam pentas wayang yang kerap membuat saya termenung. Saat perang besar, ketika bumi berdarah dan langit gelap, para kesatria kelelahan dan putus asa, Semar duduk sendirian di sudut panggung. Ia menangis.

Tangis Semar bukan tangisan kekalahan. Ia menangis karena dunia sudah kehilangan arah. Karena manusia sudah lupa siapa dirinya. Karena keadilan hanya jadi narasi, bukan aksi. Tangis itu adalah tangis sang ibu yang melihat anaknya berkelahi demi warisan. Tangis sang guru yang murid-muridnya saling cakar demi jabatan.

Di dunia modern, kita butuh Semar. Di tengah pesta demokrasi yang penuh baliho dan uang bensin, di tengah debat publik yang penuh ejekan, di tengah gegap gempita proyek pembangunan yang menyingkirkan pohon dan manusia, kita butuh tokoh seperti Semar. Tokoh yang diam-diam menanamkan nilai, bukan sekadar narasi. Tokoh yang tak haus panggung, tapi menyiram akar.

Semar dan Politik Kebudayaan

Di masa lalu, kebudayaan adalah medium kritik yang halus tapi tajam. Wayang kulit, misalnya, bukan hanya tontonan semalam suntuk, tapi juga tuntunan hidup. Melalui Semar, rakyat bisa berkata: “Kami melihat. Kami tahu. Tapi kami sabar.” Tapi kesabaran ada batasnya, dan saat batas itu dilanggar, Semar bisa menampakkan wujud aslinya: raksasa yang menyapu bersih keserakahan.

Semar bukan hanya mitos. Ia adalah cermin. Cermin yang memantulkan wajah bangsa. Ketika pemimpin tak lagi bisa menahan diri, Semar hadir. Ketika rakyat hanya dianggap angka statistik, Semar bicara. Dan ketika negara hanya jadi panggung proyek, Semar menertawakan semuanya dengan tawa yang getir.

Kita boleh membangun jembatan, gedung pencakar langit, atau ibu kota baru. Tapi kalau lupa membangun nurani, maka negeri ini hanya panggung wayang yang kehilangan dalangnya.

Menjadi Semar di Tengah Dunia yang Bising

Mungkin kita tidak bisa menjadi dewa. Tapi kita bisa menjadi Semar. Menjadi pribadi yang bijak, rendah hati, dan tidak silau kekuasaan. Menjadi mereka yang di belakang panggung, tapi menjaga agar lakon tidak menyimpang. Menjadi suara jernih di tengah kebisingan dunia.

Menjadi Semar bukan soal kostum atau gelar. Tapi soal sikap. Sikap yang menolak rakus, menolak angkuh, menolak jadi budak uang. Semar tak pernah mengejar kuasa, karena ia tahu: kuasa yang benar tak perlu dikejar. Ia datang sendiri, pada yang layak.

Maka mari kita belajar dari Semar. Dari air matanya yang jernih. Dari tawa getirnya. Dari jalannya yang membungkuk, tapi tegak dalam nilai.

Sebab, siapa tahu, di antara rakyat yang kini terpinggirkan, ada Semar yang sedang menyeka air mata. Dan di antara kita yang sedang berteriak soal perubahan, justru Semarlah yang paling diam karena ia sudah tahu ke mana arah angin.
Namun perlu dicatat pula bahwa tokoh panakawan Semar diciptakan dalam wayang gubahan Sunan Kalijaga yang mereduksi kisah Mahabarata dan Ramayana dari negeri India.

H.Wahyu Iryana Merupakan Sejarawan UIN Raden Intan Lampung.

— — —

 

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.