Syekh Junaid Al Baghdadi, Imam Tasawuf Nahdlatul Ulama

491

NU mengikuti Imam Asyari dan Imam Maturidi dari sisi aqidah, imam empat mazhab dari sisi fiqih, dan Imam Junaid Al-Baghdadi serta Imam Al-Ghazali dari segi tasawuf. Kenapa para kiai mengangkat nama Imam Junaid Al-Baghdadi? Apakah karena ia bergelar sayyidut thaifah di zamannya, pemimpin kaum sufi yang ucapannya diterima oleh semua kalangan masyarakat?

Junaid bin Muhammad Az-Zujjaj merupakan putra Muhammad, penjual kaca. Ia berasal dari Nahawan, lahir dan tumbuh di Irak. Junaid seorang ahli fikih dan berfatwa berdasarkan mazhab fikih Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i.

Junaid berguru kepada As-Sarri As-Saqthi, pamannya sendiri, Al-Harits Al-Muhasibi, dan Muhammad bin Ali Al-Qashshab. Junaid adalah salah seorang imam besar dan salah seorang imam terkemuka dalam bidang tasawuf. Ia juga memiliki sejumlah karamah luar biasa. Ucapannya diterima banyak kalangan. Ia wafat pada Sabtu, 297 H. Makamnya terkenal di Baghdad dan diziarahi oleh masyarakat umum dan orang-orang istimewa.

Syekh Ibrahim Al-Laqqani dalam Jauharatut Tauhid menyebut Imam Malik dan Imam Junaid Al-Baghdadi sebagai pembimbing dan panutan umat Islam.

ﻭﻣﺎﻟﻚ ﻭﺳﺎﺋﺮ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﻭﻛﺬﺍ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﻫﺪﺍﺓ ﺍﻷﻣﺔ
Artinya, “Imam Malik RA dan seluruh imam, begitu juga Abul Qasim adalah pembimbing umat,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Laqqani, Jauharatut Tauhid pada
Hamisy Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid , [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89).

Syekh M Nawawi Banten juga menyebutkan sejak awal Imam Junaid Al-Baghdadi sebagai panutan umat dari sisi tasawuf. Menurutnya, Imam Junaid Al-Baghdadi layak menjadi pembimbing umat dari sisi tasawuf karena kapasitas ilmu dan amalnya.
ﻭﻳﺠﺐ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺫﻛﺮ ﺃﻥ ﻳﻘﻠﺪ ﻓﻲ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﺘﺼﻮﻑ ﺇﻣﺎﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﺘﺼﻮﻑ ﻛﺎﻟﺠﻨﻴﺪ ﻭﻫﻮ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﺍﻟﺠﻨﻴﺪ ﺳﻴﺪ ﺍﻟﺼﻮﻓﻴﺔ ﻋﻠﻤﺎ ﻭﻋﻤﻼ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﺍﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻥ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻫﺪﺍﺓ ﺍﻷﻣﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﻭﻉ ﻭﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻷﺷﻌﺮﻱ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻫﺪﺍﺓ ﺍﻷﻣﺔ ﻓﻲ ﺍﻷﺻﻮﻝ ﻭﺍﻟﺠﻨﻴﺪ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻫﺪﺍﺓ ﺍﻷﻣﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺼﻮﻑ ﻓﺠﺰﺍﻫﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮﺍ ﻭﻧﻔﻌﻨﺎ ﺑﻬﻢ ﺁﻣﻴﻦ
Artinya, “Ulama yang disebutkan itu wajib diikuti sebagaimam perihal ilmu tasawuf seperti Imam Junaid, yaitu Sa’id bin Muhammad, Abul Qasim Al-Junaid, pemimpin para sufi dari sisi ilmu dan amal. Walhasil, Imam Syafi’i dan fuqaha lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang fiqih, Imam Asy’ari dan mutakallimin lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang aqidah, dan Imam Junaid dan sufi lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang tasawuf. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kita atas ilmu dan amal mereka. Amiiin,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, [Bandung, Al-Maarif: tanpa catatan tahun], halaman 7).

Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Syekh M Ibrahim Al-Baijuri. Menurutnya, jalan terang dan keistiqamahan Imam Junaid Al-Baghdadi di jalan hidayah patut menjadi teladan. Ilmu dan amalnya dalam bidang tasawuf membuat Imam Junaid layak menjadi pedoman.

ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻛﺬﺍ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﻛﺬﺍ ﺧﺒﺮ ﻣﻘﺪﻡ ﻭﺃﺑﻮ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﻣﺒﺘﺪﺃ ﻣﺆﺧﺮ ﺃﻱ ﻣﺜﻞ ﻣﻦ ﺫﻛﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻬﺪﺍﻳﺔ ﻭﺍﺳﺘﻘﺎﻣﺔ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﺍﻟﺠﻨﻴﺪ ﺳﻴﺪ ﺍﻟﻄﺎﺋﻔﺔ ﻋﻠﻤﺎ ﻭﻋﻤﻼ ﻭﻟﻌﻞ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﺭﺃﻯ ﺷﻬﺮﺗﻪ ﺑﻬﺬﻩ ﺍﻟﻜﻨﻴﺔ ﻭﻟﻮ ﻗﺎﻝ ﺟﻨﻴﺪﻫﻢ ﺃﻳﻀﺎ ﻫﺪﺍﺓ ﺍﻷﻣﺔ ﻟﻜﺎﻥ ﺃﻭﺿﺢ
Artinya, “Perihal perkataan ‘Demikian juga Abul Qasim’, ‘demikian juga’ adalah khabar muqaddam atau predikat yang didahulukan. ‘Abul Qasim’ adalah mubtada muakhkhar atau subjek yang diakhirkan. Maksudnya, seperti ulama yang sudah tersebut perihal hidayah dan keistiqamahan jalan adalah Abul Qasim, Junaid, pemimpin kelompok sufi baik dari sisi ilmu maupun amal. Bisa jadi penulis memandang popularitas Junaid melalui gelarnya. Kalau penulis mengatakan, ‘Junaid juga pembimbing umat’, tentu lebih klir,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid , [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89).

Meskipun sebagai seorang imam sufi di zamannya, Junaid Al-Baghdadi tidak meminggirkan sisi fiqih dalam kesehariannya. Artinya, ia cukup proporsional dalam menempatkan aspek fiqih (lahiriyah) dan aspek tasawuf (batiniyah) di saat kedua aspek ini bersitegang dan tidak berada pada titik temu yang harmonis di zamannya.

Di zamannya, banyak ulama terjebak secara fanatik di satu kutub yang sangat ekstrem, yang faqih dan yang sufi. Banyak ulama mengambil aspek fikih dalam syariat Islam, tetapi menyampingkan aspek tasawuf dalam syariat. Sebaliknya pun terjadi, banyak ulama mengambil jalan sufistik, tetapi menyampingkan aspek fiqih dalam syariat.

Junaid sendiri bahkan ahli fiqih. Ia juga seorang mufti yang mengeluarkan fatwa berdasarkan mazhab Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i. Baginya, jalan menuju Allah tidak dapat ditempuh kecuali oleh mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah SAW sebagai keterangan Al-Baijuri berikut ini.

ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻟﺠﻨﻴﺪ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺬﻫﺐ ﺃﺑﻲ ﺛﻮﺭ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻓﺈﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻣﺠﺘﻬﺪﺍ ﺍﺟﺘﻬﺎﺩﺍ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻛﺎﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﻣﻦ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﺠﻨﻴﺪ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺴﺪﻭﺩ ﻋﻠﻰ ﺧﻠﻘﻪ ﺇﻻ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻘﺘﻔﻴﻦ ﺁﺛﺎﺭ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻣﻦ ﻛﻼﻣﻪ ﺃﻳﻀﺎ ﻟﻮ ﺃﻗﺒﻞ ﺻﺎﺩﻕ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻟﻒ ﺃﻟﻒ ﺳﻨﺔ ﺛﻢ ﺃﻋﺮﺽ ﻋﻨﻪ ﻟﺤﻈﺔ ﻛﺎﻥ ﻣﺎ ﻓﺎﺗﻪ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻤﺎ ﻧﺎﻟﻪ ﻭﻣﻦ ﻛﻼﻣﻪ ﺃﻳﻀﺎ ﺇﻥ ﺑﺪﺕ ﺫﺭﺓ ﻣﻦ ﻋﻴﻦ ﺍﻟﻜﺮﻡ ﻭﺍﻟﺠﻮﺩ ﺃﻟﺤﻘﺖ ﺍﻟﻤﺴﻴﺊ ﺑﺎﻟﻤﺤﺴﻦ
Artinya, “Imam Junaid dari sisi fiqih mengikuti Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i. Abu Tsaur juga seorang mujtahid mutlak seperti Imam Ahmad. Salah satu ucapan Imam Al-Junaid adalah, ‘Jalan menuju Allah tertutup bagi makhluk-Nya kecuali bagi mereka yang mengikuti jejak Rasulullah SAW,’ ‘Kalau ada seorang dengan keimanan sejati yang beribadah ribuan tahun, lalu berpaling dari-Nya sebentar saja, niscaya apa yang luput baginya lebih banyak daripada apa yang didapatkannya,’ dan ‘Bila tumbuh bibit kemurahan hati dan kedermawanan, maka orang jahat dapat dikategorikan dengan orang baik,’” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid , [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89-90).

Keterangan Al-Baijuri menjelaskan sikap sufisme Junaid Al-Baghdadi, yaitu tasawuf sunni. Jalan ini yang diambil oleh Junaid Al-Baghdadi karena banyak pengamal sufi di zaman itu terjebak pada kebatinan dan bid’ah yang tidak bersumber dari sunnah Rasulullah SAW. Oleh karena itu, Imam Junaid layak menjadi panutan NU dari sisi tasawuf karena tetap berpijak pada sunnah Rasulullah SAW.

ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻫﺪﺍﺓ ﺍﻷﻣﺔ ﺃﻱ ﻫﺪﺍﺓ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻫﻲ ﺧﻴﺮ ﺍﻷﻣﻢ ﺑﺸﻬﺎﺩﺓ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻛﻨﺘﻢ ﺧﻴﺮ ﺃﻣﺔ ﺃﺧﺮﺟﺖ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻓﻬﻢ ﺧﻴﺎﺭ ﺍﻟﺨﻴﺎﺭ ﻟﻜﻦ ﺑﻌﺪ ﻣﻦ ﺫﻛﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭﻣﻦ ﻣﻌﻬﻢ ﻭﺍﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻥ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻣﺎﻟﻜﺎ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻫﺬﺍﺓ ﺍﻷﻣﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﻭﻉ ﻭﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻷﺷﻌﺮﻱ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻫﺪﺍﺓ ﺍﻷﻣﺔ ﻓﻲ ﺍﻷﺻﻮﻝ ﺃﻱ ﺍﻟﻌﻘﺎﺋﺪ ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔ ﻭﺍﻟﺠﻨﻴﺪ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻫﺪﺍﺓ ﺍﻷﻣﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺼﻮﻑ ﻓﺠﺰﺍﻫﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﺎ ﺧﻴﺮﺍ ﻭﻧﻔﻌﻨﺎ ﺑﻬﻢ
Artinya, “Perkataan ‘pembimbing umat’ maksudnya adalah pembimbing umat Islam ini, umat terbaik sebagaimana kesaksian firman Allah SWT dalam Al-Qur’an ‘Kalian adalah sebaik-baik umat yang hadir di tengah umat manusia.’ Mereka para imam itu adalah orang pilihan di tengah umat terbaik tetapi derajatnya di bawah para sahabat Rasulullah dan tabi’in. walhasil, Imam Malik dan fuqaha lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang furu’ atau fiqih.

Imam Asy’ari dan mutakalimin sunni lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang ushul atau aqidah. Imam Junaid dan sufi lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang tasawuf. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kita atas ilmu dan amal mereka,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid , [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 90).

Imam Junaid juga menyayangkan sikap naif sebagian kelompok sufi yang mengabaikan realitas dan aspek lahiriyah. Menurutnya, sikap naif sekelompok sufi dengan mengabaikan sisi lahiriyah mencerminkan kondisi batinnya yang runtuh seperti kota mati tanpa bangunan.

ﻭﻛﺎﻥ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻳﻘﻮﻝ ﺇﺫﺍ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﻟﺼﻮﻓﻲ ﻳﻌﺒﺄ ﺑﻈﺎﻫﺮﻩ ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺑﺎﻃﻨﻪ ﺧﺮﺍﺏ
Artinya, “Imam Junaid RA mengatakan, ‘Bila kau melihat sufi mengabaikan lahiriyahnya, ketahuilah bahwa batin sufi itu runtuh,’” (Lihat Syekh Abdul Wahhab As-Syarani, At-Thabaqul Kubra, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 85).

Sebaliknya, ia juga menyayangkan sekelompok umat Islam yang hanya mengutamakan sisi lahiriyah melalui formalitas hukum fiqih dengan mengabaikan sisi batiniyah yang merupakan roh dari kehambaan manusia kepada Allah.

Walhasil, Imam Junaid Al-Baghdadi adalah ulama abad ke-3 H yang mempertemukan fiqih dan tasawuf di saat keduanya tidak pernah mengalami titik temu. Sikap proporsional Imam Junaid seperti ini sejalan dengan pandangan NU yang tawasuth, tawazun, dan i’tidal, yaitu dalam konteks ini mempertahankan dengan gigih syariat Islam melalui fiqih sekaligus menjiwainya dengan nilai-nilai tasawuf sehingga tidak ada penolakan terhadap salah satunya.

Wallahu a’lam .

Sumber : Facebook Irham Kholily

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here