Tiga Level Nafsu dan Tiga Kelompok Orang dalam Al-Qur’an

25

Cirebon, NU Online

Hari Raya Idul Fitri menjadi momentum penting guna menundukkan nafsu yang selama ini telah memperbudak diri. Terkait nafsu tersebut, Allah SWT membaginya ke dalam tiga bagian yang sudah difirmankan dalam Al-Qur’an.

“Al-Qur’an menggarisbawahi ada tiga nafsu yang disebutkan oleh Allah,” kata KH Adib Rofiuddin Izza, Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren, saat menyampaikan khutbah Idul Fitri di Masjid Agung Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, Rabu (5/6).

Pertama, nafsu ammarah yang termaktub dalam surat Yusuf ayat 53. Nafsu ammarah ini, kata Kiai Adib, seringkali tidak terkendali karena emosi mengalahkan akal pikiran dan syariat Allah. “Kedua, nafsu lawwamah yang tertulis dalam surat al-Qiyamah ayat 2. Nafsu yang bisa dikendalikan oleh manusia, bisa disetir oleh pengetahuan syariat yang telah dipahami oleh orang mu’min,” tandasnya.

Ketiga, lanjut Kiai Adib, nafsu mutmainnah yang terdapat dalam surat al-Fajr ayat 27-30. Orang yang memiliki nafsu ini diundang oleh malaikat bahwa ia punya ketenangan dari Allah SWT dan tergolong dalam orang-orang saleh. “Tiga tingkatan nafsu itu, terangkum dalam surat Fathir ayat 32. Dalam ayat tersebut, Allah SWT menyebut tiga kelompok manusia berdasarkan tiga nafsu tersebut,” jelasnya.

Pertama, kata Kiai Adib, orang dzolim linafsih, yakni orang yang masih memiliki nafsu ammarah. Ia mendzalimi dirinya sendiri dengan menentang aturan Allah, tidak menjalankan agama dan tidak mengerti syariat.

“Banyak orang yang tidak memahami syariat agama tapi menghukumi sesuatu, menyampaikan ceramah. Padahal isinya tidak pas dengan aturan syariat,” jelas Pengasuh Pesantren Al-Inaroh, Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat itu.

Kedua, paparnya, orang muqtashid yang memiliki nafsu lawwamah. Ia memilih lebih baik melakukan amal saleh ketimbang amal buruk. “Ilmunya bisa menahan mengendalikan diri karena ilmunya dapat bermanfaat,” ujarnya.

Kemudian ketiga, orang sabiqun bil khairat yang nafsunya sudah pada tingkatan nafsu mutmainnah. Orang yang sudah di level ini, banyak sekali melakukan kebaikan.

Sahabat Ibnu Abbas, jelas Kiai Adib, menyebut orang ketiga yang tingkatannya para nabi, wali, dan para ulama itu itu masuk surga tanpa hisab.  Sementara orang kedua, muqtashid, itu yang banyak melakukan amal saleh itu dapat masuk surga karena rahmat Allah, hisaban yasira, sedangkan orang pertama, dzolim linafsih, itu yang banyak melakukan dosa tapi masih punya iman itu masuk surga dengan syafaat Rasulullah.

Insyaallah kita semua bisa meningkat sampai sabiqun bil khairat karena sudah melalui puasa Ramadhan, sudah dibersihkan jasadnya, ruhnya, hatinya sehingga bisa masuk surga dengan tanpa dihisab. Paling tidak jadi muqtashid, masuk surga dengan hisab yang minim,” harap Kiai Adib.

Oleh karena itu, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut meminta kepada segenap jamaah agar dapat meningkatkan amal saleh, menyampaikan dan menerima maaf.

“Semoga atas berkah Allah SWT dengan datangnya Idul Fitri, puasa kita dapat diterima oleh Allah SWT dan segala kekhilafan diampuni oleh Allah sehingga ketika kita keluar dari dunia membawa iman, islam dengan husnul khatimah,” pungkasnya. (Syakir NF/Muiz)

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here