AMAN…, TERNYATA RUTE PANJI-PANJI HITAM TIDAK LEWAT INDONESIA

66

Oleh Ayik Heriansyah

Mengaitkan hadits-hadits tentang akhir zaman dengan dinamika politik global, sah-sah saja, asal jangan lupa buka gambar peta dunia, agar tahu lokasi-lokasi yang disebutkan di dalam hadits-hadits tersebut.

Ustadz-ustadz akhir zaman di negara kita, sering lupa bawa gambar peta dunia ketika menjelaskan hadits-hadits tersebut. Jamaah sedikit sulit mengaitkan penjelasan si ustadz dengan letak Indonesia. Atau si ustadz lupa kalo ada negara Indonesia di peta dunia.

Taliban yang baru berhasil merebut kembali kekuasaannya, digadang-gadang oleh ustadz akhir zaman sebagai panji-panji hitam dari Khurasan. Ciri-ciri fisiknya mirip. Ketepatan dengan lokasi Afghanistan masuk dalam kawasan Khurasan.

“Apabila keluar panji-panji hitam dari arah Khurosan tidak akan ada sesuatu apapun yang dapat menolaknya hingga (panji-panji) ditancapkan di Ilya (Baitul Makdis atau Yerusalem).” (Hadits Tirmidzi).

“Jika kamu melihat panji-panji hitam datang dari arah Khurasan maka sambutlah walaupun kamu terpaksa merangkak di atas salju. Sesungguhnya di tengah-tengah panji-panji itu ada khalifah Allah yang mendapat petunjuk”. (Hadits Ibnu Majah, Abu Nuaim dan Al Hakim).

Ahli hadits menilai hadits-hadits tentang akhir banyak yang dha’if. Sebagai orang Indonesia, saya mau memahami hadits-hadits tersebut, urgensi dan relevansinya bagi negara saya. Dalam hal ini saya tidak mau jadi Amerika pesek atau Taliban pesek. Saya ridla dengan takdir saya sebagai sebagai WNI.

Oleh sebab itu, saya selalu menggunakan perspektif keindonesiaan dalam melihat fenomena-fenomena politik umat Islam dan global. Bagi saya, sedahsyat apapun perang antar negara di dunia, menjaga kepentingan nasional Indonesia harus tetap nomor satu.

Termasuk tentang narasi akhir zaman. Apa karena sudah bosan hidup atau putus asa dengan masalah-masalah kehidupan, sehingga ingin cepat-cepat kiamat, narator akhir zaman kerap viral setiap ada gejolak politik global.

Silahkan periksa semua hadits shahih dan dha’if tentang nubuwwah akhir zaman, nama Indonesia tidak disebut-sebut. Ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan pusat dan panggung utama politik dunia Islam. Indonesia terletak di sudut tenggara dunia Islam. Kawasan yang tidak strategis bagi perang Armageddon.

Posisi geografis dan alam Indonesia lebih cocok jadi pesulukan, ketimbang medan perang. Indonesia yang aman, damai, tenang, cuaca dan suhu udara yang sedang, sangat kondusif menjadi tempat menuntut ilmu, wiridan, melakukan riyadlah, dan mujahadah melawan hawa nafsu demi mendekatkan diri kepada Allah swt.

Hadits-hadits akhir zaman menyebutkan kawasan Arab, Yaman, Syam dan Khurasan sebagai panggung utama. Di sanalah panggung utama dan pusat politik dunia Islam. Jika umat Islam di Indonesia mau terlibat, barangkali bisa mendatangi kedubes negara-negara Arab di Jakarta untuk mengajukan diri pindah kewarganegaraan. Lalu pindah dan menetap di sana. Jadilah Arab pesek di sana.

Previous articleKencleng Santri Almarhum KH.Lukmanul Hakim Menyantuni 2.100 Yatim, Piatu, Jompo dan Fakir Miskin di Tempat Terpencil
Next articleDampak PPKM Kaderisasi PMII di Pangandaran Sempat Terhambat, Solusi Justru Muncul
Penulis artikel produktif yang sering dijadikan rujukan di berbagai media massa, pemerhati pergerakkan Islam transnasional, khususnya HTI yang sempat bergabung dengannya sebelum kembali ke harakah Nahdlatul Ulama. Kini aktif sebagai anggota LTN di PCNU Kota Bandung dan LDNU PWNU Jawa Barat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here